catatan kecil

February 3, 2010

Ikterus Obstruktif (obstructive jaundice)

Filed under: Bedah,med papers — ningrum @ 6:04 pm

PENDAHULUAN

Munculnya jaundice pada pasien adalah sebuah kejadian yang dramatis secara visual. Jaundice selalu berhubungan dengan penyakit penting, meskipun hasil akhir jangka panjang bergantung pada penyebab yang mendasari jaundice. Jaundice adalah gambaran fisik sehubungan dengan gangguan metabolisme bilirubin. Kondisi ini biasanya disertai dengan gambaran fisik abnormal lainnya dan biasanya berhubungan dengan gejala-gejala spesifik. Kegunaan yang tepat pemeriksaan darah dan pencitraan, memberikan perbaikan lebih lanjut pada diagnosa banding. Umumnya, jaundice non-obstruktif tidak membutuhkan intervensi bedah, sementara jaundice obstruktif biasanya membutuhkan intervensi bedah atau prosedur intervensi lainnya untuk pengobatan. (1)

Jaundice merupakan manifestasi yang sering pada gangguan traktus biliaris, dan evaluasi serta manajemen pasien jaundice merupakan permasalahan yang sering dihadapi oleh ahli bedah. Serum bilirubin normal berkisar antara 0,5 – 1,3 mg/dL; ketika levelnya meluas menjadi 2,0 mg/dL, pewarnaan jaringan bilirubin menjadi terlihat secara klinis sebagai jaundice. Sebagai tambahan, adanya bilirubin terkonjugasi pada urin merupakan satu dari perubahan awal yang terlihat pada tubuh pasien. (2)

Bilirubin merupakan produk pemecahan hemoglobin normal yang dihasilkan dari sel darah merah tua oleh sistem retikuloendotelial. Bilirubin tak terkonjugasi yang tidak larut ditransportasikan ke hati terikat dengan albumin. Bilirubin ditransportasikan melewati membran sinusoid hepatosit kedalam sitoplasma. Enzim uridine diphosphate–glucuronyl transferase mengkonjugasikan bilirubin tak-terkonjugasi yang tidak larut dengan asam glukoronat untuk membentuk bentuk terkonjugasi yang larut-air, bilirubin monoglucuronide dan bilirubin diglucuronide. Bilirubin terkonjugasi kemudian secara aktif disekresikan kedalam kanalikulus empedu. Pada ileum terminal dan kolon, bilirubin dirubah menjadi urobilinogen, 10-20% direabsorbsi kedalam sirkulasi portal. Urobilinogen ini diekskresikan kembali kedalam empedu atau diekskresikan oleh ginjal didalam urin. (2)

DEFENISI

Ikterus (jaundice) didefinisikan sebagai menguningnya warna kulit dan sklera akibat akumulasi pigmen bilirubin dalam darah dan jaringan. Kadar bilirubin harus mencapai 35-40 mmol/l sebelum ikterus menimbulkan manifestasi klinik. (3)

Jaundice (berasal dari bahasa Perancis ‘jaune’ artinya kuning) atau ikterus (bahasa Latin untuk jaundice) adalah pewarnaan kuning pada kulit, sklera, dan membran mukosa oleh deposit bilirubin (pigmen empedu kuning-oranye) pada jaringan tersebut. (4)

ANATOMI SISTEM HEPATOBILIER

Pengetahuan yang akurat akan anatomi hati dan traktus biliaris, dan hubungannya dengan pembuluh darah penting untuk kinerja pembedahan hepatobilier karena biasanya terdapat variasi anatomi yang luas. Deskripsi anatomi klasik pada traktus biliaris hanya muncul pada 58% populasi. (4)

Hepar, kandung empedu, dan percabangan bilier muncul dari tunas ventral (divertikulum hepatikum) dari bagian paling kaudal foregut diawal minggu keempat kehidupan. Bagian ini terbagi menjadi dua bagian sebagaimana bagian tersebut tumbuh diantara lapisan mesenterik ventral: bagian kranial lebih besar (pars hepatika) merupakan asal mula hati/hepar, dan bagian kaudal yang lebih kecil (pars sistika) meluas membentuk kandung empedu, tangkainya menjadi duktus sistikus. Hubungan awal antara divertikulum hepatikum dan penyempitan foregut, nantinya membentuk duktus biliaris. Sebagai akibat perubahan posisi duodenum, jalan masuk duktus biliaris berada disekitar aspek dorsal duodenum. (4)

Sistem biliaris secara luas dibagi menjadi dua komponen, jalur intra-hepatik dan ekstra-hepatik. Unit sekresi hati (hepatosit dan sel epitel bilier, termasuk kelenjar peribilier), kanalikuli empedu, duktulus empedu (kanal Hearing), dan duktus biliaris intrahepatik membentuk saluran intrahepatik dimana duktus biliaris ekstrahepatik (kanan dan kiri), duktus hepatikus komunis, duktus sistikus, kandung empedu, dan duktus biliaris komunis merupakan komponen ekstrahepatik percabangan biliaris. (4)

Duktus sistikus dan hepatikus komunis bergabung membentuk duktus biliaris. Duktus biliaris komunis kira-kira panjangnya 8-10 cm dan diameter 0,4-0,8 cm. Duktus biliaris dapat dibagi menjadi tiga segmen anatomi: supraduodenal, retroduodenal, dan intrapankreatik. Duktus biliaris komunis kemudian memasuki dinding medial duodenum, mengalir secara tangensial melalui lapisan submukosa 1-2 cm, dan memotong papila mayor pada bagian kedua duodenum. Bagian distal duktus dikelilingi oleh otot polos yang membentuk sfingter Oddi. Duktus biliaris komunis dapat masuk ke duodenum secara langsung (25%) atau bergabung bersama duktus pankreatikus (75%) untuk membentuk kanal biasa, yang disebut ampula Vater. (4)

Traktus biliaris dialiri vaskular kompleks pembuluh darah disebut pleksus vaskular peribilier. Pembuluh aferen pleksus ini berasal dari cabang arteri hepatika, dan pleksus ini mengalir kedalam sistem vena porta atau langsung kedalam sinusoid hepatikum. (4)

METABOLISME NORMAL BILIRUBIN

Bilirubin berasal dari hasil pemecahan hemoglobin oleh sel retikuloendotelial, cincin heme setelah dibebaskan dari besi dan globin diubah menjadi biliverdin yang berwarna hijau. Biliverdin berubah menjadi bilirubin yang berwarna kuning. Bilirubin ini dikombinasikan dengan albumin membentuk kompleks protein-pigmen dan ditransportasikan ke dalam sel hati. Bentuk bilirubin ini sebagai bilirubin yang belum dikonjugasi atau bilirubin indirek berdasar reaksi diazo dari Van den Berg, tidak larut dalam air dan tidak dikeluarkan melalui urin. Didalam sel inti hati albumin dipisahkan, bilirubin dikonjugasikan dengan asam glukoronik yang larut dalam air dan dikeluarkan ke saluran empedu. Pada reaksi diazo Van den Berg memberikan reaksi langsung sehingga disebut bilirubin direk. (5)

Bilirubin indirek yang berlebihan akibat pemecahan sel darah merah yang terlalu banyak, kekurangmampuan sel hati untuk melakukan konjugasi akibat penyakit hati, terjadinya refluks bilirubin direk dari saluran empedu ke dalam darah karena adanya hambatan aliran empedu menyebabkan tingginya kadar bilirubin didalam darah. Keadaan ini disebut hiperbilirubinemia dengan manifestasi klinis berupa ikterus. (5)

KLASIFIKASI

Gambar 3 berisi daftar skema bagi klasifikasi umum jaundice: pre-hepatik, hepatik dan post-hepatik. Jaundice obstruktif selalu ditunjuk sebagai post-hepatik sejak defeknya terletak pada jalur metabolisme bilirubin melewati hepatosit. Bentuk lain jaundice ditunjuk sebagai jaundice non-obstruktif. Bentuk ini akibat defek hepatosit (jaundice hepatik) atau sebuah kondisi pre-hepatik. (1)

DIAGNOSIS

Langkah pertama pendekatan diagnosis pasien dengan ikterus ialah melalui anamnesis, pemeriksaan fisik yang teliti serta pemeriksaan faal hati. (5)

Anamnesis ditujukan pada riwayat timbulnya ikterus, warna urin dan feses, rasa gatal, keluhan saluran cerna, nyeri perut, nafsu makan berkurang, pekerjaan, adanya kontak dengan pasien ikterus lain, alkoholisme, riwayat transfusi, obat-obatan, suntikan atau tindakan pembedahan. (5)

Diagnosa banding jaundice sejalan dengan metabolisme bilirubin (Tabel 1). Penyakit yang menyebabkan jaundice dapat dibagi menjadi penyakit yang menyebabkan jaundice ‘medis’ seperti peningkatan produksi, menurunnya transpor atau konjugasi hepatosit, atau kegagalan ekskresi bilirubin; dan ada penyakit yang menyebabkan jaundice ‘surgical’ melalui kegagalan transpor bilirubin kedalam usus. Penyebab umum meningkatnya produksi bilirubin termasuk anemia hemolitik, penyebab dapatan hemolisis termasuk sepsis, luka bakar, dan reaksi transfusi. Ambilan dan konjugasi bilirubin dapat dipengaruhi oleh obat-obatan, sepsis dan akibat hepatitis virus. Kegagalan ekskresi bilirubin menyebabkan kolestasis intrahepatik dan hiperbilirubinemia terkonjugasi. Penyebab umum kegagalan ekskresi termasuk hepatitis viral atau alkoholik, sirosis, kolestasis induksi-obat. Obstruksi bilier ekstrahepatik dapat disebabkan oleh beragam gangguan termasuk koledokolitiasis, striktur bilier benigna, kanker periampular, kolangiokarsinoma, atau kolangitis sklerosing primer. (2) Ketika mendiagnosa jaundice, dokter harus mampu membedakan antara kerusakan pada ambilan bilirubin, konjugasi, atau ekskresi yang biasanya diatur secara medis dari obstruksi bilier ekstrahepatik, yang biasanya ditangani oleh ahli bedah, ahli radiologi intervensional, atau ahli endoskopi. Pada kebanyakan kasus, anamnesis menyeluruh, pemeriksaan fisik, tes laboratorium rutin dan pencitraan radiologis non-invasif membedakan obstruksi bilier ekstrahepatik dari penyebab jaundice lainnya. Kolelitiasis selalu berhubungan dengan nyeri kuadran atas kanan dan gangguan pencernaan. Jaundice dari batu duktus biliaris umum

biasanya sementara dan berhubungan dengan nyeri dan demam (kolangitis). Serangan jaundice tak-nyeri bertingkat sehubungan dengan hilangnya berat badan diduga sebuah keganasan/malignansi. Jika jaundice terjadi setelah kolesistektomi, batu kandung empedu menetap atau cedera kandung empedu harus diperkirakan. (2)

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik meliputi perabaan hati, kandung empedu, limpa, mencari tanda-tanda stigmata sirosis hepatis, seperti spider naevi, eritema palmaris, bekas garukan di kulit karena pruritus, tanda-tanda asites. Anemi dan limpa yang membesar dapat dijumpai pada pasien dengan anemia hemolitik. Kandung empedu yang membesar menunjukkan adanya sumbatan pada saluran empedu bagian distal yang lebih sering disebabkan oleh tumor (dikenal hukum Courvoisier). (5)

Hukum Courvoisier

“Kandung empedu yang teraba pada ikterus tidak mungkin disebabkan oleh batu kandung empedu”. Hal ini biasanya menunjukkan adanya striktur neoplastik tumor (tumor pankreas, ampula, duodenum, CBD), striktur pankreatitis kronis, atau limfadenopati portal. (3)

Pemeriksaan Laboratorium

Tes laboratorium harus dilakukan pada semua pasien jaundice termasuk serum bilirubin direk dan indirek, alkali fosfatase, transaminase, amilase, dan hitung sel darah lengkap. Hiperbilirubinemia (indirek) tak terkonjugasi terjadi ketika ada peningkatan produksi bilirubin atau menurunnya ambilan dan konjugasi hepatosit. Kegagalan pada ekskresi bilirubin (kolestasis intrahepatik) atau obstruksi bilier ekstrahepatik menyebabkan hiperbilirubinemia (direk) terkonjugasi mendominasi. Elevasi tertinggi pada bilirubin serum biasanya ditemukan pada pasien dengan obstruksi maligna, pada mereka yang levelnya meluas sampai 15 mg/dL yang diamati. Batu kandung empedu umumnya biasanya berhubungan dengan peningkatan lebih menengah pada bilirubin serum (4 – 8 mg/dL). Alkali fosfatase merupakan penanda yang lebih sensitif pada obstruksi bilier dan mungkin meningkat terlebih dahulu pada pasien dengan obstruksi bilier parsial. (2)

Pemeriksaan faal hati dapat menentukan apakah ikterus yang timbul disebabkan oleh gangguan pada sel-sell hati atau disebabkan adanya hambatan pada saluran empedu. Bilirubin direk meningkat lebih tinggi dari bilirubin indirek lebih mungkin disebabkan oleh sumbatan saluran empedu dibanding bila bilirubin indirek yang jelas meningkat. Pada keadaan normal bilirubin tidak dijumpai di dalam urin. Bilirubin indirek tidak dapat diekskresikan melalui ginjal sedangkan bilirubin yang telah dikonjugasikan dapat keluar melalui urin. Karena itu adanya bilirubin lebih mungkin disebabkan akibat hambatan aliran empedu daripada kerusakan sel-sel hati. Pemeriksaan feses yang menunjukkan adanya perubahan warna feses menjadi akolis menunjukkan terhambatnya aliran empedu masuk ke dalam lumen usus (pigmen tidak dapat mencapai usus). (2)

Pemeriksaan Penunjang

USG

Pemeriksaan pencitraan pada masa kini dengan sonografi sangat membantu dalam menegakkan diagnosis dan dianjurkan merupakan pemeriksaan penunjang pencitraan yang pertama dilakukan sebelum pemeriksaan pencitraan lainnya. Dengan sonografi dapat ditentukan kelainan parenkim hati, duktus yang melebar, adanya batu atau massa tumor. Ketepatan diagnosis pemeriksaan sonografi pada sistem hepatobilier untuk deteksi batu empedu, pembesaran kandung empedu, pelebaran saluran empedu dan massa tumor tinggi sekali. Tidak ditemukannya tanda-tanda pelebaran saluran empedu dapat diperkirakan penyebab ikterus bukan oleh sumbatan saluran empedu, sedangkan pelebaran saluran empedu memperkuat diagnosis ikterus obstruktif. (2)

Keuntungan lain yang diperoleh pada penggunaan sonografi ialah sekaligus kita dapat menilai kelainan organ yang berdekatan dengan sistem hepatobilier antara lain pankreas dan ginjal. Aman dan tidak invasif merupakan keuntungan lain dari sonografi. (2)

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan foto polos abdomen kurang memberi manfaat karena sebagian besar batu empedu radiolusen. Kolesistografi tidak dapat digunakan pada pasien ikterus karena zat kontras tidak diekskresikan oleh sel hati yang sakit. (5)

Pemeriksaan endoskopi yang banyak manfaat diagnostiknya saat ini adalah pemeriksaan ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancre atography). Dengan bantuan endoskopi melalui muara papila Vater kontras dimasukkan kedalam saluran empedu dan saluran pankreas. Keuntungan lain pada pemeriksaan ini ialah sekaligus dapat menilai apakah ada kelainan pada muara papila Vater, tumor misalnya atau adanya penyempitan. Keterbatasan yang mungkin timbul pada pemeriksaan ini ialah bila muara papila tidak dapat dimasuki kanul. (5)

Adanya sumbatan di saluran empedu bagian distal, gambaran saluran proksimalnya dapat divisualisasikan dengan pemeriksaan Percutaneus Transhepatic Cholangiography (PTC). Pemeriksaan ini dilakukan dengan penyuntikan kontras melalui jarum yang ditusukkan ke arah hilus hati dan sisi kanan pasien. Kontras disuntikkan bila ujung jarum sudah diyakini berada di dalam saluran empedu. Computed Tomography (CT) adalah pemeriksaan radiologi yang dapat memperlihatkan serial irisan-irisan hati. Adanya kelainan hati dapat diperlihatkan lokasinya dengan tepat. (5)

Untuk diagnosis kelainan primer dari hati dan kepastian adanya keganasan dilakukan biopsi jarum untuk pemeriksaan histopatologi. Biopsi jarum tidak dianjurkan bila ada tanda-tanda obstruksi saluran empedu karena dapat menimbulkan penyulit kebocoran saluran empedu. (5)

JAUNDICE OBSTRUKTIF

Hambatan aliran empedu yang disebabkan oleh sumbatan mekanik menyebabkan terjadinya kolestasis yang disebut sebagai ikterus obstruktif saluran empedu, sebelum sumbatan melebar. Aktifitas enzim alkalifosfatase akan meningkat dan ini merupakan tanda adanya kolestasis. Infeksi bakteri dengan kolangitis dan kemudian pembentukan abses menyertai demam dan septisemia yang tidak jarang dijumpai sebagai penyulit ikterus obstruktif. (5)

Patofisiologi jaundice obstruktif

Empedu merupakan sekresi multi-fungsi dengan susunan fungsi, termasuk pencernaan dan penyerapan lipid di usus, eliminasi toksin lingkungan, karsinogen, obat-obatan, dan metabolitnya, dan menyediakan jalur primer ekskresi beragam komponen endogen dan produk metabolit, seperti kolesterol, bilirubin, dan berbagai hormon. (4)

Pada obstruksi jaundice, efek patofisiologisnya mencerminkan ketiadaan komponen empedu (yang paling penting bilirubin, garam empedu, dan lipid) di usus halus, dan cadangannya, yang menyebabkan tumpahan pada sirkulasi sistemik. Feses biasanya menjadi pucat karena kurangnya bilirubin yang mencapai usus halus. Ketiadaan garam empedu dapat menyebabkan malabsorpsi, mengakibatkan steatorrhea dan defisiensi vitamin larut lemak (A, D, K); defisiensi vitamin K bisa mengurangi level protrombin. Pada kolestasis berkepanjangan, seiring malabsorpsi vitamin D dan Ca bisa menyebabkan osteoporosis atau osteomalasia. (4)

Retensi bilirubin menyebabkan hiperbilirubinemia campuran. Beberapa bilirubin terkonjugasi mencapai urin dan menggelapkan warnanya. Level tinggi sirkulasi garam empedu berhubungan dengan, namun tidak menyebabkan, pruritus. Kolesterol dan retensi fosfolipid menyebabkan hiperlipidemia karena malabsorpsi lemak (meskipun meningkatnya sintesis hati dan menurunnya esterifikasi kolesterol juga punya andil); level trigliserida sebagian besar tidak terpengaruh. (4)

Penyakit hati kolestatik ditandai dengan akumulasi substansi hepatotoksik, disfungsi mitokondria dan gangguan pertahanan antioksidan hati. Penyimpanan asam empedu hidrofobik mengindikasikan penyebab utama hepatotoksisitas dengan perubahan sejumlah fungsi sel penting, seperti produksi energi mitokondria. Gangguan metabolisme mitokondria dan akumulasi asam empedu hidrofobik berhubungan dengan meningkatnya produksi oksigen jenis radikal bebas dan berkembangnya kerusakan oksidatif. (4)

Etiologi jaundice obstruktif

Sumbatan saluran empedu dapat terjadi karena kelainan pada dinding saluran misalnya adanya tumor atau penyempitan karena trauma (iatrogenik). Batu empedu dan cacing askaris sering dijumpai sebagai penyebab sumbatan di dalam lumen saluran. Pankreatitis, tumor kaput pankreas, tumor kandung empedu atau anak sebar tumor ganas di daerah ligamentum hepatoduodenale dapat menekan saluran empedu dari luar menimbulkan gangguan aliran empedu. (5)

Beberapa keadaan yang jarang dijumpai sebagai penyebab sumbatan antara lain kista koledokus, abses amuba pada lokasi tertentu, divertikel duodenum dan striktur sfingter papila vater. (5)

Ringkasnya etiologi disebabkan oleh: koledokolitiasis, kolangiokarsinoma, karsinoma ampulla, karsinoma pankreas, striktur bilier. (4)

Gambaran klinis jaundice obstruktif

Jaundice, urin pekat, feses pucat dan pruritus general merupakan ciri jaundice obstruktif. Riwayat demam, kolik bilier, dan jaundice intermiten mungkin diduga kolangitis/koledokolitiasis. Hilangnya berat badan, massa abdomen, nyeri yang menjalar ke punggung, jaundice yang semakin dalam, mungkin ditimbulkan karsinoma pankreas. Jaundice yang dalam (dengan rona kehijauan) yang intensitasnya berfluktuasi mungkin disebabkan karsinoma peri-ampula. Kandung empedu yang teraba membesar pada pasien jaundice juga diduga sebuah malignansi ekstrahepatik (hukum Couvoissier). (4)

Pemeriksaan pada jaundice obstruktif

  1. Hematologi (4)

Meningkatnya level serum bilirubin dengan kelebihan fraksi bilirubin terkonjugasi. Serum gamma glutamyl transpeptidase (GGT) juga meningkat pada kolestasis.

Umumnya, pada pasien dengan penyakit batu kandung empedu hiperbilirubinemia lebih rendah dibandingkan pasien dengan obstruksi maligna ekstra-hepatik. Serum bilirubin biasanya < 20 mg/dL. Alkali fosfatase meningkat 10 kali jumlah normal. Transaminase juga mendadak meningkat 10 kali nilai normal dan menurun dengan cepat begitu penyebab obstruksi dihilangkan.

Meningkatnya leukosit terjadi pada kolangitis. Pada karsinoma pankreas dan kanker obstruksi lainnya, bilirubin serum meningkat menjadi 35-40 mg/dL, alkali fosfatase meningkat 10 kali nilai normal, namun transamin tetap normal.

Penanda tumor seperti CA 19-9, CEA dan CA-125 biasanya meningkat pada karsinoma pankreas, kolangiokarsinoma, dan karsinoma peri-ampula, namun penanda tersebut tidak spesifik dan mungkin saja meningkat pada penyakit jinak percabangan hepatobilier lainnya.

  1. Pencitraan (4)

Tujuan dibuat pencitraan adalah: (1) memastikan adanya obstruksi ekstrahepatik (yaitu membuktikan apakah jaundice akibat post-hepatik dibandingkan hepatik), (2) untuk menentukan level obstruksi, (3) untuk mengidentifikasi penyebab spesifik obstruksi, (4) memberikan informasi pelengkap sehubungan dengan diagnosa yang mendasarinya (misal, informasi staging pada kasus malignansi)

USG : memperlihatkan ukuran duktus biliaris, mendefinisikan level obstruksi, mengidentifikasi penyebab dan memberikan informasi lain sehubuungan dengan penyakit (mis, metastase hepatik, kandung empedu, perubahan parenkimal hepatik).

USG : identifikasi obstruksi duktus dengan akurasi 95%, memperlihatkan batu kandung empedu dan duktus biliaris yang berdilatasi, namun tidak dapat diandalkan untuk batu kecil atau striktur. Juga dapat memperlihatkan tumor, kista atau abses di pankreas, hepar dan struktur yang mengelilinginya.

CT : memberi viasualisasi yang baik untuk hepar, kandung empedu, pankreas, ginjal dan retroperitoneum; membandingkan antara obstruksi intra- dan ekstrahepatik dengan akurasi 95%. CT dengan kontras digunakan untuk menilai malignansi bilier.

ERCP dan PTC : menyediakan visualisasi langsung level obstruksi. Namun prosedur ini invasif dan bisa menyebabkan komplikasi seperti kolangitis, kebocoran bilier, pankreatitis dan perdarahan.

EUS (endoscopic ultrasound) : memiliki beragam aplikasi, seperti staging malignansi gastrointestinal, evaluasi tumor submukosa dan berkembang menjadi modalitas penting dalam evaluasi sistem pankreatikobilier. EUS juga berguna untuk mendeteksi dan staging tumor ampula, deteksi mikrolitiasis, koledokolitiasis dan evaluasi striktur duktus biliaris benigna atau maligna. EUS juga bisa digunakan untuk aspirasi kista dan biopsi lesi padat.

Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP) merupakan teknik visualisasi terbaru, non-invasif pada bilier dan sistem duktus pankreas. Hal ini terutama berguna pada pasien dengan kontraindikasi untuk dilakukan ERCP. Visualisasi yang baik dari anatomi bilier memungkinkan tanpa sifat invasif dari ERCP. Tidak seperti ERCP, MRCP adalah murni diagnostik.

Penatalaksanaan jaundice obstruktif

Pada dasarnya penatalaksanaan pasien dengan ikterus obstruktif bertujuan untuk menghilangkan penyebab sumbatan atau mengalihkan aliran empedu. Tindakan tersebut dapat berupa tindakan pembedahan misalnya pengangkatan batu atau reseksi tumor. Upaya untuk menghilangkan sumbatan dapat dengan tindakan endoskopi baik melalui papila Vater atau dengan laparoskopi. (5)

Bila tindakan pembedahan tidak mungkin dilakukan untuk menghilangkan penyebab sumbatan, dilakukan tindakan drainase yang bertujuan agar empedu yang terhambat dapat dialirkan. Drainase dapat dilakukan keluar tubuh misalnya dengan pemasangan pipa nasobilier, pipa T pada duktus koledokus atau kolesistotomi. Drainase interna dapat dilakukan dengan membuat pintasan biliodigestif. Drainase interna ini dapat berupa kolesisto-jejunostomi, koledoko-duodenostomi, koledoko-jejunostomi atau hepatiko-jejunostomi. (5)

About these ads

39 Comments »

  1. kunjungan malam hari… ingin minta follownya dari sobat blogger yang sudah top ini… terimakasih atas partisipasinya.. biar gak paki L silahkan Klik di sini aja program 1001 komentar, berprtisipasilah

    Comment by wiyono — February 3, 2010 @ 7:57 pm | Reply

    • terima kasih sudah berkunjung :)

      Comment by ningrum — February 4, 2010 @ 6:01 am | Reply

  2. Wah, bisa jadi satu bab texbook nih :D

    Comment by Cahya — February 3, 2010 @ 9:18 pm | Reply

    • hehe namanya juga paper :D
      terima kasih kunjungannya :)

      Comment by ningrum — February 4, 2010 @ 6:03 am | Reply

  3. Salam super-
    Salam hangat dari pulau Bali-
    menarik sekali artikel anda..
    langsung saya bookmark…
    sukses untuk Anda…

    Comment by andry sianipar — February 4, 2010 @ 2:34 pm | Reply

    • sukses juga buat anda
      terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak :)

      Comment by ningrum — February 5, 2010 @ 10:55 pm | Reply

  4. ini salah satu penyakit yan9 diderita bilqish dok?
    kelaian kulit?tapi ada empedunya.. :roll:
    *hihi sok n9erti daku *

    bukuna da dapet belum?aku mu follow up tapi ra9u neeh…

    Comment by wi3nd — February 5, 2010 @ 2:01 pm | Reply

    • bilqis menderita atresia bilier wi3nd, yang salah satu gejalanya ikterus (kuning)

      Comment by ningrum — February 5, 2010 @ 11:01 pm | Reply

  5. Putri kami 4 tahun dari USG/MRCP diindikasikan ada kista di saluran empedunya dgn ukuran 1.5×1.1×1.16 cm? Saran RS mesthi dioperasi untuk menghilangkannya. Tapi kami kasiahan krn ia 10 bulan yg lalu di RS ini juga habis dioperasi usus buntu. Apa ada alteranatif lainnya dok pengobatan kistanya itu ?

    Thks

    Comment by Androe — February 19, 2010 @ 11:24 am | Reply

    • untuk menghindari adanya obstruksi, kista memang harus diangkat. cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter bedah tentang metode operasi dengan resiko minimal. dokter bedah juga paham kondisi pasien, kapan harus dioperasi dan kapan tidak. jadi, cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter bedah yang menganjurkannya.
      sekian, semoga bermanfaat :)

      Comment by ningrum — February 20, 2010 @ 4:47 pm | Reply

  6. Putri kami 4 tahun dari USG/MRCP diindikasikan ada kista di saluran empedunya dgn ukuran 1.5×1.1×1.16 cm? Saran RS mesthi dioperasi untuk menghilangkannya. Tapi kami kasiahan krn ia 10 bulan yg lalu di RS ini juga habis dioperasi usus buntu. Apa ada alteranatif lainnya dok pengobatan kistanya itu ?

    Thks

    Comment by Androe — February 19, 2010 @ 1:20 pm | Reply

    • hallo Androe…salam kenal. Bagaiman keadaan putri anda?

      Comment by ati — April 25, 2014 @ 1:51 pm | Reply

      • anak saya, bulan depan genap berumur 4 tahun. dia jg diindikasikan kista di saluran empedunya. sementara ini dokter merekomendasikan mengangkat saluran juga kanton empedunya. klo boleh tau, gmn kondisi putri anda sekarang. terima kasih.

        Comment by ati — April 25, 2014 @ 1:57 pm

  7. maaf mau tanya tentang penyakit obstructive jaundicenya… teman saya katanya sakit itu terus saya baca di wikipedia katanya jaundice itu ada kanker hati. gejala teman saya cuma rasa gatal tapi mata air kencing itu gada masalah ga menguning juga kulitnya… itu termasuk jaundice apa yah? terus cara menjaga supaya ga kambuh2 lagi gimana makasih… tolong kalo bisa jawabanya dikirim ke email saya makasih

    Comment by gwynufke — July 7, 2010 @ 8:18 pm | Reply

    • gwynufke (maaf kalo salah menyebutkannya)..
      coba tanya lebih jelas ke temannya, bagaimana dia mendapat diagnosa obstructive jaundice tersebut. biasanya, dokter yang menegakkan diagnosa akan memberikan penjelasan tentang penyakitnya.
      ikterus obstruktif disebabkan adanya obstruksi (hambatan) di saluran empedu. penyebab hambatan bisa saja tumor, batu, atau bisa juga cacing. untuk mengetahui penyebab lebih jelas dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti USG atau CT-scan. setelah mengetahui penyebabnya apa, barulah penyebabnya kita singkirkan. setelah disingkirkan, mudah-mudahan keluhannya akan hilang.
      kalau cerita kanker hati, itu akan banyak lagi penyebabnya. kanker hati merupakan akhir dari tahap perkembangan penyakit yang menyerang hati selama bertahun-tahun. jadi, kalau memang penyebab ikterus obstruktif-nya karena adanya kanker hati, maka segera konsultasikan ke Internis untuk terapi lebih lanjut..

      Comment by ningrum — July 11, 2010 @ 8:56 am | Reply

  8. dok,, nama saya tuti mahasiswi FK…mw nanya diagnosis ikterus obstruktif itu apa ya?? Mksdx apa ada patoknx misalx kenaikn bilirubin direct yg meningkat 3 kali lipat dari indirect..ada patokan pastix gk dok??
    Trz penyebab ikterik obstruktif ini kan ada dari batu yg dikenal dgn istilah trias charcot (demam, kolik, ikterik)..nah tempat trbntukx batu empedu itu d kandung empedux aj ato d saluranx spt ductus sistikus ato koledokus juga bisa??
    Mksh banyak sblmx,, maaf banyak nanya…

    Comment by tuti — October 17, 2010 @ 11:00 pm | Reply

    • saya lebih cenderung menganggap ikterus ini sebagai diagnosa awal, karena ada penyebab dari ikterus itu sendiri. setelah dilakukan pemeriksaan, maka akan diketahui dengan pasti apa penyebab ikterus.
      untuk ikterus obstruktif sendiri, diagnosa pastinya adalah dengan USG, CT dan pemeriksaan pencitraan lainnya. mengenai perbedaan kenaikan bilirubin direct dan indirect saya belum membacanya.
      tempat terbentuk batu bisa di kandung empedu, juga bisa di duktus sistikus atau duktus koledokus, seperti halnya ada kolelitiasis dan ada koledokolitiasis.
      sekian :)

      Comment by ningrum — October 21, 2010 @ 6:11 am | Reply

  9. makasih bnyk dok…^^

    Comment by tuti — October 25, 2010 @ 6:43 pm | Reply

  10. Permisi,dok.Numpang tanya.Untuk patogenesis pruritus akibat obstruksi duktus biliaris it sendiri bagaimana ya?Trims.

    Comment by Soundwave — November 1, 2010 @ 2:50 am | Reply

    • pruritus disebabkan bilirubin yang menumpuk didalam darah. selain kulit dan mukosa yang kuning, juga bisa menyebabkan pruritus

      Comment by ningrum — November 22, 2010 @ 7:36 pm | Reply

  11. dok, mau nnya .. itu yang pemeriksaan ambil dr kepustakaan mana yah dok ?

    Comment by nez — January 19, 2011 @ 10:40 pm | Reply

    • saya cek dulu ya :)

      Comment by ningrum — January 23, 2011 @ 6:14 pm | Reply

  12. gimana dok sudah di cek kepustakaan untuk pemeriksaan nya ??

    Comment by nez — January 27, 2011 @ 6:47 pm | Reply

    • saya kirim ke email ya daftar referensinya :)

      Comment by ningrum — January 30, 2011 @ 10:08 pm | Reply

      • nez, email saya gagal… bisa coba berikan alamat email yang lain??????

        Comment by ningrum — January 30, 2011 @ 10:33 pm

      • dok coba kirim ke email ini .. makasi dok ..

        Comment by nez — February 11, 2011 @ 2:27 pm

  13. dok,,, pernah denger obstruksi jaundice post nefatal ga dok?punya refrensinya g dok? makasiiiy ;)

    Comment by novarani dian mayangsari — February 3, 2011 @ 1:06 pm | Reply

  14. mau nanya dok, bedanya kolestasis intrahepatik dan ekstrahepatik dalam suatu kasus kalo dilihat dari gejala klinisnya apa ya? makasih

    Comment by alin — February 20, 2011 @ 11:47 pm | Reply

  15. makasih doc bwat refrensi ny yg sgt mmbantu. klo bisa, mnta bantuin untuk manejemen perioperatif bwat obstruktif jaundice dok. sama daftar pustaka tulisan ini ya dok. makasih :)

    Comment by Che — April 15, 2011 @ 1:56 pm | Reply

    • referensinya ada che

      Comment by ningrum — August 13, 2011 @ 4:37 pm | Reply

  16. Sekarang saya juga didiagnosa kena Obstruktif Jaundice tapi dari pemeriksaan USG dan MRCP belum ketemu dimana penyebab sumbatannya, dan sekarang dokter yg menangani menyarankan endoskopi untuk pemeriksaan lebih lanjut,,kira-kira dimana ya dok penyumbatannya

    Comment by arie — June 10, 2011 @ 10:33 am | Reply

    • lhaaaa mas arie ini. lha wong dokter yang meriksa mas arie aja minta pemeriksaan endoskopi biar ketahuan, kok ya malah nanya ke saya yang nun jauh di mata…
      lakukan saja pemeriksaannya mas… biar lebih jelas, oke? :)

      Comment by ningrum — August 13, 2011 @ 4:00 pm | Reply

  17. dok,, boleh mint daftar pustaka untuk tulisan ini,, thankz :)

    Comment by dwi — September 5, 2011 @ 12:03 am | Reply

  18. Dok, saya mnta daftar pustaka dr tulisan ini. Terima ksh

    Comment by fenny yulia — January 25, 2012 @ 6:37 pm | Reply

  19. daftar pustakanya mana dok?

    Comment by Mul Yani — February 29, 2012 @ 10:39 pm | Reply

  20. Dok,suami saya didiagnosa cholangio ca, sudah dilakukan ercp dan dipasang stent tp hasil patologi inkonklusif,sel atifik. Dok,apakah dgn hsl PA diagnosa berarti bisa digugurkan? Sbenarnya tindakan apa yg hrs terlebih dulu dilakukan, laparoskopi atau ercp? Trimakasih dok.

    Comment by Maryaningsih — January 12, 2013 @ 10:19 pm | Reply

  21. dok, mau nanya. edukasi untuk ikterus obstruktif apa ya? sejauh ini prognosisnya gimana? terima kasih dok

    Comment by Emmanuela R Molenaar (@EmmanuelaRanita) — February 21, 2013 @ 3:06 pm | Reply

  22. Dok, saya mnta daftar pustakanya ya..terima kasih :)

    Comment by lusi — July 7, 2013 @ 4:51 pm | Reply

  23. Ddok suami saya terkena penyakit kuning yang jelas mata kulit urine kuning ..tp sering buang air besbesar ap itu berbahaya dok? Termasuk penyakit apa

    Comment by ninday — July 7, 2014 @ 2:08 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 38 other followers

%d bloggers like this: