catatan kecil

May 23, 2009

Sporotrikosis

Filed under: Kulit & Kelamin,med papers — ningrum @ 11:22 pm

PENDAHULUAN

Sporotrikosis adalah infeksi kronik yang disebabkan oleh Sporothrix schenckii. Tanda-tanda infeksi termasuk nodul subkutan supuratif yang berkembang secara proksimal sepanjang aliran limfatik (limfokutaneus sporotrikosis). Infeksi paru primer (sporotrikosis pulmonal) atau inokulasi langsung ke dalam tendon atau otot jarang timbul. Sporotrikosis osteoartikular muncul dari inokulasi langsung atau persemaian hematogen. Penyebaran infeksi yang muncul dengan penyebaran lesi kutan dan keterlibatan beberapa organ dalam jarang terjadi, hal ini seringnya pada pasien dengan AIDS.5,10

            Siapapun dapat terinfeksi penyakit ini, tapi orang yang bekerja dengan tanaman berduri, lumut sphagnum, atau bal jerami yang terkontaminasi dengan jamur ini, berada pada resiko tinggi. Karenanya, infeksi lebih sering diantara tukang kebun yang bekerja dengan mawar, lumut, jerami dan tanah. Jamur ini ditemukan di tanah dan lumut sphagnum, jerami dan bahan-bahan tumbuhan lain. Sporotrikosis berkembang lambat – gejala pertama muncul dalam 1-12 minggu (rata-rata 3 minggu) setelah pemaparan pertama oleh jamur. Sporotrikosis terutama mempengaruhi kulit dan daerah dekat pembuluh limfatik.10

DEFINISI

Sporotrikosis adalah infeksi jamur kronis pada kutis atau subkutis dengan cirri khas lesi berupa nodus yang supuratif sepanjang aliran getah bening.1

ETILOGI

            Penyebab penyakit ini adalah Sporothrix schenckii yang dapat hidup di tanah, hewan, tumbuh-tumbuhan dan sayuran yang telah membusuk. Spora jamur masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka pada kulit dan sangat jarang melalui inhalasi. Keadaan imunitas seseorang sangat berperan dalam mendapatkan infeksi sporotrikosis. Penyakit ini dapat mengenai organ lain, seperti paru, tulang, sendi, selaput lendir dan susunan saraf pusat.1-8

EPIDEMIOLOGI

            Sporothrix schenckii dapat dijumpai di seluruh dunia. Sporotrikosis terutama dijumpai di negara tropis, dimana kelembaban dan temperatur yang tinggi mendukung pertumbuhan jamur.8

            Infeksi muncul pada negara yang memiliki 2 musim dan beriklim tropis. Bisa dijumpai di utara, selatan, tengah Amerika termasuk bagian selatan USA dan Meksiko. Negara yang lain seperti Afrika, Eropa, Jepang dan Australia. Negara-negara yang memiliki angka infeksi yang tinggi seperti : Meksiko, Brazil dan Afrika Selatan. Bagaimanapun, kadang-kadang daerah yang hiperendemis memiliki kasus yang luas, di USA infeksi paling banyak terjadi di bagian tengah lembah sungai. Infeksi sekarang ini jarang dijumpai di Eropa. Di alam, jamur tumbuh di daun sayur-sayuran busuk, kayu-kayu busuk, gigi tikus, paruh burung. Meskipun biasanya kasus ini menyebabkan infeksi yang sporadis, sporotrikosis mengenai kelompok pekerja yang terpapar langsung dengan organisme, tukang kebun, pekerja hutan dan orang yang suka berekreasi dengan bersentuhan langsung dengan tumbuh-tumbuhan tersebut. Organisme ini biasanya masuk ke kulit melalui trauma luka.4

PATOGENESIS

            Sporothrix schenckii dijumpai di tanah, kayu dan tumbuh-tumbuhan. Jamur ini terutama tumbuh baik di tanah yang kaya akan bahan organik. Pada lingkungan yang hangat dengan kelembaban tinggi, jamur juga dapat tumbuh pada tumbuhan dan pohon bark. Kebanyakan kasus Sporotrikosis didapat dari lingkungan, sebagai akibat dari kontak antara kulit yang luka dengan spora jamur. Luka penetrasi dari tumbuhan mati dan bahan lain seperti serpihan kayu, lumut sphagnum, duri atau rumput kering sering menjadi infeksi. Gigitan, garukan, cakaran dan sengatan dari beragam binatang, burung dan serangga dapat juga menginokulasikan organisme ke dalam luka melalui spora yang terbawa di permukaan tubuh. Jarang, inhalasi menyebabkan penyakit dalam bentuk pulmonal.8

            Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan. Spora masuk melalui luka. Mula-mula timbul papula atau nodula subkutan, disusul pembengkakan proksimal dari lesi (sesuai aliran getah bening). Papula atau nodula tersebut kemudian pecah membentuk ulkus granulomatosa disertai peradangan pembuluh limfe yang menyebar mengikuti aliran pembuluh limfe.2

GAMBARAN KLINIS

            Secara klinis ada 3 tipe sporotrikosis :

  • Tipe limfokutan

Bentuk ini paling sering dijumpai. Bentuk klasik dimulai dengan papula merah muda dan tidak sakit, pustula dan nodus yang kemudian mengalami ulserasi dengan dasar nekrosis di daerah inokulasi, disebut sebagai Sporotrikosis chancre. Infeksi kemudian meluas mengikuti aliran getah bening secara asenden dan membentuk satu rantai nodus subkutan yang keras seperti tali dalam waktu beberapa minggu.

Pada tipe ini infeksi terbatas pada kulit, pembuluh getah bening dan jaringan subkutan. Bila terjadi penurunan imunitas akan terjadi infeksi sistemik. Infeksi primer terjadi pada daerah ekstremitas dan letaknya unilateral. Bila inokulasi primer terjadi pada daerah wajah, akan terbentuk nodus satelit akibat penyebaran melalui pembukuh getah bening yang arahnya berbeda-beda. Lesi ini selalu melibatkan ekstremitas, khususnya tangan dan lengan.1,5,8

  • Fixed cutaneous sporotrichosis

Biasanya terlihat pada area geofrafis dimana sporotrikosis endemis dan orang mempunyai derajat imunitas yang tinggi. Infeksi hanya terbatas pada daerah inokulasi dan tidak melibatkan pembuluh getah bening. Gambaran klinis sangat bervariasi, antara lain dapat berupa krusta tebal yang menutupi ulkus, erosi, pioderma, papula yang mengalami infiltrasi dan plak menyerupai sarkoid, plak verukosa, plak psoriasis dan selulitis muka. Sering dijumpai lesi satelit kecil-kecil. Daerah yang paling sering terkena infeksi adalah muka, leher dan badan.1,5,8,9

  • Sporotrikosis diseminata

Bentuk ini jarang dijumpai dan dapat mengenai tulang, sendi, mukosa (mulut, hidung, mata), susunan saraf pusat (meningen), ginjal, hati, usus dan genitalia. Pada beberapa kasus Sporothrix schenckii menyebar dari lesi kutan, sementara peyebaran yag lain muncul tanpa tanda-tanda kutan.1,5,8,9

GAMBARAN HISTOPATOLOGI

            Dari granuloma yang terinfeksi, pada dinding lesi ditemukan sel polimorfonuklear, eosinofil dan makrofag. Pada bagian perifer ditemukan banyak sel epiteloid dan sel raksasa langerhan. Edema epidermis dengan tanda radang kronik.2

 PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • Kultur

Sediaan diambil dari lesi atau bahan eksudat dengan kuret atau biopsi dan dibiakkan dalam agar saburoud. Cara ini bermakna untuk menegakkan diagnosis.1,2,5,6,7,8,9

  • Tes preparat langsung : ditemukan granula sulfur.2
  • Pemeriksaan  KOH 10% : tampak hifa bercabang dan bersepta.2
  • Pemeriksaan histopatologik

Organisme jarang ditemukan pada jaringan sehingga cara ini sulit digunakan untuk membuat diagnosis.2,3

  • Tes imunoflorosensi langsung

Dengan cara ini cepat terdiagnosis sporotrikosis karena tes ini sensitif dan spesifik.1

  • Tes sporotrikin

Kegunaan tes ini hanya bernilai untuk memastikan adanya pajanan terhadap jamur.1

  • Tes darah rutin.1
  • Tes serologis.5,8

DIAGNOSIS

            Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik yang khas dan pemeriksaan penunjang terutama kultur jamur.1

DIAGNOSIS BANDING

  • Skrofuloderma

Nodul-nodul tapi tanpa tanda radang, dan tidak mengikuti jalannya aliran limf dan uji tuberkulin (+).1,2

  • Ulkus tropikum

Ulkus menggaung, soliter, eksudasi, granula sulfur (-). Pada pemeriksaan preparat langsung dijumpai Borrelia vincenti.2

  • Sifilis stadium II

Papula-papula eritematosa dengan pembesaran kelenjar limf generalisata.2

  • Leishmaniasis 1
  • Pioderma 1

PENATALAKSANAAN

Pengobatan sporotrikosis tergantung pada berat dan lokasi penyakit. Sporotrikosis diobati dengan obat-obat anti jamur termasuk itrakonazol, ketokonazol, amfoterisin B dan flusitosin. Kalium dan natrium yodida juga digunakan untuk bentuk kutaneus dan limfokutaneus.6,8

Dua bentuk sporotrikosis tersebut hampir selalu berhasil dengan terapi tersebut. Sedangkan tipe yang diseminta lebih susah untuk diobati dan memerlukan penatalaksanaan jangka panjang. Pengangkatan jaringan mati dan pembedahan juga diperlukan jika sendi juga ikut terlibat. Penatalaksanaan seumur hidup diperlukan bagi orang-orang dengan infeksi AIDS untuk mencegah kekambuhan. Bentuk yang menyerang paru-paru sulit untuk diterapi atau diobati dan sehubungan dengan obat, tindakan pembedahan dapat dicoba.8

  • Kalium Yodida

Walaupun cara kerjanya tidak diketahui, pemakaian peroral kalium yodida dalam bentuk tetes dapat mengobati kutaneus sporotrikosis dan biasanya memerlukan terapi selama 3 – 6 bulan. Dosis dimulai dengan 5 tetes/hari dan dinaikkan perlahan hingga 30 – 40 tetes /hari. 1-3,5-7,10

  • Ketokonazol

Dosis 100-200 mg/hari selama 1 bulan berhasil baik.2,8

  • Itrakonazol dan Flukonazol

Merupakan obat anti jamur. Itrakonazol merupakan pilihan terbaru anti jamur dan secara signifikan lebih efektif dibanding flukonazol. Flukonazol biasanya diberikan pada pasien yang tidak bisa menoleransi. Dosis itrakonazol 100 mg/hari selama 1 bulan. Dosis flukonazol 150 mg/hari selama 2 bulan.1-8,10

  • Terbinafin, dosis 250 mg/hari. Agen anti jamur alilamin fungisidal. Dianggap sebagai agen lini ke-3 melawan sporotrikosis.4,5
  • Amfoterisin B

Pengobatan anti jamur ini diberikan secara intravena. Kebanyakan pasien, bagaimanapun, tidak dapat mentoleransi amfoterisin B sehubungan dengan efek samping potensial seperti demam, mual dan muntah. Pada kasus sporotrikosis meningitis, pasien dapat diberikan kombinasi amfoterisin B dan 5-florositosin.3-7,9,10

  • Pembedahan

Pada kasus infeksi tulang dan nodul kavitas di paru, pembedahan mungkin perlu.5,6

PROGNOSIS

Baik2

KOMPLIKASI

Sporotrikosis dapat berkembang menjadi penyakit lain, diantaranya selulitis, sarkoidosis dan tuberkulosis.6

PENCEGAHAN DAN EDUKASI PASIEN

            Pasien harus dinasehati untuk mengambil langkah pencegahan sporotrikosis. Pencegahan termasuk : memakai sarung tangan, sepatu boot dan pakaian yang melindungi tangan dan kaki dari material yang dapat menggaruk atau melukai permukaan kulit.5,6,7,8

            Yang utama dari kasus sporotrikosis ini muncul ketika jamur masuk melalui kulit yang terpotong atau kulit luka pada saat berhubungan langsung dengan tanaman yang mengandung spora jamur. Sarung tangan juga digunakan bila berhubungan dengan hewan, biasanya kucing. Setelah sarung tangan dilepas, tangan harus dicuci dengan bersih dengan menggunakan bahan-bahan desinfeksi seperti klorheksidin, povidon iodine atau bahan-bahan yang mengandung anti fungal. Kontak langsung dengan lumut sphagnum juga harus dihindari serta material yang bisa menjadi tempat hidup sporotrikosis.8

3 Comments »

  1. […] postingan pertama tertanggal 3 Mei, tanpa judul, hanya sebuah coretan awal. dan postingan kedua malah 20 hari sesudahnya, itupun berupa paper coass saya dulu di bagian Kulit dan Kelamin, berjudul Sporotrikosis. […]

    Pingback by 1 tahun Catatan Kecil « catatan kecil — May 1, 2010 @ 10:56 am | Reply

  2. Artikelnya bagus..
    ada referensinya gak ya??

    Comment by icha — May 25, 2011 @ 5:08 am | Reply

    • ada doooongggg
      ntar tak cari dulu ya mbak icha

      Comment by ningrum — August 13, 2011 @ 4:05 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: