catatan kecil

July 8, 2009

Speechless…

Filed under: catatan — ningrum @ 11:57 am

Selasa sore kemarin, saya dan Intan berencana mencari tempat tinggal seorang dokter sekaligus guru kami yang telah berpulang ke rahmatullah seminggu sebelumnya. Minggu lalu kami tidak sempat mendatangi keluarganya disebabkan kesibukan kami masing-masing. Ada cerita dibalik pencarian kami tersebut.

(alm) dokter tersebut, pernah menegur saya dan Intan sehubungan dengan busana yang kami gunakan. Saya pribadi, tidak merasa marah ataupun tersinggung dengan teguran beliau. Begitupula teman saya, Intan. Saat itu kami malah mendoakan beliau (alm) agar dibukakan pintu hatinya. Hanya saja, ternyata Intan bernazar, jika dia berhasil lulus post test dengan nilai memuaskan, dia berencana memberikan sebuah buku kepada beliau (alm). Buku yang berisi tentang bagaimana seorang muslimah seharusnya berbusana dengan baik. Tanpa bermaksud apapun, namun dengan harapan beliau (alm) akan memiliki pandangan yang lebih terbuka.

Sekitar sebulan yang lalu (kalau saya tidak salah ingat), Intan pernah mengajak saya menemui (alm) dokter tersebut. Namun karena beberapa pertimbangan ditambah kesibukan kami (duh, saya kok sok sibuk ya?), kami menunda rencana tersebut dan menunggu waktu yang tepat.

Minggu lalu, begitu mendengar kabar meninggalnya beliau, saya langsung mengirim pesan singkat kepada Intan. Dan Intan, langsung menelepon saya, terdengar bingung dan tidak percaya. Saya juga sebenarnya tidak percaya, karena sehari sebelumnya saya masih melihat beliau dari jauh, sedang berjalan dan tampak sehat wal ‘afiat. Kepergian beliau (alm) yang tiba-tiba juga membuat rekan-rekan sejawat beliau tidak percaya. Namun, begitulah maut, tak ada seorang pun yang tahu kapan ia akan datang.

Jadi begitulah, Intan tetap berencana memberikan buku tersebut kepada ahli waris almarhum. Dan kemarin sore, kami pun mencari tempat tinggal ahli waris almarhum dengan bermodal sepotong informasi, yaitu alamat. Intan menjemput saya dan kami berangkat bersama dengan kendaraan Intan. Sore itu langit tampak mendung. Kami sempat melewatkan belokan ke arah tempat tinggal beliau (alm), dan memutar balik. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami tiba di depan sebuah rumah dengan halaman yang luas. Namun sayang, pagar rumah tersebut digembok dan terlihat sepi. Ketika melihat rumah tersebut Intan tampak terkejut.

“Lho, kak… ini kan rumah teman Intan…”, begitu Intan berkata. Saya sempat heran, apakah yang dimaksud Intan teman kampus atau teman SMA. Karena kami sekolah di SMA dan universitas yang sama.

“Teman yang mana Tan? Siapa?”, saya bertanya dengan heran.

“Itu, sebenarnya dia junior kita di kampus. Tapi Tan kenalnya itu dari teman Intan yang lain. Sekitar dua tahun yang lalu, teman Tan itu ngajakin Intan berlebaran di rumah temannya ini. Namanya kalau gak salah, Ratih. Bentar ya, Tan calling teman Tan dulu”. Intan pun lalu menelepon temannya untuk konfirmasi. Dan ternyata benar, itu rumah Ratih, dan benarlah ayahnya memang meninggal minggu lalu.

Kami tidak bisa berkomentar apapun untuk bebarap saat… Diluar, langit semakin gelap dan hujan mulai turun.

“Kak, ternyata… dunia itu sempit ya?”, Intan nyeletuk.

“he eh Tan… ga nyangka ya?”

“Tapi kan Kak, dua tahun lalu, tanggapan beliau (alm) tentang jilbab sama sekali berbeda. Dia (alm) malah muji-muji Intan, dan membanding-bandingkan dengan teman Intan yang memakai jilbab gaul. Beliau (alm) malah berkata sama teman Intan yang memakai jilbab gaul, ‘Kamu pakai jilbabnya kenapa tidak seperti dia. Kan lebih bagus kalau seperti dia (memuji Intan)’. Teman Intan sampai malu. Tapi… kok waktu di RS beliau (alm) ngomongnya beda ya???”, Intan tampak heran.

Saya juga tidak tahu alasannya, jadi berusaha berpikir positif, “Mungkin karena kita berhubungan dengan pasien, terlihat ‘semak’ dan kerepotan. Makanya beliau (alm) mengusulkan yang praktis”.

“Ya, mungkinlah…”.

Karena hujan sudah turun, kami pun berbalik pulang, berencana memberikan buku tersebut pada Ratih di kampus. Hujan turun sangat deras sore itu. Jalanan berkabut, angin bertiup kencang, beberapa dahan pohon patah dan terjatuh di pinggir jalan. Intan membawa kendaraannya dengan sangat perlahan. Kami berbincang-bincang, tentang seorang guru kami yang lain, yang juga sering memprotes masalah jilbab. Betapa masih banyak orang lain dengan pikiran yang sempit menghakimi dan menuduh. Betapa masih banyak orang yang judge the book by it’s cover. Betapa kami berharap dan berdoa agar mereka dibukakan pintu hatinya untuk melihat jilbab dengan lebih terbuka. Kalaupun tidak mendukung, setidaknya membiarkannya sebagai sebuah hak asasi yang tidak seharusnya diganggu-gugat. Membiarkan orang dengan pilihannya masing-masing…

8 Comments »

  1. pakaian muslimah sll mengikuti trend, dari harga termurah sampai mahal, dmkian pula dng jilbab. betapa beragamnya model jilbab, kita tinggal pilih sesuai selera, tentunya asal sesuai dng syariat…

    Comment by guskar — July 10, 2009 @ 7:03 am | Reply

    • terima kasih ^_^
      tentunya semua memang harus berdasarkan syari’at…

      Comment by ningrum — July 10, 2009 @ 2:53 pm | Reply

  2. sayah suka wanita dengan pakaian muslimah dan jilbab panjang…kelihatannya anggguuuuun bangeeet..😀

    Comment by zev — July 12, 2009 @ 4:32 am | Reply

    • waduh… berarti mbak “anggun banget” dong hehe…
      jazakallah ya zev…

      Comment by ningrum — July 12, 2009 @ 4:01 pm | Reply

  3. iyyach…nink…koq nama anaknya ratih…aq dunk…hahahaha….

    emg msh buk koq y ngejudge somethin by it’s cover…ga musti jilbab ja ,,,pokokna penampilan fisik laennya lah….

    Comment by trivalni — July 12, 2009 @ 4:19 pm | Reply

    • waduh… ning ga tau kenapa nama anaknya sama dengan namamu teh… mungkin waktu itu nama ratih sedang ‘naik daun’ hehehe…
      yah begitulah teteh… kita memang harus ingat jangan menilai hanya bungkusnya saja…
      bisa jadi bungkusnya jelek, tapi isinya amat sangat berharga ^_^

      Comment by ningrum — July 12, 2009 @ 4:52 pm | Reply

  4. mbak memang anggun banget ( ge-er nih ) hehe

    Comment by zev — July 16, 2009 @ 8:34 pm | Reply

    • aduh aduh… beneran ge-er ni jadinya ^_^

      Comment by ningrum — July 17, 2009 @ 6:11 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: