catatan kecil

July 25, 2009

Gonorrhoea

Filed under: Kulit & Kelamin,med papers — ningrum @ 6:19 am

PENDAHULUAN

          Gonorrhoea adalah suatu penyakit bakteriil yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, suatu diplococcus Gram negatif. Tempat infeksi primer terdapat pada epithelium tanpa keratin dan glandula dari traktus genitourinarius bagian bawah laki-laki dan perempuan. Hampir pada semua kasus infeksi genitalia karena “gonococcus” disebabkan oleh hubungan sex dengan seseorang yang telah terkena infeksi. Penularan secara kebetulan pada urethra laki-laki sangat jarang; sedangkan infeksi non-sexual pada wanita dewasa, misalnya dari tempat duduk W.C (kloset) atau handuk yang telah tercemar, secara teoritis bisa terjadi. Contoh umum dari infeksi yang terjadi secara “kebetulan” tersebut adalah vulvovaginitis pada anak-anak perempuan yang belum dewasa, dan ophthalmia gonorrhoica pada neonatus serta orang dewasa yaitu suatu conjunctivitis gonorrhoica purulenta tanpa disertai infeksi genital. Suatu pengetahuan anatomi tentang tractus genito-urinarius pada kedua jenis kelamin adalah penting jika kemungkinan infeksi gonococcus harus dinilai secara keseluruhan. Pada laki-laki, interval antara waktu implantasi gonococcus pada epithelium urethrae dan munculnya gejala-gejala (masa inkubasi), biasanya bervariasi dari empat sampai tujuh hari. Masa inkubasi jarang melebihi 14 hari.1

          Pada tahun 1879, kuman Neisseria gonorrhoeae ditemukan oleh Neisser melalui pengecatan hapusan duh tubuh uretra, vagina dan konjungtiva. N. Gonorrhoeae pertama kali dikultur in vitro oleh Leistikow pada tahun 1882. Keberadaan medium Thayer Martin sangat memudahkan penegakan diagnosis gonorrhoeae dan memberikan kontribusi penemuan sejumlah kasus gonore pada wanita. Istilah “gonore” pertama kali digunakan oleh Galen pada abad kedua, yang mengandung arti benih yang mengalir. Infeksi gonore umumnya terbatas pada epitel kolumnar pada permukaan mukosa superfisialis.2

 

DEFINISI

          Gonore mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae.3

 

ETIOLOGI

          Gonore disebabkan oleh gonokok yang ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879 dan baru diumumkan pada tahun 1882. Kuman tersebut dimasukkan dalam kelompok Neisseria, sebagai Neisseria gonorrhoeae. Selain spesies itu, terdapat 3 spesien lain, yaitu  N. meningitidis, dan 2 lainnya yang bersifat komensal N. catarrhalis serta N. pharyngis sicca. Keempat spesies ini sukar dibedakan kecuali dengan tes fermentasi.3

Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi dengan lebar 0,8 µ, panjang 1,6 µ dan bersifat tahan asam. Kuman ini bersifat negatif-Gram, tampak diluar dan didalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati pada keadaan kering, tidak tahan suhu diatas 39°C, dan tidak tahan zat desinfektan.3

          Secara morfologik gonokok ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang.3

          Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang (imatur), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.3

          Galur N. gonorrhoeae penghasil penisilinase (NGPP) merupakan galur gonokokus yang mampu menghasilkan enzim penisilinase atau β-laktamase yang dapat merusak penisilin menjadi senyawa inaktif, sehingga sukar diobati dengan penisilin dan derivatnya, walaupun dengan peninggian dosis. Pertama kali ditemukan pada pertengahan tahun 1970-an dan dengan cepat meluas ke berbagai negara di dunia. Di Afrika Barat dan Timur Jauh, tempat pertama kali ditemukannya tetap merupakan endemik, dan didapatkan pada lebih 1/3 isolat. Survei di Filipina melaporkan sebanyak 30-40% isolat merupakan NGPP, dan terutama ditemukan pada pekerja seks komersial. Di Indonesia mulai dilaporkan pada tahun 1980 di Jakarta. Di kota-kota besar Indonesia, NGPP terdapat sebanyak 40-60%, sedangkan di kota-kota kecil sampai saat ini belum diperoleh data mengenai hal itu.3

 

MANIFESTASI KLINIS

          Masa tunas pada laki-laki berkisar antara 2-17 hari rata-rata 4-5 hari. Sedangkan pada wanita belum dapat ditentukan karena sering bersifat asimtomatik. Penularan melalui hubungan seksual (terutama) atau peroral dan kadang-kadang secara tak langsung melalui tangan, pakaian, handuk, pada tempat duduk WC. Pasien yang sering menjadi penular adalah yang tak menunjukkan gejala.4

Pada laki-laki

          Ia tersering menyebabkan uretritis anterior. Dari sini bisa menjalar menjadi uretritis posterior lalu komplikasinya, prostatitis yang kadang-kadang berlanjut ke deferentitis, epididimitis, orkitis atau menjalar secara sistemik.4

          Uretritis anterior menunjukkan gejala sekret uretra, disuria, sering miksi dan eritema meatus. Pada uretritis anterior gejalanya lebih terlokalisasi di distal dan yang posterior pada proksimal. Bisa terdapat nyeri pada ereksi, polakisuria, nikturia bahkan hematuria. Antara uretritis anterior dan posterior dibedakan dengan tes urine 2 gelas (Thompson). Pada uretritis anterior terdapat kekeruhan pada porsi pertama dan pada panuretritis (uretritis totalis = uretritis anterior + uretritis posterior) maka kedua porsi urine keruh. Sekarang ia telah ditinggalkan karena adanya pengobatan sistemik. Pada pemeriksaan fisik ditemukan ostium uretra eksternum merah, bengkak dengan ektropion. Terdapat sekret (evoulement) yang mukopurulen (akut) atau seropurulen (subakut). Bila panuretritis menahun maka pada pagi hari ada tetesan nanah di meatus uretra yang dinamakan “good morning drip” (tetesan selamat pagi). Bisa timbul komplikasi striktura uretra.4

          Prostatitis akuta hampir tak ada. Gejalanya tidak begitu hebat, dan biasanya mengikuti uretritis total. Bila prostatitis akuta tak sembuh, maka ia menjadi kronis. Prostatitis kronika menunjukkan rasa kurang enak samar-samar di daerah perineum. Pada toucher, prostat teraba membesar, permukaannya normal, nyeri dan agak keras. Biakan bahan pijatan prostat jarang menunjukkan kumannya.4

          Bila uretritis subkronis sukar sembuh maka prostat harus diperiksa. Diferentitis menunjukkan duktus deferens meradang akut, teraba lebih membesar, lebih keras, namun keluhannya ringan. Biasanya bersama epididimitis. Selain itu bisa timbul limfadenitis inguinalis, edema penis karena limfangitis atau tromboflebitis dorsalis, abses periuretral (littre), fistula, abses atau peradangan glandula cowper, abses glandula Tyson (dengan muara pada kedua sisi frenulum) atau vesikulitis seminalis. Kelenjar-kelenjar parauretra ini bisa menjadi tempat bersembunyinya kuman ini.4

Pada laki-laki homoseks bisa timbul gonore anorektal dan faringeal (bisa juga karena pelacur). Pada anorektal memberi gejala nyeri anorektal, pruritus, tenesmus, sekret rektum mukopurulen berdarah. Sedangkan gonore faringeal memberikan gejala tonsilitis eksudatif, tetapi sering tanpa gejala (bila menahun).4

Pada wanita

Gonore pada wanita dibagi menjadi :

–         gonore bawah (serviks dan bagian lebih distal)

–         gonore peralihan (pada endometrium)

–         gonore atas (proksimal endometrium)

Yang pertama dan ke dua menjadi bagian ahli dermatovenerologi sedangkan yang ketiga termasuk bidang ginekologi.4

Uretritis memberikan gejala lebih ringan daipada laki-laki, terlihat adanya edema dan kemerahan atau ektropion pada ostium uretra. Penekanan uretra melalui dinding anterior vagina ke simfisis bisa mengeluarkan eksudat yang bisa diperiksa. Gejala disuria pada wanita muda harus disertai dengan pemeriksaan pelvis menyeluruh. Pengobatan yang tak mencukupi bisa membuat gejala mereda. Sedangkan infeksi pada duktus parauretra (skene) tidak selalu memberi gejala dan tanda, sering menjadi tempat sembunyinya gonokokus yang bisa residif.4

Bartolinitis akuta (bisa juga pada NGU) menunjukkan maculae gonorrhoicae berupa titik merah pada muara kelenjar (sepertiga posterior jarak komisura posterior ke komisura anterior ), juga ditemukan pus pada labium majus. Penyumbatan duktusnya bisa menimbulkan abses. Penderita susah berjalan karena nyeri. Ia juga bisa menahun. Glandula bartholini vibrotika atau sistika timbul pada infeksi subklinis berulang yang menyebabkan kelenjar membesar atau mengecil periodik.4

Kolpitis (vaginitis) terlihat pada wanita prapubertas atau yang dalam masa menopause karena epitelnya thoraks, suasananya lebih basa dan kadar estrogennya rendah. Bisa terjadi penularan manual pada anak yang diceboki oleh pengasuh yang menderita penyakit ini (kolpitis infantilis), dengan keluhan gatal dan keputihan, yang muserosa atau mukopurulen. Bisa juga menjadi vulvovaginitis (lebih jarang).4

Servisitis akuta tidak banyak memberikan keluhan bisa tredapat nyeri saktral atau di abdomen bawah. Bisa tredapat keputihan, yang bisa merangsang liang vagina, vulva dan paha. Inspekulo terlihat serviks normal atau ada eversio dan banyak sekret. Pada servisitis kronika gejalanya lebih sedikit dan samar-samar. Kadang-kadang ada eversio atau ovulae nabothi (kista retensi kelanjar mukosa).4

Selain itu bisa juga timbul infeksi pada rektum dan kanalis analis (sering dari genitalia) serta faring. Dari endoserviks bisa meluas ke tuba fallopii yang menimbulkan ‘one child sterility’), yang umumnya timbul selama menstrusi dan bersama endometritis akuta memberi gejala perdarahan haid abnormal, nyeri dan nyeri tekan di abdomen bawah. Bila mencapai pelvis menimbulkan peritonitis dan abses kavum douglasi. Juga timbul adneksitis (ooforitis dan salfingitis). Ia meningkatkan morbiditas perinatal dengan prematuritas dan partus lama.4

Pada anak-anak

          Ia bisa melibatkan konjungtiva, faring, saluran pernafasan atau kanalis analis. Karena neonatus kurang IgM bakterisidal maka bisa timbul bakteremia.4

Bentuk diseminata

          Ia ditandai oleh demam, poliartralgia, lesi kulit papula, ptekia, pustula, hemoragika atau nekrotik. Sekitar 3-20% mengenai ekstremitas distal. Ia melibatkan beberapa sendi (artritis) lainnya bisa menimbulkan mioperikarditis, hepatitis, endokarditis dan meningitis. Umumnya bentuk ini lebih sering pada wanita.4

 

DIAGNOSIS

          Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan pembantu yang terdiri atas beberapa tahapan.

  1. A.    Sediaan langsung

Pada sediaan langsung dengan pengecatan Gram akan ditemukan gonokok negatif-Gram, intraselular dan ekstraselular. Bahan duh tubuh pada pria diambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar Bartholin, serviks dan rektum.3

Pemeriksaan Gram dari duh uretra pada pria memiliki sensitivitas tinggi (90-95%) dan spesifitas 95-99%. Sedangkan dari endoserviks, sensitivitasnya hanya 45-65%, dengan spesifitas 90-99%. Pemeriksaan ini direkomendasikan untuk dilakukan di klinik luar rumah sakit/praktek pribadi, klinik dengan pemeriksaan laboratorium terbatas, maupun untuk rumah sakit dengan fasilitas laboratorium lengkap.3

 

 

  1. B.    Kultur (biakan)

Untuk identifikasi perlu dilakukan kultur (pembiakan). Dua macam media yang dapat digunakan ialah media transpor dan media pertumbuhan.3

Contoh media transpor:3

–         Media Stuart: hanya untuk transpor saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media pertumbuhan.

–         Media Transgrow: selektif dan nutritif untuk N. gonorrhoeae dan N. meningitidis, dalam perjalanan dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan media transpor dan media pertumbuhan, sehingga tidak perlu ditanam pada media pertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media Thayer-Martin dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp.

Contoh media pertumbuhan:3

–         Media Thayer-Martin: selektif untuk mengisolasi gonokok. Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positif-Gram, kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-Gram, dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur.

–         Modifikasi Thayer-Martin: isinya ditambah dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan kuman Proteus spp.

–         Agar coklat McLeod: dapat ditumbuhi kuman lain selain gonokok.

Pemeriksaan kultur dengan bahan dari duh uretra pria, sensitivitasnya lebih tinggi (94-98%) daripada duh endoserviks (85-95%).3

Sedangkan spesifitas dari kedua bahan tersebut sama yaitu > 99%. Pemeriksaan kultur ini dianjurkan untuk dilakukan pada rumah sakit dengan fasilitas laboratorium lengkap maupun terbatas.3

 

  1. C.    Tes definitif
    1. Tes oksidasi

Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka. Semua Neisseria memberi reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung.3

  1. Tes fermentasi

Tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai glukosa, maltosa, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan gluklosa.3

  1. D.    Tes beta-laktamase

Tes ini menggunakan cefinase TM disc. BBL 96192 yang mengandung chromogenic cephalosporin. Apabila kuman ini mengandung enzim beta-laktamase, akan menyebabkan perubahan warna dari kuning menjadi merah.3

  1. E.    Tes Thomson

Tes ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung. Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan pada waktu itu ialah pengobatan setempat.3

Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan:

–         Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi

–         Urin dibagi dalam dua gelas

–         Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II

Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit 80-100 ml, jika kurang maka gelas II sukar dinilai karena baru menguras uretra anterior.3

Hasil pembacaan:

Gelas I

Gelas II

Arti

Jernih

Jernih

Tidak ada infeksi

Keruh

Jernih

Infeksi uretritis anterior

Keruh

Keruh

Panuretritis

Jernih

Keruh

Tidak mungkin

  1. F.    Tes nucleid acid amplification

Tes ini lebih sensitif dan spesifik daripada teknik non-amplifikasi. Untuk mendeteksi N. Gonorrhoeae pada spesimen hapusan uretra yang diperoleh dari laki-laki dan spesimen urine yang diperoleh dari laki-laki dan wanita. Tes ini lebih cepat daripada kultur, lebih spesifik daripada immunoassay, dan tidak memerlukan viabilitas organisme.2

  1. G.   Tes lainnya

Tes lainnya yang bisa digunakan, jika tersedia, untuk mendeteksi antigen atau genom gonokokus dalam eksudat, antara lain:2

–         Fluorescein-conjugated monoclonal antibodies

–         Enzyme-linked immunoassays

–         Polymerase chain reaction test

 

PENGOBATAN

          Dengan bertambah banyaknya ragam antibiotik yang berhasil disintesis akhir-akhir ini memperkuat dugaan sebelumnya bahwa uretritis gonore akan dapat terberantas secara tuntas. Kenyataannya hal seperti ini tidak seluruhnya benar. Tidak jarang penderita uretritis gonore tak kunjung sembuh meskipun telah minum sendiri antibiotik yang mahal sekalipun. Penderita lain dengan sakit yang sama berobat ke dokter, kemudian sembuh. Berdasarkan pengalaman tersebut, setiap kali sakit setelah hubungan seksual, pasien selalu minum obat yang sama tanpa memeriksakan diri ke dokter lebih dahulu. Kasus seperti diatas sering terjadi dalam praktik sehari-hari.2

Antibiotik terutama yang berspektrum luas memang dapat menyembuhkan sementara, sehingga penderita merasa lebih nyaman dan mengira penyakitnya telah sembuh. Secara tidak disadari penyakitnya akan berjalan terus dan biasanya penderita datang kembali ke dokter setelah timbul penyulit.2

Pada dasarnya pengobatan uretritis baru diberikan setelah diagnosis ditegakkan. Antibiotik canggih dan mahal tanpa didasari diagnosis, dosis dan cara pemakaian yang tepat tidak akan menjamin kesembuhan dan bahkan dapat memberi dampak berbahaya dalam penggunaannya, misalnya resistensi kuman penyebab.2

Pada kebanyakan kasus, pengobatan dengan antibiotik terhadap gonorrhoea akut akan efektif dengan cepat. Selama pengobatan, dan sampai dinyatakan efektif, tiap hari penderita harus minum air > 3 liter, menjauhi alkohol dan hubungan seks, serta memperhatikan aspek-aspek kesehatan seperti istirahat dan tidur. Harus hati-hati dalam membuang barang-barang kotoran serta sekret uretra pada 48 jam pertama. Infeksi non-seksual lebih mungkin terjadi pada anak-anak perempuan daripada lainnya. Pasangan seksual harus diperiksa dan diobati agar tidak terjadi “fenomena pingpong”.1,2

Macam-macam obat yang dapat dipakai antara lain ialah :

Penisilin

          Yang efektif ialah penisilin G prokain akua. Dosis 3-4,8 juta unit + 1 gram probenesid. Obat tersebut dapat menutupi gejala sifilis. Kontraindikasinya ialah alergi penisilin.3

Ampisilin dan amoksisilin

          Ampisilin dosisnya ialah 3,5 gram + 1 gram probenesid, dan amoksisilin 3 gram + 1 gram probenesid. Suntikan ampisilin tidak dianjurkan. Kontraindikasinya ialah alergi penisilin.3

Sefalosporin

          Seftriakson (generasi ke-3) cukup efektif dengan dosis 250 mg IM. Sefoperazon dengan dosis 0,50 – 1,00 gram secara intramuskular. Dosis ini cukup aman dan efektif untuk mengobati gonore tanpa komplikasi di semua tempat. Obat ini dapat menutupi gejala sifilis.3

Spektinomisin

          Dosisnya ialah 2 gram IM baik untuk penderita yang alergi penisilin, yang mengalami kegagalan pengobatan dengan penisilin, dan terhadap penderita yang juga tersangka menderita sifilis karena obat ini tidak menutupi gejala sifilis. Namun obat ini relatif tidak efektif untuk infeksi gonore pada faring.3

Kanamisin

          Dosisnya 2 gram IM. Kebaikan obat ini sama dengan spektinomisin. Kontraindikasinya kehamilan.3

Tiamfenikol

          Dosisnya 2,5-3,5 gram, secara oral. Tidak dianjurkan pemakaian pada kehamilan.3

Kuinolon

          Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400 mg, siprofoksasin 250-500 mg, secara oral. Di Asia dan Amerika Utara sudah mulai dijumpai galur-galur yang menurun kepekaannya terhadap kuinolon. Kuinolon tidak boleh diberikan untuk wanita hamil atau menyusui ataupun orang yang berumur dibawah 17 tahun.3

          Obat dengan dosis tunggal yang tidak efektif lagi untuk pengobatan gonore saat ini ialah: tetrasiklin, streptomisin dan spiramisin.3

          Obat-obat yang dapat digunakan untuk pengobatan gonore dengan galur NGPP ialah: spektinomisin, kanamisin, sefalosporin, ofloksasin dan tiamfenikol.3

          Sesuai panduan dari WHO 2003 terapi uretritis gonore adalah sebagai berikut:

  • Uretritis gonore tanpa komplikasi mendapat regimen terapi :

–         Cefixime 400 mg per oral dosis tunggal atau

–         Ceftriaxone 125 mg IM dosis tunggal atau

–         Ciprofloxacin 500 mg per oral dosis tunggal atau

–         Spectinomycin, 2 g IM injeksi, dosis tunggal.

Ciprofloxacin kontraindikasi untuk ibu hamil dan tidak dianjurkan untuk anak-anak.2

  • Uretritis gonore dengan komplikasi (lokal) dapat diberikan regimen berikut:2

–         Ciprofloxacin, 500 mg, oral, selama 5 hari atau

–         Ceftriaxone, 125 mg IM, selama 5 hari atau

–         Cefixime, 400 mg, oral, selama 5 hari atau

–         Spectinomycine, 2 g IM, selama 5 hari

  • Regimen terapi untuk infeksi disseminated gonococcal adalah sebagai berikut:

–         Ceftriaxone,1 g IM/IV, 1 kali sehari selama 7 hari atau

–         Spectinomycine, 2 g IM, 2 kali sehari selama 7 hari

Untuk meningitis dan endokarditis gonokokal mendapat dosis yang sama dengan yang tersebut di atas tetapi perlu diperpanjang selama 4 minggu.2

 

INFEKSI PERSISTEN

          Kegagalan dalam terapi gonorrhoea akut, mungkin disebabkan karena salah satu dari beberapa sebab-sebab yang sudah jelas; penderita mungkin tidak datang tiap hari untuk mendapat suntikan antibiotika; mungkin penderita telah banyak minum alkohol atau telah mengadakan hubungan seks lagi dengan seseorang yang terkena infeksi; infeksi mungkin telah meluas lebih lanjut kedalam jaringan dan adneksa dari tractus genitalis, dengan demikian mengaburkan gambaran sebelum pengobatan; adanya kelainan anatomi seperti sinus pada meatus atau hipospadia; infeksi ganda (misalnya uretritis karena trichomonas, virus, mycoplasma atau bakteri campuran).1

 

KRITERIA PENYEMBUHAN

          Dapat diringkas sebagai berikut : hilangnya gejala-gejala dan tanda-tanda; tidak adanya gonococci pada sediaan olesan; pada wanita kultur gonococci negatif; pada laki-laki urin tampak normal; tes fixasi komplemen untuk gonococcus negatif.1

          Waktu untuk observasi paling sedikit perlu satu bulan pada laki-laki dan wanita tiga kali kultur negatif yang masing-masing diambil pada akhir waktu satu bulan observasi (bila sekresi cervical masih lebih banyak). Tanpa dilakukan suatu periode pengawasan, kriteria penyembuhan gonorrhoea kurang berguna. Organisme mungkin terdapat pada jaringan, menyebabkan respon peradangan yang minimal atau tidak kentara sama sekali sampai kemudian terjadi kekambuhan kembali. Pada laki-laki respon terhadap pengobatan dinilai lebih efektif dari padawanita. Pada wanita juga diperlukan tindakan perawatan yang lebih cermat sebelum dinyatakan sembuh.1

Jika reaksi terhadap pengobatan terlambat atau tidak memuaskan pada laki-laki,makaglandula prostata serta sekresinya perlu diperiksa dan dilakukan urethroskopi.1

Suatu pengawasan rutin terhadap syphilis harus dijalankan terhadap semua kasus dengan interval tiga bulan. Untuk mengesampingkan syphilis yang gejalanya tertutup karena penicillin yang ditujukan untuk mengobati gonorrhoea, maka dianjurkan agar enam bulan kemudian diperiksa lagi.1

 

PROGNOSIS

Sebagian besar infeksi gonore memberikan respons yang cepat terhadap pengobatan dengan antibiotik. Prognosis baik jika diobati dengan cepat dan lengkap.2

 

PENCEGAHAN DAN EDUKASI2

  • Semua pasien dengan infeksi gonore seharusnya melibatkan pasangan seksualnya dalam evaluasi dan pengobatan.
  • Pasien seharusnya menghindari kontak seksual sampai pengobatan selesai dan juga sampai pasangan seksualnya selesai dievaluasi dan diobati.
  • Penjelasan pada pasien dengan baik dan benar sangat berpengaruh pada keberhasilan pengobatan dan pencegahan karena gonore dapat menular kembali dan dapat terjadi komplikasi apabila tidak diobati secara tuntas.
  • Penggunaan kondom masih dianggap yang paling baik.
  • Pendidikan moral, agama dan seks perlu diperhatikan.

4 Comments »

  1. info yang sangat bagus, kritis dan membangun….. trim’s

    Comment by Peduli Pendidikan — July 25, 2009 @ 8:38 am | Reply

    • sama-sama… semoga bermanfaat🙂

      Comment by ningrum — July 25, 2009 @ 8:29 pm | Reply

  2. waduh gak ngerti aku😀

    Comment by maspai — September 27, 2011 @ 10:48 am | Reply

  3. Desember 2010 terindikasi gejala GO gejala pd uretritis anterior di terapi dgn antibiotik dosis tunggal per oral & juga antibiotik doksisiklin 100 mg 2 X sehari sd 10 hari & sembuh.
    Tetapi pada pemeriksaan sekret uretra april 2012, di temukan diplococus negative ekstraseluler tetapi tidak ada gejala umum yang disebutkan diatas, mohon penjelasan ?

    Comment by sueb — April 27, 2012 @ 3:08 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: