catatan kecil

June 1, 2009

Teruntuk ukhti tersayang

Filed under: dari h@T! — ningrum @ 4:14 pm

Assalamu’alaikum ukhti tercinta…

Mungkin melalui kata-kata ini, ukhti bisa lebih memahami apa yang akan Mbak jelaskan, dibandingkan jika kita berbicara langsung. Namun yakinlah satu hal sebelum mulai membaca, bahwa niat baiklah yang melahirkan kata-kata berikut ini. Berpikirlah positif sebelum membaca ini dan resapi makna dibaliknya…

Ukhti tersayang…

9 bulan ibunda mengandung kita dengan kesusahan dan kepayahan. Begitu besarnya peranan ibunda di dalam hidup kita. Betapa besarnya kasih sayang ibunda tanpa membeda-bedakan. Nasihat pertama, jangan durhakai ibunda…

Ukhti tersayang…

Ummat terdahulu yang diberi gelar ummat terbaik, para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in adalah orang-orang yang patuh pada ibunda mereka. Ingatkah ukhti tentang kisah seorang sahabat yang membuat marah ibundanya, sehingga sakaratul maut-nya sulit. Baginda Rasulullah SAW sampai mengancam akan membakarnya barulah ibundanya memaafkannya. Begitu pentingnya menjaga perasaan ibunda agar jangan sampai kecewa apalagi terluka. Nasihat kedua, jangan lukai perasaan ibunda…

Ukhti tersayang…

Larangan apapun yang keluar dari mulut ibunda, selama larangan itu berlandaskan syari’at dan tidak menyalahi AlQur’an dan Sunnah, adalah mutlak untuk kita dengarkan, wajib untuk kita turuti. Ingatkah ukhti, bahwa ridho orangtua adalah ridha Allah dan murka Allah ada pada murka-nya orangtua. Sanggupkah kita dimurkai orangtua, yang juga berarti dimurkai Allah?? Dimana lagi tempat kita bernaung jika Allah murka??? Nasihat ketiga, turuti nasihat ibunda…

Ukhti tersayang…

Ayahanda dan ibunda menyekolahkan kita, memberi kita bekal ilmu agama (3 tahun ‘nyantri’ Mbak rasa cukup untuk belajar dasar-dasar agama). Mengapa? Agar kita tidak mudah tergelincir pada kesalahan ukhti sayang…bukankah ukhti memahami hukum-hukum dalam Islam dari bekal kita tersebut? Bukankah ukhti paham menutup aurat itu wajib? Sebagaimana ukhti paham sholat dan puasa itu wajib? Ukhti harusnya juga paham bagaimana hubungan seorang muslim dan muslimah non-mahram, yang belum menikah… Nasihat keempat, kaji lagi tentang hal tersebut…

Ukhti tersayang…

Setiap manusia diciptakan berpasangan, dan merupakan hak Allah untuk menentukan siapa akan dipasangkan dengan siapa. Jadi, ketika seorang muslim mendapat berkah berupa rasa cinta kepada lawan jenisnya, ia akan mengembalikan semua kepada Allah, menunggu putusan terbaik dari Allah. Ia tidak akan terlena dengan rasa itu dan mengabaikan sang Pencipta rasa cinta itu sendiri. Ia tidak akan memupuk cinta itu tanpa ikatan pernikahan, tanpa ikatan yang sah. Ia akan malu pada sang Pemilik cinta jika cintanya dipupuk dengan cara yang salah. Bukankah sangat mungkin sang Pemilik cinta mengambil kembali cinta itu dan yang tersisa adalah benci? Bukankah mungkin sang Pemilik cinta merubah perasaan seseorang dari baik menjadi jahat? Apakah kita punya jaminan, cinta yang kita pupuk bersama si dia diridhoi sang Pemilik cinta? Tanyakan pada hati nuranimu…

Ukhti tersayang…

Ketika ibunda melarangmu menjalani hubungan kasih di luar ikatan pernikahan, adakah ukhti sadar itu semua demi kebaikan ukhti sendiri? Ibunda melarang bukan tanpa pertimbangan. Adakah ukhti pernah memikirkan dan merenungkan alasan-alasan ibunda? Bukan rasa benci yang mendasari larangan ibunda (seperti yang selama ini ukhti duga), bukan pula rasa iri. Cobalah ukhti renungkan baik-baik. Bahkan ibunda pun tidak yakin dia jodoh ukhti atau bukan. Bagaimana ukhti bisa yakin? Kalaupun ukhti sendiri belum yakin, kenapa bermain api dengan perasaan ukhti sendiri? Nasihat kelima, kepastian hanya milik Allah…

Ukhti tersayang…

Dua insan saling mencintai dan merasa yakin dengan pilihan dan keputusan mereka, pun bisa terpisah. Mengapa?? Karena nyatanya mereka bukanlah jodoh. Jadi rasa cinta yang dipupuk diluar ikatan pernikahan sangat mungkin berubah dan hilang. Cinta bisa menjadi berkah maupun bencana. Maukah kita memiliki cinta yang akan menjadi bencana? Cinta yang pada akhirnya akan menyakiti kita?? Pilihan ada pada dirimu ukhi sayang… Nasihat keenam, carilah cinta yang diridhoi Allah…

Ukhti tercinta…

Apakah ukhti siap untuk menjalani pernikahan saat ini, mempertahankan cinta ukhti tersebut dan menanggung segala resikonya? Jika tidak, jangan bermain api dengan perasaan ukhti…itu nasihat ketujuh…

Ukhti sayang…

Ingin tahu alasan ibunda melarang ukhti? Ibunda pernah menceritakannya pada Mbak, dan Mbak pikir beberapa alasannya bisa dikategorikan syar’i…

Pertama…masalah paham yang tidak sunnah, ada unsur bid’ah-nya. Mungkin ukhti akan berpikir, “apa pentingnya masalah sunnah dan bid’ah”? Dalam hal ini, amat sangat penting. Sadarkah ukhti ibunda selalu berusaha (dari dulu sampai sekarang) mengenalkan kita pada sunnah?? Kenalkah ukhti apa itu bid’ah dan siapa ahli bid’ah? Mengapa ada ancaman bid’ah itu tempatnya di neraka? Ibadah yang berlandaskan bid’ah itu tertolak. Ibunda selalu mengingatkan kita akan hal tersebut (mungkin ukhti menganggap hal itu sesuatu yang ‘sepele’ dan tidak ada apa-apanya). Ibunda sangat sayang kepada adinda ukhti tercinta dengan mengharapkan jodoh yang baik untuk adinda… Ibunda mencegah adinda melakukan kesalahan yang akan adinda sesali nantinya. Insting seorang ibulah yang membuat ibunda bersikap seperti itu.

Kedua…masalah pacaran itu sendiri… Ibunda selalu menginginkan kita menjadi seorang muslimah yang menjalankan ajaran Islam. Ibunda keberatan dengan ‘pacaran’, mengingat kita bertiga di’pesantren’kan selama 3 tahun. Pertimbangan Ibunda banyak, selain ‘pacaran’ itu sendiri yang tidak pernah ada dalam Islam, Ibunda sangat khawatir akan menimbulkan gunjingan tetangga bila melihat si ‘dia’ nya ukhti datang bertandang ke rumah pada Sabtu malam. Maka itulah, sejak kedatangan pertama si ‘dia’ nya ukhti (2 tahun lalu), Ibunda langsung memberi ultimatum keras pada ukhti. Selain itu, mengingat ukhti juga masih kuliah dan belum ada niatan menikah, Ibunda lebih senang bila ukhti hanya menyibukkan diri dengan kuliah dan mengaji, membantu Ibunda di rumah…

Ketiga… ibunda sangat khawatir ukhti akan terlena dan melakukan kesalahan fatal. Ukhti jangan berprasangka buruk dulu terhadap kekhawatiran ibunda ini. Bukannya ibunda tidak mempercayai ukhti, tapi ibunda berpikir lebih baik mencegah daripada nantinya menyesal. Ibunda tak hentinya berdo’a untuk kebaikan kita putri-putrinya. Lagipula, Mbak sudah pernah menceritakan beberapa ‘kasus’ kepada ukhti, pastinya ukhti ingat kan? Ibunda terlalu menyanyangi dan mengkhawatirkan kita ukhti… Pahamilah perasaan ibunda… Mbak terkadang sedih melihat ukhti yang selalu keras kepala bila ibunda sudah mengungkit masalah ‘pacaran’. Ukhti selalu marah dan berubah kasar bila Mbak ataupun ibunda mengingatkan ukhti tentang hubungan ukhti dengan si ‘dia’. Ukhti akan meminta Mbak untuk tidak ikut campur, dan ukhti akan mendiamkan ibunda, bila kami mengungkit tentang ‘dia’. Ibunda memang tidak terang-terangan menunjukkan rasa sedihnya, tapi yakinlah ukhti… ibunda sangat sedih dengan sikap ukhti…Mbak sedih bila melihat ibunda kita sedih, apalagi yang membuat sedih adalah ukhti sendiri…

Terakhir, ukhti pikirkanlah semua kata-kata ini. Maaf bila Mbak tidak berbicara langsung, karena Mbak khawatir kita akan bertengkar dan saling mendiamkan pada akhir pembicaraan (bahkan mungkin sebelum pembicaraan berakhir). Mbak sayang ukhti…

Wassalamu’alaikum ukhti sayang…

13 Comments »

  1. asslmkm…………
    subhanallah mbak………….

    Comment by ndri — June 7, 2009 @ 6:00 pm | Reply

    • wa’alaykumussalam…
      salam kenal ^_^

      Comment by ningrum — June 8, 2009 @ 5:51 am | Reply

  2. -Orang tua selalu memberi nasihat kepada anak-anaknya,kadang langsung,kadang melalui simbul-simbul.Orang-orang jaman dahulu hampir selalu menuruti nasihat orang tuanya reserve.Namun tidak bagi anak-anak muda jaman sekarang,mereka kadang mencari logis-tidaknya nasihat itu,gaul-tidaknya jika nasihat itu diaplikasikan.
    -Artikel diatas harus diambil sari patinya agar bisa kita petik pelajaran darinya.
    -salam

    Comment by Abdul Cholik — June 7, 2009 @ 6:13 pm | Reply

    • iya pakdhe cholik, terima kasih dukungannya… anak-anak zaman sekarang memang banyak yang keras kepala hehehe.. padahal ridho Allah ada pada ridho orangtua, tapi begitulah…

      Comment by ningrum — June 8, 2009 @ 5:50 am | Reply

  3. Kalo buat akhi tersayang ada gak mbak…?? hehe

    Comment by zevyanz — June 9, 2009 @ 9:13 pm | Reply

    • duh zev, mbak kan ga punya sodara laki-laki, ya nggak ada dunks ^_^

      Comment by ningrum — June 10, 2009 @ 6:07 am | Reply

  4. Hehe aku sodara laki-laki..bukan sodara kandung tapinya.
    eh mbak mampir lagi lah ketempatku..semoga sekarang g susah komentarnya…kalo misal pake login wordpress gagal terus..pake login ( nama n url ) ajah..aku bisa koq dah coba..

    saran : bikin page baru lagi aja mbak buat ngasi pesen-pesen apa gituh mbak..jadi gak di postingan..kalo shout emang gak bisa kali yah di wordpress…

    Comment by zevyanz — June 11, 2009 @ 2:59 am | Reply

    • iya saudara ku ^_^
      maksudnya page baru? ga ngerti zev, gaptek nih! mail aja la zev gimana caranya ke ningrumwahyuni@gmail.com

      Comment by ningrum — June 11, 2009 @ 6:04 am | Reply

  5. page baru itu misalnya..ada halaman home, about me, jadi bukan hanya halaman posting hehe..

    Comment by zevyanz — June 11, 2009 @ 6:53 pm | Reply

    • iya, ntar diutak-atik…

      Comment by ningrum — June 12, 2009 @ 10:06 am | Reply

  6. Assalamu’alaikum,

    “…..Subhanallah, Mbak ‘ Saluuutt…
    Semoga Ukhty bisa menjalankan pesan-pesan Mba dengan baik, Aamiin Ya Rabbal’aalamiin

    Comment by 1kepinghati — August 19, 2009 @ 4:24 pm | Reply

    • wa’alaykumussalam…
      waduh… terima kasih sudah mampir ya…
      insya allah, doakan saja ya🙂

      Comment by ningrum — August 20, 2009 @ 2:01 pm | Reply

  7. […] 7 Juni 2009 di 2 tulisan saya: Menjatuhkan Pilihan (egois atau tidak berpendirian…??) dan Teruntuk ukhti tersayang. dan setelahnya saya banyak merujuk ke Pakdhe untuk mencari link teman (hehe.. ijin ya […]

    Pingback by 1 tahun Catatan Kecil « catatan kecil — May 1, 2010 @ 10:57 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: