catatan kecil

August 3, 2009

Bronkopneumonia

Filed under: med papers,Pediatri — ningrum @ 5:59 am

PENDAHULUAN

Pneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi dan setiap tahunnya menyerang sekitar 1% dari seluruh penduduk Amerika. Meskipun telah ada kemajuan dalam bidang antibiotik, pneumonia tetap merupakan penyebab kematian terbanyak keenam di Amerika Serikat. Munculnya organisme nosokomial (didapat dari rumah sakit) yang resisten terhadap antibiotik, ditemukannya organisme-oeganisme yang baru (seperti Legionella), bertambahnya jumlah pejamu yang lemah daya tahan tubuhnya dan adanya penyakit seperti AIDS semakin memperluas spektrum dan derajat kemungkinan penyebab-penyebab pneumonia, dan ini juga menjelaskan mengapa pneumonia masih merupakan masalah kesehatan yang mencolok. Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik. Pneumonia seringkali merupakan hal yang terakhir terjadi pada orang tua dan orang yang lemah akibat penyakit kronik tertentu. Pasien peminum alkohol, pasca bedah, dan penderita penyakit pernafasan kronik atau infeksi virus juga mudah terserang penyakit ini.1

Pneumonia adalah radang parenkim paru. Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada sejumlah penyebab noninfeksi yang kadang-kadang perlu dipertimbangkan. Pneumonia digolongkan atas dasar anatomi seperti pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronkopneumonia) dan pneumonia interstitialis (bronkiolitis). Tetapi, klasifikasi pneumonia infeksius atas dasar etiologi dugaan atau yang terbukti secara diagnostik atau terapeutik lebih relevan.2,3,7

Pnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pnemonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia).4

Bronkopneumonia adalah peradangan paru, biasanya dimulai di bronkioli terminalis. Bronkopneumonia adalah nama yang diberikan untuk sebuah inflamasi paru-paru yang biasanya dimulai di bronkiolus terminalis. Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat mukopurulen membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang bersebelahan. Penyakit ini seringnya bersifat sekunder, mengikuti infeksi dari saluran nafas atas, demam pada infeksi spesifik dan penyakit yang melemahkan sistem pertahanan tubuh. Pada bayi dan orang-orang yang lemah, Pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer. 5,6

DEFINISI

Pneumonia bronkopneumonia, pneumonia yang ditandai bercak-bercak infeksi pada berbagai tempat di paru. Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau bakteri dan sering terjadi pada bayi atau orang tua.8

EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) sejak 1986 sampai era 2000 an hampir 80 sampai 90 persen kematian balita akibat serangan ISPA dan pnemonia.4

Angka kejadian tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 4 tahun dan mengurang dengan meningkatnya umur. Pneumonia lobaris hampir selalu disebabkan oleh Pneumococcus, ditemukan pada orang dewasa dan anak besar, sedangkan Bronkopneumonia lebih sering dijumpai pada anak kecil dan bayi.3

Pneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi dan setiap tahunnya menyerang sekitar 1% penduduk amerika. Meskipun telah ada kemajuan dalam bidang antibiotik, pneumonia tetap sebagai penyebab terbanyak dari kematian di Amerika.1

ETIOLOGI

Penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai adalah faktor infeksi (tersering) :

-         Bakteri    : Pneumokokus, Streptokokus, Stafilokokus, Hemofilus influenza, Mycobacterium tuberculosa.

-         Virus       : Respiratory Synctitial Virus, Adenovirus, Cytomegalo virus, Virus infuenza B.

-         Jamur      : Histoplasmosis, Candida albicans, Aspergillus species dll.4

KLASIFIKASI

Menurut buku Pneumonia Komuniti, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia yang dikeluarkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003 menyebutkan tiga klasifikasi pneumonia.

  1. Berdasarkan klinis dan epidemiologis:
    1. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia).
    2. Pneumonia nosokomial, (hospital-acquired pneumonia/nosocomial pneumonia).
    3. Pneumonia aspirasi.
    4. Pneumonia pada penderita immunocompromised.
  2. Berdasarkan bakteri penyebab:
    1. Pneumonia bakteri/tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa bakteri mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka, misalnya klebsiella pada penderita alkoholik, staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza. Pneumonia Atipikal disebabkan mycoplasma, legionella, dan chalamydia.
    2. Pneumonia virus.
    3. Pneumonia jamur, sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised).
  3. Berdasarkan predileksi infeksi:
    1. Pneumonia lobaris, pneumonia yang terjadi pada satu lobus (percabangan besar dari pohon bronkus) baik kanan maupun kiri.
    2. Pneumonia bronkopneumonia, pneumonia yang ditandai bercak-bercak infeksi pada berbagai tempat di paru. Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau bakteri dan sering terjadi pada bayi atau orang tua.
    3. Pneumonia interstisial.

PATOGENESIS

Pneumococcus masuk ke dalam paru melalui jalan pernafasan secara percikan (droplet). Pneumokokus umumnya mencapai alveoli lewat percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru paling sering terkena efek gravitasi.1,3

Agen-agen mikroba yang menyebabkan Pneumonia memiliki 3 bentuk transisi primer :

  1. Aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme patogen yang telah berkolonisasi pada orofaring
  2. Inhalasi aerosol yang infeksius
  3. Penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal

Aspirasi dan inhalasi agen-agen infeksius adalah dua cara tersering yang menyebabkan pneumonia, sementara penyebaran cara hematogen lebih jarang terjadi. Akibatnya, faktor-faktor predisposisi termasuk juga berbagai defisiensi mekanisme pertahanan sistem pernafasan. Kolonisasi basilus gram negatif telah menjadi subjek penelitian akhir-akhir ini.1

Mekanisme daya tahan traktus respiratorius bagian bawah sangat efisien untuk mencegah infeksi yang terdiri dari :

  1. Susunan anatomis rongga hidung
  2. Jaringan limfoid di nasofaring
  3. Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan sekret lain yang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut
  4. Refleks batuk
  5. Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi
  6. Drainase sistem limfatis dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional
  7. Fagositosis aksi limfosit dan respon imunohumoral terutama Ig A
  8. Sekresi enzim-enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang bekerja sebagai anti mikroba yang non spesifik.

Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya.3

Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli mementuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu:1,3,7

A. Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti)

    Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstitium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.

    B. Stadium II (48 jam berikutnya)

      Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak. Stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.

      C. Stadium III (3 – 8 hari)

        Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel.

        Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.

        D. Stadium IV (7 – 12 hari)

          Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorbsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.

          GAMBARAN KLINIS

          Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39–40°C dan mungkin disertai kejang karena demam yag tinggi. Anak sangat gelisah, dispnu, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis di sekitar hidung dan mulut. Batuk biasanya tidak dijumpai di awal penyakit, anak akan mendapat batuk setelah beberapa hari, dimana pada awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi produktif.

          Pada  bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisik tergantung pada luasnya daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak dijumpai adanya kelainan. Pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronki basah gelembung halus sampai sedang.

          Bila sarang bronkopneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada perkusi terdengar suara yang meredup dan suara pernafasan pada auskultasi terdengar mengeras. Pada stadium resolusi ronki dapat terdengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya proses penyembuhan dapat terjadi antara 2-3 minggu.3

          PEMERIKSAAN LABORATORIUM

          1. Gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000 – 40.000 / mm3 dengan pergeseran ke kiri. Jumlah leukosit yang tidak meningkat berhubungan dengan infeksi virus atau mycoplasma.
          2. Nilai Hb biasanya tetap normal atau sedikit menurun.
          3. Peningkatan LED.
          4. Kultur  dahak dapat positif pada 20 – 50 % penderita yang tidak diobati. Selain kultur dahak, biakan juga dapat diambil dengan cara hapusan tenggorok (throat swab).
          5. Analisa gas darah (AGDA) menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia. Pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis meyabolik.3,7

          DIAGNOSIS

          Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik yang sesuai dengan gejala dan tanda yang diuraikan sebelumnya disertai pemeriksaan penunjang. Pada bronkopneumonia, bercak-bercak infiltrat didapati pada satu atau beberapa lobus. Foto rontgen dapat juga menunjukkan adanya komplikasi seperti pleuritis, atelektasis, abses paru, pneumotoraks atau perikarditis. Gambaran ke arah sel polimorfonuklear juga dapat dijumpai.

          Diagnosis etiologi dibuat berdasarkan pemeriksaan mikrobiologi serologi, karena pemeriksaan mikrobiologi tidak mudah dilakukan dan bila dapat dilakukan kuman penyebab tidak selalu dapat ditemukan. Oleh karena itu WHO mengajukan pedoman diagnosa dan tata laksana yang lebih sederhana. Berdasarkan pedoman tersebut pneumonia dibedakan berdasarkan :

            • Pneumonia sangat berat :

              → bila terjadi sianosis sentral dan anak tidak sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.

                • Pneumonia berat :

                  → bila dijumpai adanya retraksi, tanpa sianosis dan masih sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.

                    • Pneumonia :

                      → bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan yang cepat :

                      -         > 60 x/menit pada anak usia < 2 bulan

                      -         > 50 x/menit pada anak usia 2 bulan – 1 tahun

                      -         > 40 x/menit pada anak usia 1 – 5 tahun

                        • Bukan Pneumonia :

                          → hanya batuk tanpa adanya tanda dan gejala seperti diatas, tidak perlu dirawat dan tidak perlu diberi antibiotika.3,4

                          DIAGNOSA BANDING

                          1. Bronkiolitis
                          2. TB Paru

                          PENATALAKSANAAN

                          Sebaiknya pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tetapi hal ini tidak dapat selalu dilakukan dan memakan waktu yang cukup lama, maka dalam praktek diberikan pengobatan polifragmasi seperti penisilin diambah dengan kloramfenikol atau diberi antibiotik yang mempunyai spektrum luas seperti ampicillin. Pengobatan diteruskan sampai anak bebas demam selama 4 – 5 hari.3

                          Pengobatan dan penatalaksaannya meliputi :3,7

                          • Bed rest
                          • Anak dengan sesak nafas memerlukan cairan inta vena dan oksigen (1 – 2 l/mnt). Jenis cairan yang digunakan adalah campuran Glukosa 5% dan NaCl 0,9% ditambah larutan KCl 10 mEq/500 ml botol infus.
                          • Jumlah cairan disesuaikan dengan berat badan dan kenaikan suhu.
                          • Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit
                          • Pemberian antibiotik sesuai biakan atau berikan :
                          • Untuk kasus pneumonia community base :

                          -         Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian

                          -         Kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian

                            • Untuk kasus pneumonia hospital base :

                              -         Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian

                              -         Amikasin 10-15 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian

                              • Antipiretik : paracetamol 10-15 mg/kgBB/x beri
                              • Mukolitik : Ambroxol 1,2-1,6 mg/kgBB/2 dosis/oral
                              • Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip. Jika sesaknya berat maka pasien harus dipuasakan.

                              Tabel pemilihan antibiotika berdasarkan etiologi :3

                              Mikroorganisme
                              Streptokokus dan StafilokokusM. Pneumonia

                              H. Influenza

                              Klebsiella dan P. Aeruginosa

                              Penicilin G 50.000-100.000 unit/hari IV atauPenicilin Prokain 6.000.000 unit/hari IM atau

                              Ampicilin 100-200 mg/kgBB/hari atau

                              Ceftriakson 75-200 mg/kgBB/hari

                              Eritromisin 15 mg/kgBB/hari

                              Kloramfenikol 50-100 mg/kgBB/hari

                              Sefalosporin

                              KOMPLIKASI

                              Dengan penggunaan antibiotika, komplikasi hampir tidak pernah dijumpai. Komplikasi yang dapat dijumpai adalah empyema dan otitis media akut. Komplikasi lain seperti meningitis, perikarditis, osteomielitis, peritonitis lebih jarang dilihat.3

                              PROGNOSIS

                              Dengan pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat maka mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1%. Mortalitas bisa lebih tinggi didapatkan pada anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang terlambat untuk pengobatan.3

                              About these ads

                              37 Comments »

                              1. apakah penyakit mudah tertular?lewat apa penularanya?tks

                                Comment by aca — August 10, 2010 @ 2:15 pm | Reply

                                • ya
                                  penularannya mudah karena lewat pernafasan dan udara :)

                                  Comment by ningrum — August 16, 2010 @ 11:42 am | Reply

                                  • kan sudah dijelas krn droplet

                                    terima kasih masukannya saudara faisal

                                    Comment by Faisal Suhada — November 19, 2011 @ 9:03 am

                              2. like it :D

                                Comment by perempuan berkeurung — August 20, 2010 @ 10:37 pm | Reply

                                • me too :D

                                  Comment by ningrum — August 22, 2010 @ 7:52 pm | Reply

                              3. […] langsung masuk UGD. Tes DB, negatif. Trus diminta tes rontgen. Hasilnya : Ufal didiagnosis positif bronkopneuomonia. Googling2..oh […]

                                Pingback by Ufal sakit | a story of us — February 16, 2011 @ 10:32 am | Reply

                              4. anak saya kmrn d diaognosa terkena bronkopneumonie alhamdulilah tdk smpi d rawat,skr sdh tdk sesak lagi,tp knp msh btk pdhl obatny sdh habis trs perawatan apa selanjutny apakah bs sembuh sendiri

                                Comment by reni — March 3, 2011 @ 8:40 pm | Reply

                                • apakah anak bu reni memang sudah selesai pengobatannya? jika memang ya, berarti nantinya tinggal mengobati simptomatis saja (batuknya). jika memang sudah dinyatakan sembuh oleh dokter anak, maka insya Allah nantinya tidak akan ada masalah…

                                  Comment by ningrum — March 19, 2011 @ 9:20 am | Reply

                              5. thaks….

                                Comment by nur safitri aini — March 22, 2011 @ 1:57 pm | Reply

                              6. mau tanya, bagaimana cara penyembuhan atau perawatan setelah berobat bagi bayi yang terkena bronkopneumonia?
                                terimakasih

                                Comment by zaza — March 26, 2011 @ 3:48 pm | Reply

                                • bagi bayi yang telah sembuh, jagalah kondisi kesehatannya agar selalu fit dan sehat.. :)

                                  Comment by ningrum — August 13, 2011 @ 5:02 pm | Reply

                              7. Thanks for the article, but I can’t find the references. If you don’t mind, please add it. Thank you. :)

                                Comment by aulia — April 3, 2011 @ 4:30 pm | Reply

                                • not to be added here dude ;)

                                  Comment by ningrum — August 13, 2011 @ 4:51 pm | Reply

                              8. Saya.,wanita usia 22 tahun. Saya pernah menderita dermatitis alergika, rhinitis alergika,dan sinusitis.Tahun 2004, saya pernah satu kali sesak nafas tiba-tiba & setelah 30 menit sesaknya berhenti secara spontan(tanpa pengobatan). Ketika sesak.,saya sulit menarik nafas dari hidung.Untuk mengatasi sesak tersebut saya berusaha menarik nafas dalam-dalam melalui mulut (walaupun agak sulit tapi saya masih bisa nafas melalui mulut)
                                Tahun 2005,2006,dan 2007,saya tidak pernah sesak. Rentang 2008-2011 saya pernah sesak nafas 3 kali.Sesak nafas tersebut hilang spontan setelah stengah jam hingga 1 jam.
                                Saya sangat jarang sekali demam,dan batuk kering ataupun berdahak.
                                Apakah saya ada kemungkinan menderita bronkopneumoni??
                                Terima kasih :))

                                Comment by Fadya — June 1, 2011 @ 5:47 pm | Reply

                                • waahh… saya sulit menebaknya mbak fadya… coba deh ke dokter spesialis paru untuk tau lebih lanjut. :)

                                  Comment by ningrum — August 13, 2011 @ 4:04 pm | Reply

                              9. hanya utk pembanding kata salah satu dokter d RSH, penyakit hanya bs menulari jika penderita berusia d atas 12thn, apakah bnr? Coz sy khawatir anak sy yg pertama (4th), menulari adiknya yg berusia 4bln.tq

                                Comment by alia — July 6, 2011 @ 3:35 pm | Reply

                                • waahh mbak alia, yang saya dengar malah bronkopneumoni pun bisa menyerang anak berusia 6 bulan ke bawah…
                                  tapi coba mbak cari referensi lain, siapa tau saya salah :)

                                  Comment by ningrum — August 13, 2011 @ 3:49 pm | Reply

                              10. anak saya sekarang berumur 1,1bln difonis dokter bp sudah 3 kali dirawat.pada umr3 bln,umr1 thn dan baruminggu ini dirawat.karna sering kambuh dokter menyarankan untuk tes mantuk.

                                Comment by nigsih — August 13, 2011 @ 8:05 pm | Reply

                                • tidak ada salahnya untuk mengikuti saran dokternya mbak ningsih :)

                                  Comment by ningrum — August 14, 2011 @ 6:12 pm | Reply

                              11. adik sepupuku sedang terdiagnosis penyakit ini,terimakasih atas infonya.mohon doanya untuk kesembuhan dia.

                                Comment by arsyadani — November 3, 2011 @ 10:47 am | Reply

                                • ya, semoga lekas sehat kembali

                                  Comment by ningrum — November 28, 2011 @ 12:09 pm | Reply

                              12. kemarin saya dirawat 8 hari di rumah sakit karena asma saya kambuh. biasanya cm pake obat hisap saran dari dokter, langsung sembuh. tapi kemarin tidak. penyebabnya saya batuk dan sulit mengeluarkan dahak, jadilah asma saya kambuh. tapi dokter tidak juga mengijinkan saya pulang sampe akhirnya 8 hri di rumah sakit. saya malah disuruh rontgen 2 kali. kata dokter hasil rontgen saya yang pertama, ada bagian paru yang tidak jelas, dicurigai, ada semacam bayangan. apa itu berbahaya?

                                Comment by esti — January 16, 2012 @ 11:50 am | Reply

                              13. mbak, anak saya kena bronkopneumonia, menurut hasil rontgent proses spesifik primer, kedua paru suram homogen, hilus sedikit melebar dan suram berbercak. Umur 5. th 6 bulan, berat cuma 16.5 kg, jarang batuk dan tak pernah sesak, anaknya aktid tak pernah mau diam. mohon saran pengobatan

                                Comment by daijiro kato — January 27, 2012 @ 6:28 pm | Reply

                              14. sy mau bertanya anak sy terkena bronkopneumonia hingga di rawat di ruang IMC/ICU apakah sudah dikatagorikan berbahaya? apakah sy harus membawanya ke RS Paru-paru cisarua ? apakah bisa menular dikarenakan sy mempunyai anak berusia 6 bulan

                                Comment by M. Surya Permana — February 19, 2012 @ 8:00 pm | Reply

                              15. Saya ingin menanyakan untuk obat antibiotika bronkopneumonia karena infeksi referensi yang paling bagus.

                                Comment by ahmad — March 3, 2012 @ 12:00 am | Reply

                              16. saya ingin menanyakan apakah bronkopneumonia bisa sembuh dengan cepat atau tidak ? apakah penyakit bronkopneumonia sangat berbahaya atau tidak ?
                                karna saya menderita penyakit ini, tetapi gejala yg saya rasakan yaitu sesak nafas yg terjadi dari sakit lambung kemudian dada saya menjadi panas dan sesak nafas, ketika saya pergi ke rumah sakit dan di rontgen ternyata dokter momvonis saya bahwa saya terkena bronkopneumonia stadium 4 apakah itu berbahaya atau tidak ? dan bisa sembuh kembali atau tidak ?

                                Comment by ahmad — May 9, 2012 @ 12:20 pm | Reply

                              17. anak saya berumur 20 bulan kemarin dirawat dirumah sakit hasil test darah dan rontgen menunjukan terkena bronkopnemonia. apakah penyakit ini dapat ditularkan dari penderita satu ke anak balita yang lain. karena saya pulang kekampung saya kesumedang disana anak menunjukan gejala p terserenyakit ini karena ia bermain dengan saudaranya yang menunjukan gejala penyakit ini tak lama kemudian anak saya terserang penyakit ini.saya.apakaah dengan gaya hidup yang tidak bersih dapat membuat penyakit ini berkembang dengan baik karena saya melihat gejala gejala penyakit ini dianak balita disana dan mereka tidak menjaga hidup dengan bersih terhadap anaknya.dan saya melihat tidak ada penyuluhan dari aparat terkait disana untuk memberikan tahukan cara cara hidup yang sehat

                                Comment by rivan — May 10, 2012 @ 1:53 am | Reply

                              18. apa bedanya bronkopneumonia dengan pneumonia tu sndri

                                Comment by san — May 16, 2012 @ 5:21 pm | Reply

                              19. anak saya umur 3 tahun,setelah foto rontgen dan test darah, hasilnya: paru tampak bercak pada perihiller dan parakardial kanan kiri> Corakan bronkovaskuler tampak meningkat> kedua hilus tak melebar> gambaran bronkopneumonia dupleks. tak tampak kompleks primer. apakah anak saya terkena bronkopneumonia? bagaimana cara pengobatannya? apakah ada pantangan makanan tertentu?

                                Comment by henry — May 23, 2012 @ 12:14 am | Reply

                              20. good… like banget!!!!

                                Comment by beatriks — June 20, 2012 @ 1:48 pm | Reply

                              21. […] menunjukkan tingkat edema dan perubahan karena bronkopneumonia sebagai akibat aspirasi. Kadang – kadang ditemukan abses paru – […]

                                Pingback by PRE-EKLAMSI KEHAMILAN | liriwulandari — January 7, 2013 @ 9:20 pm | Reply

                              22. […] menunjukkan berbagai tingkat edemma dan perubahan karena bronkopnemonia sebagai akibat aspirasi. Kadang – kadang ditemukan abses paru – […]

                                Pingback by Pre-Eklamsi Kehamilan (2) | novrigaiga — January 8, 2013 @ 6:59 pm | Reply

                              23. […] menunjukkan berbagai tingkat edemma dan perubahan karena bronkopnemonia sebagai akibat aspirasi. Kadang – kadang ditemukan abses paru – […]

                                Pingback by PRE-EKLAMSI KEHAMILAN II | — January 12, 2013 @ 1:36 am | Reply

                              24. Bronchopneumonia dapat disembuhan brapa lama?

                                Comment by saeful mubaroq — June 8, 2013 @ 12:29 pm | Reply

                              25. Bronkopneumonia bisa disembuhkan berapa lama??

                                Comment by fitri cahyani — June 8, 2013 @ 12:34 pm | Reply

                              26. mbak ga ada daftar rujukannya y/ daftar pustaka ga dicantumkan?

                                Comment by novi — October 18, 2013 @ 11:30 pm | Reply


                              RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

                              Leave a Reply

                              Fill in your details below or click an icon to log in:

                              WordPress.com Logo

                              You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

                              Twitter picture

                              You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

                              Facebook photo

                              You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

                              Google+ photo

                              You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

                              Connecting to %s

                              The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

                              Follow

                              Get every new post delivered to your Inbox.

                              Join 38 other followers

                              %d bloggers like this: