catatan kecil

July 5, 2009

Gangguan Obsesif-Kompulsif

Filed under: med papers,Psikiatri — ningrum @ 12:24 pm

 I.      PENDAHULUAN

Gangguan obsesif-kompulsif adalah suatu contoh dari efek positif dimana penelitian moderen telah menemukan gangguan di dalam waktu singkat. Pada awal tahun 1980-an, gangguan obsesif-kompulsif dianggap sebagai gangguan yang jarang dan berespon buruk terhadap terapi. Sekarang diketahui bahwa gangguan obsesif-kompulsif sering ditemukan dan sangat responsif terhadap terapi.

Suatu obsesi adalah pikiran, perasaan, ide atau sensasi yang mengganggu (intrusif). Suatu kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa atau menghindari. Obsesi meningkatkan kecemasan seseorang, sedangkan melakukan kompulsi menurunkan kecemasan seseorang. Tetapi, jika seseorang memaksa untuk melakukan suatu kompulsi, kecemasan adalah meningkat. Seseorang dengan gangguan obsesif-kompulsif biasanya menyadari irasionalitas dari obsesi dan merasakan bahwa obsesi dan kompulsi sebagai ego-distonik. Gangguan obsesif-kompulsif dapat merupakan gangguan yang menyebabkan ketidakberdayaan, karena obsesi dapat menghabiskan waktu dan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, aktivitas sosial yang biasanya, atau hubungan dengan teman dan anggota sekeluarga.1

  1. II.      PEMBAHASAN
    1. A.     DEFINISI

Obsesi adalah suatu bentuk kecemasan yang didominasi oleh pikiran yang terpaku (persistence) dan berulang kali muncul (recurrent). Sedangkan kompulsi adalah perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sebagai konsekuensi dari pikiran yang bercorak obsesif tadi. Seseorang yang menderita gangguan obsesif-kompulsif tadi akan terganggu dalam fungsi atau peranan sosialnya.

Sebagai contoh yang sederhana misalnya orang yang mencuci tangannya berkali-kali (repeated hand washing), meskipun sebenarnya ia sadar bahwa mencuci tangan pertama kali itu sudah bersih dan tidak perlu diulang kembali. Namun, ia tidak mampu menguasai pikiran obsesif yang menyatakan bahwa tangannya belum bersih, dan karenanya untuk menghilangkan rasa cemasnya itu ia mengulang kembali mencuci tangan. Demikianlah hal tersebut selalu terjadi berulang kali sehingga menimbulkan penderitaan bagi dirinya. Contoh lain misalnya orang yang mengunci pintu berulang kali, berulang-ulang mengambil air wudlu, atau mandi atau mengucap takbir (takbir awal) berulang kali sebelum melanjutkan sholat. Dalam bahasa awam gangguan ini seringkali disebut sebagai penyakit was-was.  

Dalam kehidupan sehari-hari di masayarakat ada juga pola perilaku yang bercorak mirip “obsesif-kompulsif” misalnya gangguan pola makan (eating disorder), penyimpangan perilaku seksual (sexual deviation), judi, penyalahgunaan NAPZA (Narkotik, Alkohol dan Zat Adiktif) dan lain sebagainya.2

  1. B.     EPIDEMIOLOGI

Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2 sampai 3 persen. Beberapa peneliti telah memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat di klinik psikiatrik. Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering yang keempat setelah fobia, gangguan berhubungan zat, dan gangguan depresif berat. Penelitian epidemiologis di Eropa, Asia dan Afrika telah menegakkan angka tersebut melewati ikatan kultural.

Untuk orang dewasa, laki-laki dan wanita sama mungkin terkena; tetapi untuk remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan. Usia onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun, walaupun laki-laki memiliki onset usia yang agak lebih awal (rata-rata sekitar usia 19 tahun) dibandingkan wanita (rata-rata sekitar 22 tahun). Secara keseluruhan, kira-kira duapertiga dari pasien memiliki onset gejala sebelum 25 tahun, dan kurang dari 15 persen pasien memiliki onset gejala setelah usia 35 tahun. Gangguan obsesif-kompulsif dapat memiliki onset pada masa remaja atau masa anak-anak, pada beberapa kasus dapat pada usia 2 tahun. Orang yang hidup sendirian lebih banyak terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah, walaupun temuan tersebut kemungkinan mencermikan kesulitan yang dimiliki pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif dalam mempertahankan suatu hubungan. Gangguan obsesif-kompulsif ditemukan lebih jarang diantara golongan kulit hitam dibandingkan kulit putih, walaupun tersedianya jalur ke pelayanan kesehatan dapat menjelaskan sebagian besar variasi tersebut, ketimbang perbedaan prevalensi antara ras-ras.

Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya dipengaruhi oleh gangguan mental lain. Prevalensi seumur hidup untuk gangguan depresif berat pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah kira-kira 67 persen dan untuk fobia sosial adalah kira-kira 25 persen. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan penggunaan alkohol, fobia spesifik, gangguan panik, dan gangguan makan.1

  1. C.     ETIOLOGI

Apa yang menjadi penyebab gangguan obsesif-kompulsif tidak sepenuhnya dipahami. Teori-teori utama meliputi :

   Biologi

Beberapa peneliti meyakini gangguan obsesif-kompulsif sebagai hasil dari perubahan kimia alami dari tubuh.

   Lingkungan

Beberapa peneliti meyakini bahwa gangguan obsesif-kompulsif adalah hasil dari kebiasaan yang dipelajari selama hidup.

   Insufisiensi Serotonin

Kurangnya jumlah serotonin, satu dari pengantar kimiawi otak, dapat menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif. Beberapa studi yang membandingkan gambaran otak manusia yang memiliki gangguan obsesif-kompulsif dengan gambaran otak normal menunjukkan perbedaan pola aktifitas otak. Sebagai tambahan, orang dengan gangguan obsesif-kompulsif dalam pengobatan yang meningkatkan aktifitas serotonin selalu memiliki gejala yang lebih sedikit.3

  1. D.    GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSIS
    1. 1.      Gambaran Klinis

Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif seringkali pergi ke dokter lain dibandingkan dokter psikiatrik. Pasien dengan obsesi maupun kompulsi merupakan sekurangnya 75 persen dari pasien yang terkena. Beberapa peneliti dan klinisi percaya bahwa angka tersebut mungkin sangat mendekati 100 persen jika pasien diperiksa secara cermat untuk adanya kompulsi mental di samping kompulsi perilaku. Tetapi, beberapa peneliti dan klinisi percaya bahwa beberapa pasien memang hanya memiliki pikiran obsesif dan tidak memiliki kompulsi. Pasien tersebut kemungkinan memiliki pikiran yang berulang terhadap tindakan seksual atau agresif yang dicela oleh pasien.

Gambaran obsesi dan kompulsi adalah heterogen pada orang dewasa dan pada anak-anak dan remaja. Gejala pasien individual mungkin bertumpang tindih dan berubah dengan berjalannya waktu, tetapi gangguan obsesif-kompulsif memiliki empat pola gejala yang utama. Pola yang paling sering ditemukan adalah suatu obsesi akan kontaminasi, diikuti oleh mencuci atau disertai oleh penghindaran obsesif terhadap objek yang kemungkinan terkontaminasi. Objek yang ditakuti seringkali sukar untuk dihindari (sebagai contohnya, feses, urin, debu atau kuman). Pasien mungkin secara terus-menerus menggosok kulit tangannya dengan mencuci tangan secara berlebihan atau mungkin tidak mampu pergi keluar rumah karena takut akan kuman. Walaupun kecemasan adalah respon emosional yang paling sering terhadap objek yang ditakuti, rasa malu dan kejijikan yang obsesif juga sering ditemukan. Pasien dengan obsesi kontaminasi biasanya percaya bahwa kontaminasi adalah ditularkan dari objek ke objek atau orang ke orang oleh kontak ringan.

Pola kedua yang tersering adalah obsesi keragu-raguan, diikuti oleh pengecekan yang kompulsi. Obsesi seringkali melibatkan suatu bahaya kekerasan (seperti lupa mematikan kompor atau tidak mengunci pintu). Pengecekan tersebut mungkin menyebabkan pasien pulang beberapa kali ke rumah untuk memeriksa kompor, sebagai contohnya. Pasien memiliki keragu-raguan terhadap diri sendiri (self-doubt) yang obsesional, saat mereka selalu merasa bersalah karena melupakan atau melakukan sesuatu.

Pola ketiga yang terseing adalah pola dengan semata-mata pikiran obsesional yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Obsesi tersebut biasanya berupa pikiran berulang akan suatu tindakan seksual atau agresi yang dicela oleh pasien.

Pola keempat yang tersering adalah kebutuhan akan simetrisitas atau ketepatan, yang dapat menyebabkan perlambatan kompulsi. Pasien secara harfiah menghabisakan waktu berjam-jam untuk makan atau mencukur wajahnya. Penumpukan obsesi dan kompulsi religius adalah sering pada pasien obsesif-kompulsif. Trichotillomania (menarik rambut kompulsif) dan menggigit kuku mungkin merupakan kompulsi yang berhubungan dengan gangguan obsesif-kompulsif.1,4

  1. 2.      Diagnosis

Kriteria untuk gangguan obsesif-kompulsif diberikan dalam tabel berikut ini1,4 :

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Obsesif-Kompulsif
  1. Salah satu obsesi atau kompulsi:

Obsesi seperti yang didefinisikan oleh (1), (2), (3), dan (4):

(1)     pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang dialami, pada suatu saat selama gangguan, sebagai intrusif dan tidak sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas

(2)     pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata

(3)     orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tersebut untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan lain

(4)     orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran)

Kompulsi seperti yang didefinisikan oleh (1) dan (2) :

(1)     perilaku (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan, memeriksa) atau tindakan mental (misalnya, berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati) yang berulang yang dirasakannya mendorong untuk melakukannya sebagai respon terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus dipatuhi secara kaku.

(2)     Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau menurunkan penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan; tetapi perilaku atau tindakan mental tersebut dihubungkan dengan cara yang realistik dengan apa mereka anggap untuk menetralkan atau mencegah, atau jelas berlebihan

  1. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: ini tidak berlaku bagi anak-anak
  2. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas; menghabiskan waktu (menghabiskan lebih dari satu jam sehari); atau secara bermakna mengganggu rutinitas orang normal, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas atau hubungan sosial yang biasanya
  3. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas padanya (misalnya, preokupasi dengan makanan jika terdapat gangguan makan; menarik rambut jika terdapat trikotilomania; permasalahan pada penampilan jika terdapat gangguan dismorfik tubuh; preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan penggunaan zat; preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat suatu hipokondriasis; preokupasi dengan dorongan atau fantasi seksual jika terdapat parafilia; atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan depresif berat)
  4. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum.

Sebutkan jika :

dengan tilikan buruk: jika selama sebagian besar waktu selama episode terakhir, orang tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan.

 

  1. E.     DIAGNOSIS BANDING

     Kondisi Medis

Persyaratan diagnostik DSM-IV tentang ketegangan personal dan gangguan fungsional membedakan gangguan obsesif kompulsif dari pikiran dan kebiasaan berlebihan yang umumnya atau ringan. Gangguan neurologis utama yang dipertimbangkan di dalam diagnosis banding adalah gangguan Tourette, gangguan tik lainnya, epilepsi lobus temporalis dan kadang-kadang komplikasi trauma dan pasca ensefalitik.1

     Kondisi Psikiatri

Pertimbangan psikiatrik utama di dalam diagnosis banding gangguan obsesif kompulsif adalah skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif kompulsif, fobia, dan gangguan depresif. Gangguan obsesif-kompulsif biasanya dapat dibedakan dari skizofrenia oleh tidak adanya gejala skizofrenik lain, oleh kurang kacaunya sifat gejala, dan oleh tilikan pasien terhadap gangguan mereka. Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif tidak memiliki derajat gangguan fungsional yang berhubungan dengan gangguan obsesif kompulsif. Fobia adalah dibedakan dengan tidak adanya hubungan antara pikiran obsesif dan kompulsi. Gangguan depresif berat kadang-kadang dapat disertai oleh gagasan obsesif, tetapi pasien dengan gangguan obsesif kompulsif saja tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan depresif berat.1

  1. F.      PROGNOSIS

Lebih dari setengah pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif memiliki onset gejala yang tiba-tiba. Kira-kira 50 sampai 70 persen pasien memiliki onset gejala setelah suatu peristiwa yang menyebabkan stres, seperti kehamilan, masalah seksual, atau kematian seorang sanak saudara. Karena banyak pasien tetap merahasiakan gejalanya, mereka seringkali terlambat 5 sampai 10 tahun sebelum pasien datang untuk perhatian psikiatrik, walaupun keterlambatan tersebut kemungkinan dipersingkat dengan meningkatkan kesadaran akan gangguan tersebut diantara orang awam dan profesional. Perjalanan penyakit biasanya lama tetapi bervariasi; beberapa pasien mengalami perjalanan penyakit yang berfluktuasi, dan pasien lain mengalami perjalanan penyakit yang konstan.1

Kira-kira 20 sampai 30 persen pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif memiliki gangguan depresif berat, dan bunuh diri adalah risiko bagi semua pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Suatu progosis yang buruk dinyatakan oleh mengalah (bukannya menahan) pada kompulsi, onset pada masa anak-anak, kompulsi yang aneh (bizzare), perlu perawatan di rumah sakit, gangguan depresif berat yang menyertai, kepercayaan waham, adanya gagasan yang terlalu dipegang (overvalued) (yaitu, penerimaan obsesi dan kompulsi), dan adanya gangguan kepribadian (terutama gangguan kepribadian skizotipal). Prognosis yang baik ditandai oleh penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya peristiwa pencetus, dan suatu sifat gejala yang episodik. Isi obsesional tampaknya tidak berhubungan dengan prognosis.1

  1. G.    TERAPI OBAT

Farmakoterapi

Clomipramine. Obat standar untuk pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah clomipramine, suatu obat trisiklik spesifik serotonin yang juga digunakan untuk pengobatan gangguan depresif. Kemanjuran clomipramine dalam gangguan obsesif-kompulsif didukung oleh banyak uji coba klinis. Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25 sampai 50 mg sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg sehari setiap 2 sampai 3 hari, sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau tampaknya efek samping yang membatasi dosis. Karena clomipramine adalah suatu obat trisiklik, obat ini disertai dengan efek samping yang biasanya dari obat tersebut, termasuk sedasi, hipotensi, disfungsi seksual, dan efek samping antikolinergik (sebagai contohnya mulut kering)1

SSRI. Beberapa uji coba klinis telah menunjukkan manfaat fluoxetine dan sertraline dalam gangguan obsesif kompulsif, dan paroxetine mungkin juga efektif. Fluvoxamine juga telah terbukti efektif dalam mengobati gangguan obsesif kompulsif. Penelitian tentang fluoxetine dalam gangguan obsesif-kompulsif telah menggunakan dosis sampai 80 mg setiap hari untuk mencapai manfaat terapeutik. Walaupun SSRI adalah disertai dengan overstimulasi, kegelisahan, nyeri kepala, insomnia, mual dan efek samping gastrointestinal, SSRI sebagai suatu kelompok adalah ditoleransi dengan lebih baik daripada obat trisiklik dan dengan demikian, kadang-kadang digunakan sebagai obat lini pertama dalam pengobatan gangguan obsesif-kompulsif.1

Terapi Perilaku

Walaupun beberapa perbandingan telah dilakukan, terapi perilaku adalah sama efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif, dan beberapa data menyatakan bahwa efek bermanfaat adalah berlangsung lama dengan terapi perilaku. Dengan demikian, banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi terpilih untuk gangguan obsesif kompulsif. Terapi perilaku dapat dilakukan pada situasi rawat inap maupun rawat jalan. Pendekatan perilaku utama pada pada gangguan obsesif-kompulsif adalah pemaparan dan pencegahan respon. Desensitisasi, menghentikan pikiran, pembanjiran, terapi implosi, dan pembiasaan tegas juga telah digunakan pada pasien gangguan obsesif-kompulsif. Dalam terapi perilaku pasien harus benar-benar menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan.1

  

  1. III.      KESIMPULAN

Obsesi adalah suatu bentuk kecemasan yang didominasi oleh pikiran yang terpaku (persistence) dan berulang kali muncul (recurrent). Sedangkan kompulsi adalah perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sebagai konsekuensi dari pikiran yang bercorak obsesif tadi. Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2 sampai 3 persen. Beberapa peneliti telah memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat di klinik psikiatrik. Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering yang keempat setelah fobia, gangguan berhubungan zat, dan gangguan depresif berat. Untuk orang dewasa, laki-laki dan wanita sama mungkin terkena; tetapi untuk remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan.

Apa yang menjadi penyebab gangguan obsesif-kompulsif tidak sepenuhnya dipahami. Teori-teori utama meliputi Bilogi, Lingkungan dan Insufisiensi Serotonin. Gangguan obsesif-kompulsif memiliki empat pola gejala yang utama. Pola yang paling sering ditemukan adalah suatu obsesi akan kontaminasi. Pola kedua yang tersering adalah obsesi keragu-raguan, diikuti oleh pengecekan yang kompulsi. Pola ketiga yang terseing adalah pola dengan semata-mata pikiran obsesional yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Pola keempat yang tersering adalah kebutuhan akan simetrisitas atau ketepatan, yang dapat menyebabkan perlambatan kompulsi.

            Gangguan neurologis utama yang dipertimbangkan di dalam diagnosis banding adalah gangguan Tourette, gangguan tik lainnya, epilepsi lobus temporalis dan kadang-kadang komplikasi trauma dan pasca ensefalitik. Pertimbangan psikiatrik utama di dalam diagnosis banding gangguan obsesif kompulsif adalah skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif kompulsif, fobia, dan gangguan depresif.

            Banyak pasien tetap merahasiakan gejalanya, mereka seringkali terlambat 5 sampai 10 tahun sebelum pasien datang untuk perhatian psikiatrik, walaupun keterlambatan tersebut kemungkinan dipersingkat dengan meningkatkan kesadaran akan gangguan tersebut diantara orang awam dan profesional. Perjalanan penyakit biasanya lama tetapi bervariasi; beberapa pasien mengalami perjalanan penyakit yang berfluktuasi, dan pasien lain mengalami perjalanan penyakit yang konstan.

            Obat standar untuk pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah clomipramine, suatu obat trisiklik spesifik serotonin yang juga digunakan untuk pengobatan gangguan depresif. Beberapa uji coba klinis telah menunjukkan manfaat fluoxetine dan sertraline dalam gangguan obsesif kompulsif, dan paroxetine mungkin juga efektif. Fluvoxamine juga telah terbukti efektif dalam mengobati gangguan obsesif kompulsif. Terapi perilaku adalah sama efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif, dan beberapa data menyatakan bahwa efek bermanfaat adalah berlangsung lama dengan terapi perilaku. Dalam terapi perilaku pasien harus benar-benar menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan.

1 Comment »

  1. Catatan yg bagus…atau tugas kuliah?

    Comment by ceudah1 — January 10, 2012 @ 7:44 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: