catatan kecil

September 4, 2009

Rabies

Filed under: med papers,PH — ningrum @ 9:08 am

PENDAHULUAN 

Latar Belakang

Mengingat bahaya dan keganasan rabies terhadap kesehatan dan ketenteraman hidup masyarakat maka usaha pengendalian penyakit berupa pencegahan, pemberantasan dan penanggulangan perlu dilaksanakan seintensif mungkin. Untuk melakukan hal tersebut perlu adanya pedoman umum bagi para petugas Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian dan Departemen Dalam Negeri.12

Rabies adalah penyakit menular yang akut dari susunan syaraf pusat yang dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia yang disebabkan oleh virus rabies. Bahaya rabies berupa kematian yang menganggu ketenteraman hidup masyarakat. Hewan seperti anjing, kucing dan kera yang menderita rabies akan menjadi ganas dan biasanya cenderung menyerang atau menggigit manusia. Penderita rabies sekali gejala klinis timbul biasanya diakhiri dengan kematian. Terhadap bahaya rabies termasuk diatas akan mengakibatkan timbulnya rasa cemas atau rasa takut baik terhadap orang yang digigit ataupun masyarakat pada umumnya.12

Sepanjang tahun 2008, terdapat 441 kasus gigitan hewan rabies yang menimpa warga Medan. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2007 sebanyak 352 gigitan dan tahun 2006 yang berjumlah 314 gigitan. Berdasarkan data ini, distribusi penderita gigitan hewan rabies berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2008 adalah laki-laki lebih banyak daripada perempuan, yaitu 247 orang laki-laki dan 194 perempuan. Berdasarkan kelompok umur, kasus gigitan paling banyak adalah pada kelompok umur 15 – 45 tahun yaitu sebanyak 186 kasus gigitan, sedangkan pada kelompok umur 5 – 14 tahun sebanyak 127 kasus gigitan, disusul kelompok umur > 45 tahun sebanyak 81 kasus gigitan dan kelompok umur 0 – 4 tahun sebanyak 47 kasus gigitan.15

 

DEFINISI

Rabies adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies, dan ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies terutama anjing, kucing dan kera.13

 

EPIDEMIOLOGI

Rabies merupakan penyakit yang dapat dijumpai di seluruh dunia, terutama di tempat dimana pengendalian binatang liar yang menjadi reservoir dan penyebaran penyakit masih menjadi masalah.1

Di Indonesia sampai akhir tahun 1977, rabies tersebar di 20 propinsi dan 7 propinsi dinyatakan bebas rabies adalah Bali, NTB, Maluku, NTT, Irian Jaya dan Kalimantan Barat.2

Data tahun 2001 menunjukkan terdapat 7 propinsi yang bebas Rabies yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bali, NTB, Maluku dan Irian Jaya. Data rabies yang akurat jarang dijumpai pada banyak Negara di dunia sehingga sulit untuk menentukan insidensi penyakit ini secara global.2

Pada survey 1999, 45 negara dari 145 negara yang disurvey dilaporkan tidak dijumpai kasus rabies di tahun tersebut. Jumlah kematian di dunia karena penyakit rabies pada manusia diperkirakan lebih 50.000 orang tiap tahunnya dan terbanyak pada Negara-negara Asia dan Afrika yang merupakan daerah endemis rabies.2

Dari tahun 1997-2003 dilaporkan lebih 86.000 kasus gigitan binatang tersangka rabies di seluruh Indonesia (rata-rata per tahun 12.400 kasus) dan yang terbukti rabies 538 orang (rata-rata 76 kasus per tahun). Pada tahun 2000 kasus rabies paling banyak dilaporkan dari propinsi NTT (59 kasus), Sulawesi Tenggara (14 kasus), Sumatera Barat (8 kasus), Bengkulu dan Sulawesi Selatan (masing-masing 7 kasus). Pada tahun 2001, kasus terbanyak terjadi Sumatera Barat (18 kasus), Sulawesi Tenggara (13 kasus) dan NTT (11 kasus), sedangkan pada tahun 2002 dan 2003 tidak ada propinsi yang melaporkan lebih dari 10 kasus per tahun.2

Sepanjang tahun 2008, terdapat 441 kasus gigitan hewan rabies yang menimpa warga Medan. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2007 sebanyak 352 gigitan dan tahun 2006 yang berjumlah 314 gigitan. Berdasarkan data ini, distribusi penderita gigitan hewan rabies berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2008 adalah laki-laki lebih banyak daripada perempuan, yaitu 247 orang laki-laki dan 194 perempuan. Berdasarkan kelompok umur, kasus gigitan paling banyak adalah pada kelompok umur 15 – 45 tahun yaitu sebanyak 186 kasus gigitan, sedangkan pada kelompok umur 5 – 14 tahun sebanyak 127 kasus gigitan, disusul kelompok umur > 45 tahun sebanyak 81 kasus gigitan dan kelompok umur 0 – 4 tahun sebanyak 47 kasus gigitan.15

Distribusi jumlah kasus Rabies tahun 2008 di Medan berdasarkan kecamatan, ditemukan jumlah kasus gigitan tertinggi berada di Kecamatan Medan Tuntungan, disusul Kecamatan Medan Amplas dan Kecamatan Medan Helvetia:15

  • Kecamatan Medan Tuntungan                   : 63 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Amplas                         : 45 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Helvetia                        : 40 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Tembung                      : 35 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Selayang                       : 34 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Johor                             : 32 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Sunggal                         : 31 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Petisah                          : 29 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Perjuangan                  : 24 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Denai                             : 24 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Marelan                        : 16 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Barat                              : 13 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Baru                               : 11 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Kota                              : 10 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Polonia                         : 10 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Labuhan                       : 8 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Timur                           : 6 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Deli                                : 4 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Area                              : 2 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Maimun                        : 2 kasus gigitan
  • Kecamatan Medan Belawan                       : 2 kasus gigitan

 

ETIOLOGI DAN PENULARAN

ETIOLOGI

Virus Rabies merupakan virus asam ribonukleat beruntai tunggal, beramplop, berbentuk peluru dengan diameter 75 – 80 nm termasuk anggota kelompok Rhabdovirus. Termasuk virus RNA negatif berselubung. Amplop glikoprotein tersusun dalam struktur seperti tombol yang meliputi permukaan virion berbentuk batan atau silindris. Virion berukuran berbeda – beda dari ukuran panjang antara 60 nm – 400 nm dan lebar antara 60 nm – 80 nm.  Glikoprotein virus terikat pada reseptor asetilkolin, menambah neurovirulensi virus rabies, membangkitkan antibody neutralisasi dan antibodi penghambat hemaglutinasi, dan merangsang imunitas sel T. Antigen nukleokapsid merangsang antibodi yang mengikat komplemen. Nukleokapsid adalah helikal dan dikelilingi oleh selubung yang tersusun dari dua lapis lipid yang mempunyai proyeksi permukaan yang terjadi dari suatu glikoprotein G dan dua matriks non glikosilated protein yaitu M1 dan M2. Antibodi neutralisasi pada permukaan glikoprotein tampaknya bersifat protektif. Antibodi antirabies digunakan pada analisis imunofloresensi diagnostik yang umumnya ditujukan pada antigen nukleopaksid. Isolasi virus rabies dare spesies binatang yang berbeda dan memiliki perbedaan sifat antigenik dan biologik. Variasi – variasi ini bertanggug jawab terhadap perbedaan dalam virulensi antara isolasi. Interferon diinduksi oleh virus rabies, khususnyadalam jaringan dengan konsentrasi virus yang tinggi, dan berperan dalam memperlambat infeksi yang progresif.3,7, 8

 PENULARAN 

Penularan terjadi melalui beberapa cara:1

  • Kontak dengan binatang

Inokulasi virus rabies kedalam luka atau membran mukosa akan menyebabkan infeksi. Kulit yang utuh merupakan barrier bagi masuknya virus. Manusia biasanya diinfeksi melalui ludah yang mengandung virus rabies dan diinokulasi sewaktu digigit anjing.

  • Dari manusia ke manusia

Terdapat laporan terjadinya transmisi rabies melalui transplantasi kornea dan pembuluh darah dari orang yang telah terinfeksi.

  • Inhalasi

Infeksi melalui inhalasi terjadi akibat inhalasi udara yang mengandung virus rabies yang didapatkan dari airbone binatang yaitu kelelawar yang terinfeksi (jarang).

  • Vaksinasi

Infeksi terjadi karena vaksin mengandung virus rabies yang belum mati.

Meskipun air liur binatang yang menderita rabies adalah infektif, tetapi tidak setiap gigitannya selalu menimbulkan rabies. Hanya sekitar 5-15% penderita gigitan anjing atau binatang penderita rabies akan menjadi sakit.4

 

INFEKSI DAN PENYEBARAN

Virus memasuki tubuh melalui luka terbuka atau lecet kulit yang tercemar air ludah binatang yang menderita rabies. Melalui saraf-saraf kecil, virus menyebar dengan cara difusi dan memperbanyak diri di sepanjang saraf tersebut, kemudian naik ke saraf perifer menuju ke spinal kord dan otak. Di sini virus mengadakan difusi kedalam sistem saraf pusat kemudian menyebar secara sentrifugal ke bawah menuju saraf-saraf pusat (ganglion) berbagai organ. Hasil sekresi organ-organ juga akan menjadi infektif jika ia berhubungan dengan sel-sel ganglion yang terinfeksi.4

Pemeriksaan jenazah pada manusia yang meninggal akibat rabies maupun pada hewan-hewan yang mati akibat penyakit ini pada umumnya tidak menunjukkan perubahan-perubahan yang mencolok. Selain dijumpai meningoensefalitis dengan udem dan hiperemia, sistem saraf pusat juga mengalami perdarahan-perdarahan kecil. Negri bodies suatu badan berbentuk bulat kecil berukuran antara 0,25-25 µ, banyak dijumpai pada sitoplasma sel-sel saraf dan sel otak. Pada anjing negri bodies mudah dijumpai pada hippocampus.4

 

TANDA-TANDA PENYAKIT RABIES PADA HEWAN DAN MANUSIA14

Pada hewan, penyakit Rabies dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu bentuk diam/tenang (Dumb Rabies) dan bentuk ganas (Furious Rabies).

 

Tanda – tanda Rabies bentuk diam/tenang (Dumb Rabies) :

*        Suka bersembunyi di tempat yang gelap dan sejuk.

*        Terjadi kelumpuhan tubuh, hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan air liur menetes berlebihan.

*        Kejang berlangsung singkat dan kadang sering tidak terlihat.

*        Tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Kematian akan terjadi dalam beberapa jam.

 

Tanda – tanda Rabies bentuk ganas (Furious Rabies) :

*        Hewan menjadi tidak ramah, agresif dan tidak lagi menurut pemiliknya.

*        Air liur keluar berlebihan, nafsu makan hilang, suara menjadi parau.

*        Menyerang dan menggigit apa saja yang dijumpai.

*        Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilengkungkan ke bawah perut diantara kedua paha belakangnya.

*        Anak anjing menjadi lebih lincah dan suka bermain, Tetapi bila dipegang akan menggigit dan menjadi ganas dalam beberapa jam.

*        Kejang-kejang kemudian lumpuh, biasanya mati setelah 4-7 hari timbul gejala atau paling lama 12 hari setelah penggigitan.

Pada hewan pemamah biak, tanda klinis rabies ditandai hewan menjadi gelisah, gugup, liar dan rasa gatal pada tubuh, terdapat kelumpuhan pada kaki belakang dan akhirnya hewan akan mati.

 

Tanda-Tanda Rabies Pada Manusia

*        Stadium permulaan rabies sulit diketahui, sehingga perlu diperhatikan riwayat gigitan hewan penular rabies seperti anjing, kucing dan kera.

*        Timbul gejala-gejala lesu, nafsu makan hilang, mual, demam tinggi, sakit kepala, dan tidak bisa tidur.

*        Rasa nyeri di tempat bekas luka gigitan dan nampak kesakitan serta menjadi gugup, bicara tidak karuan, dan selalu ingin bergerak.

*        Rasa takut pada air yang berlebihan, peka suara keras dan cahaya serta udara.

*        Air liur dan air mata keluar berlebihan, pupil mata membesar.

*        Kejang-kejang lalu mengalami kelumpuhan dan akhirnya meninggal dunia. Biasanya penderita meninggal 4-6 hari setelah gejala-gejala / tanda-tanda pertama timbul.

 

DIAGNOSIS DAN TEMUAN KLINIS

Rabies merupakan penyakit primer pada hewan tingkat rendah dan menyebar ke manusia melalui gigitan atau kontak dengan saliva hewan yang terinfeksi rabies. Penyakit ini adalah ensefalitis yang akut, fulminan, dan fatal. Masa inkubasi pada manusia khasnya 1-2 bulan, tetapi dapat hanya 1 minggu hingga beberapa tahun (sampai 19 tahun). Masa inkubasi biasanya lebih pendek pada anak daripada orang dewasa. Spektrum klinis dapat dibagi menjadi 3 fase : fase prodromal yang singkat, fase neurologis akut dan koma. Fase prodromal, berlangsung selama 2-10 hari, dapat menunjukkan salah satu gejala non-spesifik berikut: malaise, anoreksia, nyeri kepala, fotofobia, mual dan muntah, nyeri tenggorok, dan demam. Biasanya terdapat sensasi abnormal di sekitar tempat luka.5

Selama fase neurologis akut, yang berlangsung 2-7 hari, pasien menunjukkan tanda-tanda disfungsi sistem saraf pusat seperti gugup, cemas, halusinasi, serta perilaku aneh. Terlihat hiperaktivitas simpatis umum, berupa lakrimasi, dilatasi pupil, dan peningkatan saliva serta perspirasi. Sebagian besar pasien akan menunjukkan hidrofobia (takut terhadap air). Aktivitas menelan menunjukkan spasme yang nyeri pada otot tenggorok. Fase ini diikuti oleh kejang konvulsif atau koma dan kematian. Penyebab utama kematian adalah paralisis pernafasan.5

PENATALAKSANAAN1

Pengelolaan pada manusia

Prinsip umum dari post exposure adalah meminimalkan jumlah virus di tempat inokulasi dengan terapi lokal pada luka dan menimbulkan neutralizing titer antibody sedini mungkin dan selama mungkin terhadap virus. Pengobatan hanya berupa terapi paliatif dan terapi simtomatis saja.1, 9

  • Pengobatan luka

Luka harus dibersihkan / disikat dengan sabun detergen dan dibilas dengan air kurang lebih 5 menit. Jika terjadi perdarahan, maka perdarahan tersebut segera dihentikan. Kedua cara pembersihan mekanis dan kimiawi sangat penting. Benzalkonium Chlorida atau Centrimonium Bromida 1 %, keduanya lebih berguna karena dapat menginaktivasi virus rabies, walaupun demikian 0,1 % larutan Benzalkonium kurang efektif dari pada 20 % larutan sabun. Biasanya tetanus toksoid dan antibiotik dapat diberikan.1, 9

Pada daerah antara luka gigitan, dan jantung dilakukan pengikatan torniquet. Bila gigitan terdapat di kaki, ikatan dilakukan di paha. Luka dihisap dan darahnya diludahkan. Cuci luka dengan air sedikit panas agar pembuluh darah mengembang sehingga peredaran darah bisa lancar mengalir kemudian luka dibakar. Caranya, ujung lidi diteliti dengan kapas bersih, kemudian celupkan kapas tersebut kedalam asam karbol, kemudian usapkan pada luka.10

  • Imunisasi pasif

Dengan serum antirabies dari human RIG (imunoglobulin human rabies) oleh karena lebih baik daripada equine antiserum yang dapat menyebabkan serum sickness. 50 % dari dosis total 40 UI/kg RIG diberikan secara infiltrasi pada daerah luka dan sisanya secara intramuskuler di daerah gluteal.1

  • Imunisasi aktif.

Dengan vaksinasi rabies misalnya : NTV (nerve tissue vaccine), DEV (duck embryo vaccine), TCV (tissue culture vaccine), HDCV (human diploid cell vaccine). HDCV (human diploid cell vaccine) adalah yang dianjurkan untuk vaksin rabies, yang merupakan vaksin virus inaktif hidup yang disiapkan dari laboratorium strain virus rabies yang tumbuh di kultur human diploid cell.1

Reaksi hebat dari HDCV belum pernah ada. Respon hipersensitivitas tipe cepat seperti urtikaria pernah dilaporkan. Satu ml dari HDCV diberikan intramuskuler secepatnya setelah terinfeksi. Pemberiannya tidak boleh dicampur dan tidak boleh pada area yang sama (CDC,1999). Jadi antirabies serum (RIG) diberikan pada area glutel, HDCV harus diberikan intramuskuler di darerah deltoid. Lima dosis diberikan dalam 28 hari sesuai jadwal : hari 0, 3, 7, 14, dan 28 (WHO merekomendasikan 21 – 90 hari).

 

Pengelolaan pada binatang1

Bila anjing yang sehat atau kucing yang menggigit manusia, binatang ditangkap, diikat, diobservasi selama 10 hari. Bila ada yang sakit atau perilaku yang abnormal pada binatang tersebut selama periode observasi, binatang harus dibunuh untuk dilakukan pemeriksaan PA. Bila anjing memperlihatkan gejala gila / mati, vaksinasi pada korban gigitan dilanjutkan sampai 14 kali ditambah booster pada hari 10, 20, 90 dari suntikan terakhir.

 

PENCEGAHAN

Pencegahan terhadap binatang1

Vaksinasi pada binatang – binatang tidak boleh dilupakan. Rabies adalah zoonosis, suatu penyakit yang ditularkan pada manusia dari binatang, oleh karena itu pencegahan terbaik melawan penyakit tersebut adalah dengan cara mengurangi / mengeliminasi penyakit dari anjing atau kucing dengan memvaksin binatang- binatang tersebut dan membuat barrier dari binatang (juga dari anjing ke anjing) atau anjing liar ke anjing.

 

Pencegahan terhadap manusia6, 12

Pada daerah enzootik, hindari kontak dengan hewan liar dan segera bersihkan setiap luka gigitan.

Profilaksis pra paparan dianjurkan pada semua orang dengan resiko tinggi terpapar yakni dokter hewan, pekerja hutan, pemburu, ahli biologi, staf laboratorium, pemelihara binatang, polisi hutan dan lain-lain. Juga dinasehatkan pada orang-orang yang akan tinggal agak lama di daerah endemik. Dosis yang diberikan adalah 1 ml intramuskuler (area deltoid) dari HDCV (Human Diploid Cell Vaccine); sekali injeksi per hari pada hari ke 0, 7, 21, atau 28 (CDC, 1999).

2 Comments »

  1. Baca juga ini Apa itu rabies

    Comment by AAN — August 24, 2010 @ 6:21 pm | Reply

    • terima kasih aan ^^

      Comment by ningrum — August 25, 2010 @ 10:11 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: