catatan kecil

June 22, 2009

tentang syukur

Filed under: catatan — ningrum @ 6:39 am

(Tulisan ini sebenarnya sudah lama dan pernah dipost-kan di blog saya yang lain. Tentang seorang saudara seiman yang kebetulan ‘curhat’. Kalau pas orang yg bersangkutan ngebaca ini, “afwan ya, uneg-unegmu tak jadikan tulisan”)

 

Semua manusia pasti pernah berbuat salah. Dan merasa menyesal karena telah berbuat salah itu juga normal. Tapi terlalu menyesali diri malah gak normal. Apalagi kalo sampai merasa dikejar-kejar masa lalu. Masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup manusia. Tidak ada masa lalu, maka tidak ada sekarang dan masa depan. Sebuah perjalanan waktu.

Mungkin ada bagian dari masa lalu kita yang terlalu buruk untuk diingat. Bagaimana cara kita melupakannya? Saya sendiri juga ga tau solusinya, tapi mungkin dengan berusaha menerima masa lalu itu sebagai sebuah takdir yang memang sudah seharusnya terjadi, mungkin perasaan kita akan menjadi lebih tenang… Mungkin terkadang kita ingin menganggap bahwa masa lalu kita itu tidak ada, ingin menghapusnya dari memori kita. Tapi itu bahkan tidak mudah, kecuali pengen amnesia (mungkin bisa dibuat trauma kepala dengan ‘mentungin’ kepalanya hehehehe). Nah, pada akhirnya solusi semua masalah ada jika kita kembali kepada agama, kembali kepada Allah. Allah tidak akan mencoba seorang hamba yang hambaNya tidak sanggup menghadapinya. Itu kata-kata yang sering Mama ucapkan ke saya, kalo saya udah mulai ngeluh ini itu. Maka saya berbagi nasehat Mama ini ke saudara seiman tersebut. Terus yang berikutnya kita cerita tentang gimana caranya menghilangkan kata ‘putus asa’ dari hidup ini. Merasa ga sanggup ini, dan merasa ga sanggup itu. Orang-orang pernah merasa putus asa, ketika menghadapi beban hidup yang dia pikir dia ga sanggup menjalaninya. Waahhh… kalo udah gitu, bisa kita bilang imannya kurang tuh. Disini akan muncul pertanyaan, seberapa besar sih iman kita kepada Allah? Yakinkah kita Allah ada? Kalau iya, kenapa kita masih harus ragu?? Ada kalanya kita merasa iri dengan keberhasilan orang lain. Kok dia bisa, tapi aku enggak ya? Kenapa aku gini-gini aja? Well, kesuksesan orang bisa menjadi cambuk bagi kita untuk lebih giat lagi, tapi bukan menjadi tolak ukur kesuksesan kita. Masing-masing orang punya cerita suksesnya sendiri. Mungkin si anu sukses di bidang eksakta, dan mungkin si anu suksesnya malah di bidang sosial. Ketika melihat orang lain sukses, kita bisa mejadikannya contoh untuk lebih giat, bukan untuk mencontoh 100% bentuk kesuksesannya. Ketika kita sudah berusaha maksimal dan mendapati kita ternyata memang tidak bisa melampaui orang lain tersebut, kita tinggal tawakkal. Disinilah orang sering lupa. Sibuk berusaha maksimal, terus dan terus sampai melupakan tawakkal kepada Allah. Pada akhirnya, bukan tidak mungkin dia menyalahkan Allah atas kekurangannya. Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sama seperti manusia yang punya cerita sukses masing-masing. Tinggal kita melihat dengan mata hati, kelebihan dan kekurangan diri kita. Ketika iri dengan orang lain, cobalah melihat ke bawah. Cobalah untuk melihat orang yang mungkin tidak seberuntung diri kita. Begitulah caranya kita dapat bersyukur. Bahkan seorang fakir yang tidak makan berhari-hari bisa merasa bersyukur dengan kondisinya. Jadi, mengapa kita tidak mengambil pelajaran dari kesulitan hidup orang lain? Jangan hanya mengambil contoh kesuksesan orang lain. Bukankan Allah sudah berjanji, jika kita bersyukur maka nikmat Allah akan ditambah buat kita dan kalau kita mengkufuri nikmatNya, maka ingatlah adzab Allah sangat pedih. Banyak-banyak lah introspeksi diri.

Kita mungkin bersikukuh kalau kesuksesan itu sesuatu yang bisa diraih. Mungkin kita bisa menghibur diri dengan, “oh, mungkin belum saatnya saya sukses”. Nah sekarang kembali lagi ke arti ‘kesuksesan’. Ada orang yang merasa puas dan sukses jika berhasil mengumpulkan kekayaan bermilyar-milyar. Ada orang yang merasa puas hanya dengan berbagi ilmu yang dimilikinya dengan orang lain. Orang yang selalu bersyukur tidak akan muluk-muluk dalam hidupnya. Dia akan menerima apapun rejeki yang diberikan Allah kepadanya. Kesuksesan mungkin bisa diraih, tapi jangan jadikan orang yang tamak untuk mengukur kesuksesan kita. Jangan jadikan orang yang lupa bersyukur sebagai pengukur kesuksesan kita. Pada akhirnya tanyalah pada dirimu, seberapa besar rasa syukurmu kepada Allah?

2 Comments »

  1. sungguh menyentuh..nice post mbak..:)

    Comment by zevyanz — June 25, 2009 @ 9:56 pm | Reply

    • thanks zev…

      Comment by ningrum — June 25, 2009 @ 11:52 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: