catatan kecil

August 6, 2009

Mediastinum

Filed under: Bedah,med papers — ningrum @ 5:55 am

-        Konsep Umum

Anatomi dan Patologi

Mediastinum, bagian tengah dari rongga thoraks, dapat dibagi menjadi tiga bagian untuk klasifikasi komponen anatomi dan proses penyakit: mediastinum anterior, tengah dan posterior. Mediastinum anterior terletak diantara sternum dan permukaan anterior jantung dan vena cava. Mediastinum tengah terletak diantara vena cava dan trakea. Bagian posterior dari mediastinum tengah merupakan mediastinum posterior.

Mediastinum bagian depan termasuk kelenjar timus atau sisanya, arteri dan vena mamma interna, nodus limfatikus dan lemak. Mediastinum tengah terdiri atas perikardium dan isinya, aorta asenden dan transversa, vena cava superior dan inferior, arteri dan vena brachiocephalica, nervus frenikus, batang nervus vagus atas, trakea, bronkus utama dan nodus limfatikusnya yang berhubungan, dan arteri dan vena pulmonal bagian tengah. Mediastinum posterior berisi aorta desenden, esofagus, duktus torasikus, vena azygos dan hemiazygos, dan nodus limfatikus.

-        Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik

Jenis patologi mediastinum memiliki keragaman penting berdasarkan usia pasien. Pada orang dewasa, tumor yang paling sering termasuk tumor neurogenik dari bagian posterior, kista benigna yang dapat muncul di ketiga bagian, dan timoma mediastinum anterior. Pada anak-anak, tumor neurogenik mediastinum posterior juga sering; limfoma merupakan tumor mediastinal kedua tersering, biasanya berlokasi di mediastinum anterior atau tengah; dan timoma jarang ditemukan. Pada kedua kelompok usia, sekitar 25% tumor mediastinum adalah tumor maligna.

Sampai 2/3 tumor mediastinum pada dewasa merupakan temuan tanpa sengaja pada studi radiologi yang menuntut permasalahan lainnya. Massa benigna bahkan lebih mungkin asimtomatik. Gejala lokal biasanya muncul dari massa yang lebih besar, tumor yang besar sekali, kista yang meluas, dan teratoma yang dapat menyebabkan kompresi struktur mediastinum, terutama trakea yang mengakibatkan batuk, dispnoe pada aktivitas, atau stridor. Nyeri dada atau dispnoe mungkin dilaporkan sebagai akibat sekunder dari efusi pleura, tampon kardiak, atau keterlibatan nervus frenikus.

Anamnesa dan pemeriksaan fisik dalam hubungannya dengan temuan pencitraan mungkin memberi kesan diagnosa yang spesifik. Kumpulan massa mediastinum, nodus limfatikus yang membesar, dan gejala dasar seperti keringat malam, atau kehilangan berat badan memberi kesan sebuah limfoma. Massa mediastinum anterior pada keadaan riwayat kelemahan naik-turun dan kelelahan dini atau ptosis memberi kesan sebuah timoma dan miastenia gravis.

-        Evaluasi Diagnostik

Pencitraan dan penanda serum

Penemuan massa mediastinum pada radiografi dada dilanjutkan dengan CT-scan. MRI biasanya dilakukan pada kasus massa mediastinum posterior untuk menggambarkan hubungan massa dengan kolumna spinalis dan untuk menilai kemungkinan invasi foramen neural.

Penggunaan penanda serum untuk mengevaluasi massa mediastinum adalah penting dalam mendiagnosa dan mengawasi terapi pasien dengan tumor sel germinal mediastinum. Sebagai contoh, tumor sel germinal seminoma dan non-seminoma seringkali dapat didiagnosa dan seringkali dibedakan satu dengan yang lainnya dengan level alpha-fetoprotein (AFP) dan human chorionic gonadotropin (hCG). Pada lebih dari 90% tumor sel germinal non-seminomatosa, level AFP dan hCG akan meningkat. Hasilnya mendekati 100% spesifik jika level AFP atau hCG > 500 ng/mL. Beberapa pusat institut dengan basis kemoterapi pada hasil ini tunggal dan tanpa biopsi. Pada kontras, level AFP selalu normal pada pasien dengan semonima mediastinal; hanya 10% akan mengalami peningkatan hCG, yang biasanya < 100 ng/mL.

-        Biopsi diagnostik non-bedah pada mediastinum

Indikasi dan langkah pembuatan keputusan untuk melaksanakan biopsi diagnostik pada massa mediastinal menyisakan kontroversi. Pada beberapa pasien, pemindahan secara bedah mungkin merupakan pilihan pasti dari hasil pencitraan non-invasif yang diberikan dan riwayat pasien; biopsi pre-operatif mungkin tidak perlu dan bahkan beresiko. Biopsi  bisa menjadi penting pada pasien lain yang pengobatan primernya kemungkinan non-bedah.

Biopsi perkutan mungkin sulit secara teknis karena melalui tulang rongga thoraks dan kedekatannya dengan jaringan paru, jantung dan pembuluh darah besar. Biopsi FNA meminimalkan beberapa potensi bahaya dan mungkin efektif dalam mendiagnosa jaringan tiroid mediastinal, kanker, karsinoma, seminoma, proses peradangan dan kista. Keganasan non-karsinomatosa lainnya seperti gangguan limfoproliferatif, timoma, dan tumor benigna mungkin membutuhkan potongan jaringan yang lebih besar. Biopsi seperti itu mungkin dilakukan dengan teknik core-needle atau dengan melakukan pembedahan biopsi terbuka. Umumnya, jika gambaran klinis dan radiologi memberi kesan lesi limfoproliferatif, biopsi bedah diindikasikan karena dibutuhkan volume jaringan lebih besar untuk mendiagnosa dan mengetahui tipe limfoma. Bagaimanapun, jika diagnosa non-limfoproliferatif diusulkan, FNA memiliki hasil yang tinggi dan direkomendasikan.

Jika massa mediastinum anterior tampak terlokalisasi dan menetap dengan timoma, reseksi bedah pun dilakukan. Reseksi bedah tanpa biopsi pada kebanyakan tumor terlokalisasi di mediastinum posterior diduga pada asalnya neurogenik dan tepat.

-        Biopsi bedah dan reseksi pada massa mediastinum

Untuk tumor mediastinum yang tidak cocok dengan biopsi jarum CT-guided atau biopsi jarum tidak menghasilkan cukup jaringan untuk diagnosa, maka dianjurkan biopsi bedah. Masa pada daerah para-trachea udah dibiopsi dengan mediastinokopi. Untuk tumor-tumor mediastinum anterior atau posterior, pendekatan VATS kanan atau kiri lalu memberikan biopsi bedah yang aman dan adekuat. Pada beberapa pasien mediastinotomi anterior (prosedur Chamberlain) mungkin cocok untuk tumor anterior atau tumor dengan ekstensi parasenal signifikan. Sebelum biopsi bedah diteruskan, diskusi harus dilakukan dengan ahli patologi untuk menghargai penilaian histologi rutin, pewarnaan khusus dan marker, dan tuntutan untuk mempersiapkan lymphoma.

Standar emas untuk reseksi kebanyakan massa-massa mediastinum anterior dan tengah melalui sternotomi medial atau torakotomi lateral. Pada beberapa kasus torakotomi lateral dengan ekstensi sternal (hemi-clamshell) memberikan pemaparan yang baik sekali untuk tumor mediastinum luas yang memiliki komponen lateral. Secara alternatif pendekatan VATS kiri dan kanan dapat digunakan untuk reseksi kelenjar timus dan untuk reseksi timoma enkapsulata kecil (1 – 2 cm). Kebanyakan akan setuju bahwa jika terlihat tumor mediastinum anterior lebih besar atau didugakeganasan, sternotomi medial dengan reseksi lebih radikal harus dilakukan.

-        Neoplasma

Timus

Tumor Timus

Timoma. Timoma merupakan neoplasma mediastinum anterior yang paling sering ditemukan pada orang dewasa (terlihat paling sering antara usia 40 – 60 thn). Timoma jarang terjadi pada anak-anak. Kebanyakan timoma asimtomatik. Bagaimanapun antara 10 – 50% memiliki gejala yang mengindikasikan miastenia gratis atau memiliki antibodi yang beredar pada reseptor asetilkolin. Bagaimanapun, kurang darti 10% pasien dengan miastenia gravis memiliki timoma yang dijumpai pada CT scan. Timektomi menuntun kearah perbaikan atau resolusi gejala miastenia gravis pada sekitar 25% pasien dengan timoma. Pada kontras, pasien dengan miastenia gravis tanpa timoma, hasil timektomi tinggi : sampai 50% pasien memiliki remisi lengkap dan 90% sembuh. Pada 5% pasien dengan timoa, sindroma paraneoplastik lain termasuk aplasia sel darah merah, hipogamaglobulinemia, SLE, sindroma Cushing, atau SIADH mungkin muncul. Tumor timus besar dapat muncul dengan gejala yang berhubungan dengan efek massa, termasuk batuk, nyeri dada, dispnoe, atau sindroma vena cava superior.

Diagnosa dapat diduga berdasarkan CT scan dan anamnesa, namun pencitraan tunggal bukan merupakan diagnosa. Biopsi FNA yang dituntun CT scan memiliki sensitivitas diagnosa sebesar 85% dan spesifitas 95% pada pusat spesialis. Sitokeratin merupakan marker yang paling baik membedakan timoma dari limfoma. Pada kebanyakan pasien, perbedaan antara limfoma dan timoma dapat dibuat pada CT scan, karena kebanyakan limfoma telah tertanda limfadenopati dan timoma paling sering muncul sebagai massa enkapsulata soliter.

Sistem pengelompokan paling sering yang dapat diterima untuk timoma adalah sistem Masaoka. Sistem ini berdasarkan pada ada atau tidaknya invasi yang terlihat atau mikroskopik dari kapsul dan struktur yang mengelilinginya, dan juga pada ada atau tidaknya metastase.

Perawatan definitif untuk timoma adalah pemindahan bedah lengkap untuk semua tumor yang dapat direseksi; angka rekurensi lokal dan kelangsungan hidup beragam berdasarkan stadiumnya. Reseksi umumnya dikerjakan dengan sternotomi medial dengan perluasan ke hemi-clamshell pada kasus yang lebih lanjut. Bahkan pada tumor lebih lanjut dengan invasi lokal struktur yang dapat direseksi seperti perikardium, vena cava superior atau pembuluh inominata harus dipertimbangkan untuk reseksi bersama rekonstruksi. Sekarang ini, kemoterapi ditawarkan secara preoperatif dan paskaoperatif untuk memilih pasien dengan timoma stadium lanjut.

-        Tumor neurogenik dewasa umum

Tumor nerve sheath. Tumor nerve sheath diperkirakan pada 20% dari semua tumor mediastinal. Lebih dari 95% tumor nerve sheath adalah neurilemoma jinak atau neurofibroma. Neurosarkoma maligna lebih jarang ditemukan.

Neurilemoma. Neurilemoma, juga disebut schwannomas, muncul dari sel Schwann pada saraf interkostalis. Tumor ini keras, terselubung baik dan umumnya jinak. Jika CT scan memberi kesan perluasan neurilemoma kedalam foramen intravertebra, MRI disarankan untuk mengevaluasi luas bentuk “dumbdell” ini. Bentuk seperti ini dapat mengarah pada kompresi dan paralisis, dan menuntut pendekatan bedah yang lebih kompleks. Dianjurkan untuk mereseksi kebanyakan tumor nerve sheath. Secara tradisional, pada tumor ini dilakukan torakotomi terbuka, tapi pada akhir-akhir ini, pendekatan VATS telah membuktikan operasi sederhana yang aman dan efektif. Masuk akal untuk mengikuti perkembangan tumor paravertebra asimtomatik kecil pada pasien lebih tua atau pada pasien dengan resiko tinggi untuk menerima pembedahan.

Pada anak-anak, ganglioneuroblastoma atau neuroblastoma lebih sering, karenanya seluruh tumor neurogenik harus direseksi total.

Neurofibroma. Neurofibroma memiliki komponen nerve sheath dan sel saraf; dan diperkirakan mencapai 25% tumor nerve sheath. Sampai 40% pasien dengan fibroma mediastinum telah disamakan dengan neurofibromatosis (penyakit von Recklinghausens’s). Sekitar 70% neurofibroma adalah jinak. Degenerasi maligna menjadi neurofibrosarkoma dapat muncul pada 25-30% pasien.

Neurofibrosarkoma membawa prognosis yang buruk karena pertumbuhan yang cepat dan invasi lokal yang agresif sepanjang simpul saraf. Reseksi bedah total merupakan pengobatan yang utama.

Tumor sel ganglion. Tumor sel ganglion muncul dari rantai simpatetik atau dari medulla adrenal dan mencakup ganglioneuroma, ganglioneuroblastoma dan neuroblastoma.

-        Limfoma

Secara keseluruhan, limfoma merupakan keganasan yang paling sering pada mediastinum. Pada sekitar 50% pasien yang mendapat baik limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, mediastinum mungkin menjadi tempat primer. Bagian anterior merupakan bagian yang paling sering terlibat, dengan keterlibatan berkala pada bagian tengah dan nodus hilar. Bagian posterior jarang terlibat. Hasil kemoterapi dan/atau radiasi pada angka kesembuhan mencapai 90% untuk pasien pada stadium awal penyakit Hodgkin, dan mencapai 60% pada stadium yang lebih lanjut.

-        Tumor sel germinal mediastinal

Tumor sel germinal merupakan neoplasma yang jarang dijumpai, dengan hanya 7000 yang terdiagnosa setiap tahunnya. Bagaimanapun, tumor ini merupakan keganasan yang paling sering pada pria muda antara usia 15 dan 35 tahun. Kebanyakan tumor sel germinal asalnya adalah gonad. Jarang tumor muncul dengan mediastinum sebagai tempat primernya, terdapat < 5% dari keseluruhan tumor sel germinal, dan < 1% dari keseluruhan tumor mediastinum (biasanya muncul pada bagian anterior). Jika tumor sel germinal mediastinum ganas ditemukan, penting sekali untuk meniadakan tumor primer gonad. Tumor sel germinal mediastinum primer (termasuk teratoma, tumor sel germinal ganas seminoma dan nonseminoma) adalah kelompok heterogen neoplasme jinak dan ganas yang diduga berasal dari sel germinal pluripoten primitif yang “salah tempat” di mediastinum selama perkembangan embriologi.

Sekitar 1/3 dari tumor sel germinal mediastinum primer adalah seminoma, 2/3 nya adalah tumor nonseminoma atau teratoma. Pengobatan dan prognosisnya sangat beragam dalam dua kelompok ini. Biopsi FNA sendiri mungkin dapat mendiagnosa seminoma, biasanya dengan penanda serum yang normal, termasuk hCG dan AFP. Pada 10% seminoma, level hCG mungkin meningkat sedikit. Temuan FNA, bersama dengan level hCG dan AFP yang tinggi, dapat secara akurat mendiagnosa tumor nonseminoma. Jika diagnosa masih tidak jelas setelah penilaian temuan FNA dan tingkat penanda serum, maka biopsi core-needle atau biopsi bedah mungkin dibutuhkan. Mediastinotomi anterior (prosedur Chamberlain) atau torakoskopi merupakan pendekatan diagnostik bedah yang paling sering.

Teratoma. Teratoma merupakan jenis tumor sel germinal mediastinum yang paling umum, diperkirakan 60-70% tumor sel germinal mediastinum. Tumor ini terdiri dari dua atau tiga lapisan embrionik yang dapat terdiri atas gigi, kulit, rambut (ektodermal), kartilago dan tulang (mesodermal), atau bronkus, usus atau jaringan pankreas (endodermal). Terapi untuk teratoma benigna dan matur adalah reseksi bedah, memberikan prognosis yang baik.

Seminoma. Kebanyakan pasien dengan seminoma memiliki stadium penyakit lanjut ketika didiagnosa dan muncul dengan gejala kompresi lokal, termasuk sindroma vena cava superior, dispnoe atau ketidaknyamanan pada dada. Dengan penyakit yang telah lanjut, pengobatan yang dipilih adalah kombinasi rejimen kemoterapi berbasis cisplatin dengan bleomysin dan salah satu dari etoposide atau vinblastine. Respon menyeluruh telah dilaporkan pada > 75% pasien yang diterapi dengan rejimen ini. Reseksi bedah mungkin kuratif untuk seminoma asimtomatik kecil  yang ditemukan tanpa sengaja dengan penyaringan CT scan. Reseksi bedah pada massa residual setelah kemoterapi mungkin diindikasikan.

Tumor sel germinal nonseminoma. Tumor sel germinal nonseminoma termasuk karsinoma sel embrional, koriokarsinoma, tumor sinus endodermal, dan tipe campuran. Tumor biasanya besar sekali, merupakan tumor iregular mediastinum anterior dengan daerah rendah penipisan pada CT scan disebabkan nekrosis, perdarahan, atau pembentukan kista. Secara berkala, struktur yang berdekatan ikut terlibat dengan metastase pada nodus limfatikus regional, pleura dan paru. Level LDH, AFP dan hCG secara berangsur-angsur meningkat. Kemoterapi merupakan pengobatan terpilih dan termasuk kombinasi terapi dengan cisplatin, bleomycin dan etoposide. Dengan rejimen ini, kelangsungan hidup 2 tahun sebesar 67% dan kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 60%. Reseksi bedah diindikasikan untuk massa residual, sebagaimana menuntun terapi selanjutnya. Hingga 20% massa residual berisi tumor tambahan; dalam 40% lainnya, teratoma matur; dan sisa 40% lainnya jaringan fibrotik.

-        Mediastinitis

Mediastinitis Akut

Mediastinitis akut adalah proses infeksi fulminan yang menyebar sepanjang bidang permukaan mediastinum. Infeksi paling sering berasal dari perforasi esofagus, infeksi sternum, dan infeksi orofaring atau leher, namun sejumlah faktor etiologi yang kurang umum dapat mengarah pada proses mematikan ini. Ketika infeksi dari sumber manapun ini memasuki mediastinum, penyebaran mungkin meningkat sepanjang sambungan bidang permukaan yang menghubungkan bagian mediastinum dan servikal. Tanda dan gejala klinis terdiri dari demam, nyeri dada, disfagia, penekanan pernafasan, dan krepitasi subkutan servikal dan torakal atas. Pada kasus yang lebih berat, gambaran klinis dapat memburuk dengan cepat menjadi sepsis kemerahan, ketidakstabilan hemodinamik, dan kematian. Karenanya, petunjuk kecurigaan yang tinggi dibutuhkan dalam konteks infeksi apapun dengan akses ke bagian mediastinum.

CT scan dada dapat secara khusus menolong dalam menentukan luas penyebaran dan pendekatan bedah terbaik untuk drainase. Mediastinitis akut merupakan emergensi bedah sebenarnya dan pengobatan harus dilakukan segera dan harus bertujuan memperbaiki masalah utama, seperti perforasi esofagus atau abses orofaring. Perhatian utama lainnya adalah debridement dan drainase proses infeksi yang menyebar didalam mediastinum, leher, pleura dan jaringan lainnya. Antibiotik, resusitasi cairan dan tindakan pendukung lainnya adalah penting, tetapi koreksi bedah pada permasalahannya sebagai sumbernya dan debridement terbuka dari area terinfeksi merupakan tindakan genting. Debridement bedah mungkin perlu diulang, bidang dan rongga lain dieksplorasi tergantung pada status klinis pasien. Sepsis persisten atau kumpulan sepsis pada CT scan mungkin membutuhkan debridement bedah radikal selanjutnya.

Mediastinitis Kronis

Mediastinitis fibrosis atau sklerosis adalah hasil dari inflamasi kronik pada mediastinum, paling sering sebagai hasil dari infeksi granulomatosa seperti histoplasmosis atau tuberkulosis. Prosesnya bermula pada nodus limfatikus dan berlanjut menjadi kronik, peradangan tingkat rendah menyebabkan fibrosis dan pembentukan parut. Pada kebanyakan pasien, manifestasi klinisnya tersembunyi. Bagaimanapun, jika fibrosis progresif dan memburuk, dapat mengarah pada penyelubungan struktur mediastinum, menyebabkan kompresi dan terperangkapnya vena-vena bertekanan rendah (termasuk vena cava superior dan vena-vena inomonata dan azygos). Proses fibrosis ini dapat membahayakan struktur lainnya seperti esofagus dan arteri pulmonalis. Tidak ada pengobatan pasti. Pembedahan diindikasikan hanya untuk mendiagnosa atau pada pasien khusus untuk melonggarkan jalan napas atau obstruksi esofagus atau untuk mencapai rekonstruksi vaskular.

sumber : Schwartz Manual Surgery

About these ads

8 Comments »

  1. hi..slm knl mba :)
    catatan kecil nya sgt mmbntu saya dlm pnmbahan bhn utk skrpsi saya
    kalau boleh tau, apa mba punya gambaran radiografik ttg mediastinitis akut n kronik nya? susah skali mencari gmbaran ro ttg mediastinitis, mgkin mba tau dmn saya bs mndapatkan gambaran ttg mediastinitis itu dan penderitanya. trimakasih

    Comment by echa — January 6, 2010 @ 6:23 pm | Reply

    • salam kenal juga echa :)
      gambaran radiologi medistinitis ya? hmmm… ndak punya sih, tapi nanti saya coba cari2 deh.. :D

      Comment by ningrum — January 7, 2010 @ 5:19 am | Reply

      • assalammualikum mbak.
        saya mau tanya jika tumor pada pasien terselimuti oleh pembuluh darah itu gimana ??
        dilakukan BJH tidak bisa,,
        lalu tindakan apa??

        Comment by luna jaya — August 11, 2014 @ 5:34 pm

  2. Mbak, untuk lebih memastikan lg. saat ini, suami saya sdg rwt inap di RS, diagnosa dokter: suami menderita tumor mediastinum timoma… cuman, saya gak mengerti, dari beberapa pendapat yg ada kok beda2, artinya ada yg menyarankan lbh baik kemo aja, trus ada lg yg blg lbh baik lgsung pembedahan. sebenarnya mana sie yg lebih baik, sementara sambil berjalan rawat inap di RS, rencananya thdp suami saya akan dilakukan Patologi Anatomi; utk identifikasi jenis tumor. krn sebelumnya jg sudah dilakukan rontgent dan MSCT Scan…
    Kemudian, berdasarkan beberapa artikel yg saya baca, tumor mediastinum jenis timoma ini apa benar termasuk tumor ganas, cuma apabila msh dlm stadium I biasanya belum terlihat / ber-efek kepada si penderita. contoh spt suami saya, msh terkadang saja batuk ringan, sesak nafas namun kadang juga hilang..sempat juga merasa susah menelan…ini membuat saya takut, ngeri aja membayangkan bagaimana selanjutnya…
    KIra2 apa bisa disembuhkan ya…mohon sedikit sharing donk…Tks

    Comment by wnee — February 11, 2010 @ 7:38 pm | Reply

    • yang menyarankan kemoterapi, mungkin dengan pertimbangan resiko pembedahan yang cukup besar. kalau dengan kemoterapi, mungkin kita hanya perlu menghadapi efek samping kemoterapi. efek tersebut nantinya akan berangsur hilang jika pasien dinyatakan sembuh. kalau pembedahan, seperti yang orang ketahui umumnya, resiko pembedahan cukup besar, apalagi dengan anestesi umum. namun, kalau dengan pembedahan, tumor bisa langsung diangkat dan gejala-gejala yang diakibatkan tumor (seperti batuk, sesak, dan susah menelan) bisa langsung hilang. sedangkan kemoterapi membutuhkan waktu yang lebih lama, apalagi jika tumornya besar. dengan kata lain, dengan pembedahan, tumor dan gejala bisa langsung hilang; sedangkan dengan kemoterapi, tumor dan gejala butuh waktu yang lebih lama untuk hilang.

      saya masih kurang paham tentang Patologi Anatomi. apakah akan dilakukan biopsi pada suami ibu? biasanya pemeriksaan Patologi Anatomi membutuhkan spesimen/sediaan jaringan tumor yang diambil dengan jalan biopsi. nah, dari tulisan yang saya buat (tulisan itu saya ambil dari Textbook Surgery), biopsi untuk tumor mediastinum anterior seperti timoma ini, dilakukan dengan biopsi pembedahan.

      itu yang saya ketahui. semoga bermanfaat dan salam hangat untuk keluarga :)

      Comment by ningrum — February 12, 2010 @ 8:56 am | Reply

      • Dear bu.. Saya baru nemu artikel ini, menarik bgt. Dan kebetulan suami saya sudah dinyatakan positif tumor timoma. Beberapa test sudah dilakukan. Bronoskopi menunjukkan hasil yang positif, test biopsi TTNA menunjukkan jenis tumor yang tidak ganas. Massa tumor berukuran 4×7 cm. Tumor tersebut mengeluarkan racun yang berakibat tubuh sering cepat letih. Saran dokter untuk tindakan selanjutnya adalah cuci darah dan pembedahan. Yang saya mau tanyakan, apakah dampak atau efek samping dari proses pembedahan tersebut di masa akan datang? Terimakasih..

        Comment by isra — August 24, 2012 @ 5:46 am

  3. Sekedar sharing……. Anak sy pernah mengalami mediastinum anterior (timoma) dan sdh di operasi thn 2011 pd saat anak sy berusia 10 thn. Massa tumor pada waktu itu berukuran 9×6 cm. Awal nya memang sy takut kalau anak sy hrs menjalani operasi, apa lagi waktu itu dr hsl pemeriksaan anak sy jg terkena miastenia gravis. Tp setelah diskusi dgn dokter bedah thorax yg i ya, operasi adalah Jalan yg paling baik yg hrs dilakukan. Dan alhamdulillah skrg stlh 2thn lebih, anak sy sehat2 saja spt tdk pernah sakit. Dia bs beraktifitas normal, olahraga dan tdk pernah ada keluhan seperti dl lagi

    Comment by Tyas — November 18, 2013 @ 2:05 pm | Reply

  4. Saya Dr. Koentjahja SpP ahli saluran napas dan paru malang. Bagi anda yang ingin berobat atau berkonsultasi silahkan mengunjungi docplanner atau melalui website saya di :
    koentjahja.com

    Comment by Dr. Koentjahja SpP — August 13, 2014 @ 1:41 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 38 other followers

%d bloggers like this: