catatan kecil

October 24, 2009

Anestesi pada Obstetri dan Ginekologi

Filed under: Anestesi,med papers — ningrum @ 7:32 pm

PENDAHULUAN

Di negara maju, pasien sudah terbiasa mendapatkan analgetika untuk mengurangi rasa sakit pada saat persalinan, yaitu dengan penggunaan anestesia lokal dan umum. Di Indonesia, rasa sakit waktu persalinan masih dapat ditolerir ibu sampai saat persalinan bayi berlangsung, tetapi (pada umumnya) parturien tidak dapat menahan rasa sakit pada waktu dilakukan penjahitan terhadap luka episiotomi, dan parturien minta dipati-rasa. Di samping itu, anestesia lokal atau umum memang diperlukan oleh operator (penjahit luka), sehingga ia dapat melakukan tugasnya dengan baik, tenang dan aman.1

Sebaiknya, tindakan anestesia lokal maupun umum ini dapat dilakukan sendiri oleh dokter yang menolong persalinan. Hal ini mengingat bahwa tindakan-tindakan ringan (yang dilakukan oleh seorang ahli penyakit kandungan) sering kali hanya memerlukan waktu anestesia yang sangat singkat. Terlebih lagi, bila tempat dimana ia bekerja belum ada seorang teman sejawat yang ahli anstesia.1

Ahli obstetri dan ginekologi seringnya semata-mata bertanggung jawab terhadap anelgesia/sedasi dan blok regional sepanjang prosedur rawat jalan dan berbasis jasa. Petunjuk The American Society of Anesthesiologists untuk ketetapan analgesia/sedasi bagi kalangan non-ahli anestesi memberikan rekomendasi yang bermanfaat untuk memaksimalkan keamanan pasien selama prosedur rawat jalan dan berbasis jasa.2

Tehnik analgesia untuk pasien-pasien obstetri dan ginekologi termasuk infiltrasi lokal dan blok regional dengan atau tanpa sedasi, agen parenteral dan blokade neuraksial sepanjang persalinan, dan anestesi umum untuk pembedahan yang lebih ekstensif dan, adakalanya, untuk persalinan sesar. Meskipun the American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan the American Society of Anesthesiologists (ASA) telah menetapkan tujuan untuk memastikan ketetapan yang tepat pada layanan anestesi di seluruh rumah sakit yang menyediakan perawatan obstetri memastikan layanan seperti itu menyisakan tantangan, khususnya pada rumah sakit yang lebih kecil atau di daerah pedesaan.2

 

ANESTESIA DAN ANALGESIA RINGAN1

  1. Anestesi lokal

Infiltrasi langsung di sekitar tempat tindakan

Blok saraf pudendus

Blok servikal

  1. Anestesi intravena yang singkat dan ringan

Pentotal

Ketamin

Valium

Diprivan

  1. Blok punggung

Tindakan ringan yang memerlukan analgesia atau anestesia singkat diantaranya adalah :

Penjahitan luka episiotomi

Insisi abses kelenjar bartolin

Biopsi endometrium

Dilatasi dan kuretase

PERTIMBANGAN FISIOLOGI KEHAMILAN / PERSALINAN (MATERNAL PHYSIOLOGY) PADA ANESTESI UNTUK KASUS OBSTETRI3


Sistem pernapasan

Perubahan pada fungsi pulmonal, ventilasi dan pertukaran gas. Functional residual capacity menurun sampai 15-20 %, cadangan oksigen juga berkurang. Pada saat persalinan, kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%.3

Menjelang atau dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30% kasus, menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi, meskupun dengan disertai denitrogenasi. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%, memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil.3

 

Sistem kardiovaskular

Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%, peningkatan frekuensi denyut jantung sampai 15%, peningkatan curah jantung sampai 40%. Volume plasma meningkat sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%, menyebabkan terjadinya dilutional anemia of pregnancy.3

Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi, penekanan / kompresi vena cava inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine hypertension syndrome. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi, dapat terjadi penurunan vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin.3

Pada persalinan, kontraksi uterus/his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta sebesar 300-500 cc selama kontraksi. Beban jantung meningkat, curah jantung meningkat, sampai 80%. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi, dapat sampai 400-600 cc. Pada sectio cesarea, dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc. Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. Hal itu karena selama kehamilan normal terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII, VIII, X, XII dan fibrinogen sehingga darah berada dalam hypercoagulable state.3

 

Ginjal

Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester pertama, namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron.
Kadar kreatinin, urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal.3

Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai “normal”.3

 

Sistem gastrointestinal

Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut gastroesophageal junction, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan aspirasi pulmonal isi lambung. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung, penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. Enzim-enzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat.3

Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%, mungkin akibat hemodilusi dan penurunan sintesis. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular untuk waktu yang lebih lama.3

Lambung HARUS selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung, makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir.3


Sistem saraf pusat

Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil, konsentrasi obat inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia; kebutuhan halotan menurun sampai 25%, isofluran 40%, metoksifluran 32%. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal), konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Hal ini karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan ruang epidural menjadi lebih sempit.3

Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced diffusion).3

 

Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta

Juga menjadi pertimbangan, karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan depresan, dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Harus dianggap bahwa SEMUA obat dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin.3

 

ANESTESIA LOKAL

Jenis-jenis Anestesia Lokal

Infiltrasi langsung di sekitar luka

Inervasi saraf di sekitar perineum berasal dari nervus pudendus. Untuk luka perineum tingkat pertama dan kedua, cukup dilakukan infiltrasi lokal di sekitar lokasi jahitan luka.1

Bahan analgesia yang lazim dipergunakan adalah lidokain (2-3 ampul, untuk sisi kanan dan kiri). Selanjutnya ditunggu dua menit, dan jahitan terhadap luka episiotomi dapat dilakukan dengan aman dan tenang.1

Blok nervus pudendus.

Nervus pudendus menyarafi otot levator ani, dan otot perineum profunda serta superfisialis. Dengan memblok saraf pudendus, akan tercapai anestesi setempat sehingga memudahkanoperator untuk melakukan reparasi terhadap perineum yang mengalami robekan.1

Teknik blok saraf pudendus1

Siapkan 10 cc larutan lidokain 0,5-1% untuk anestesia.

Tangan kanan dimasukkan kedalam vagina untuk mencapai spina iskiadika.

Jarum suntik ditusukkan sampai menembus ujung ligamentum sakrospinarium, tepat dibelakang spina iskiadika.

Kemudian jarum diarahkan agak ke inferolateralis, dilakukan aspirasi, untuk menghindarkan masuknya obat anestesi lokal ke dalam pembuluh darah.

Suntikan diberikan sebanyak 10 cc dan ditunggu selama 2-5 menit sehingga efek anestesi tercapai.

Blok servikal

Lidokain 1% sebanyak 10 cc disuntikkan di bagian kanan dan kiri (pada jam 3 & 9), sehingga didapat efek anestesi yang bersifat singkat. Setelah penyuntikan dilakukan, tunggulah beberapa saat (3-5 menit) untuk mencapai keadaan anestetik, kemudian tindakan intrauterin dapat dilakukan.1

 

Komplikasi Anestesia Lokal

Komplikasi terjadi bila anestesia lokal masuk ke dalam pembuluh darah, sehingga menimbulkan intoksikasi susunan saraf pusat. Oleh karena itu harus dilakukan upaya untuk menghindarkan masuknya obat anestesi ke dalam pembuluh darah, dengan jalan melakukan aspirasi, sebelum penyuntikan dilakukan.1

Gejala intoksikasi obat anestesi lokal adalah :

Pusing dan kepala terasa ringan.

Tinitus

Perilaku aneh

Kejang-kejang

Terdapat gangguan pernapasan

Intoksikasi pada sistem kardiovaskuler, dengan gejala/tanda sebagai berikut :

Awalnya, hipertensi dan takikardi, kemudian diikuti hipotensi dan bradikardi.

Sekunder, perfusi jaringan terganggu.

 

Penanganan Intoksikasi Obat Anestesi Lokal yang masuk ke Pembuluh Darah1

Bila terjadi kejang, dapat diatasi dengan memberikan :

Pentotal

Valium

Bila terjadi gangguan pada sistem kardiovaskuler:

Berikan infus secepatnya.

Berikan efedrin hingga tekanan darah naik.

Konsultasi dengan dokter ahli anestesia, sehingga pasien mendapat pengobatan yang tepat.

Bila keadaan pasien gawat, maka pasien dapat dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas cukup.

Apabila dalam melakukan pertolongan sederhana, diperkirakan dapat terjadi komplikasi yang serius, maka pasien perlu dipasangi infus, karena akan memudahkan dokter untuk memberikan obat-obat antidotum (jika diperlukan).1

 

ANESTESI INTRAVENA

Indikasi :3

  1. Gawat janin.
  2. Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional.
  3. Diperlukan keadaan relaksasi uterus.

 

Keuntungan :3

  1. Induksi cepat.
  2. Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal.
  3. Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah.

 

Kerugian :3

  1. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar.
  2. Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat.
  3. Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada janin.
  4. Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal.

 

Macam-Macam Anestesia Intravena

Pentotal1

Penggunaan pentotal dalam bidang obstetri dan ginekologi banyak ditujukan untuk induksi anestesia umum dan sebagai anestesia singkat.

Dosis pentotal

Dosis pentotal yang dianjurkan adalah 5 mg/kg BB dalam larutan 2,5% dengan pH 10.8, tetapi sebaiknya hanya diberikan 50-75 mg.

Keuntungan pentotal

Cepat menimbulkan rasa mengantuk (sedasi) dan tidur (hipnotik).

Termasuk obat anestesia ringan dan kerjanya cepat.

Tidak terdapat delirium

Cepat pulih tanpa iritasi pada mukosa saluran napas.

Komplikasi pentotal

Lokal (akibat ekstravasasi), dapat menyebabkan nekrosis.

Rasa panas (bila pentotal langsung masuk ke pembuluh darah arteri)

Depresi pusat pernapasan

Reaksi vertigo, disorientasi, dan anfilaksis.

Kontraindikasi pentotal

Pentotal merupakan kontraindikasi pada pasien-pasien yang disertai keadaan berikut:

Gangguan pernafasan

Gangguan fungsi hati dan ginjal

Anemia

Alergi terhadap pentotal

Apabila dilakukan anestesi intravena menggunakan pentotal, sebaiknya pasien dirawat inap karena efek pentotal masih dijumpai dalam waktu 24 jam, dan hal ini membahayakan bila pasien sedang dalam perjalanan.

 

Ketamin1

Ketamin termasuk golongan non barbiturat dengan aktivitas “rapid setting general anaesthesia”, dan diperkenalkan oleh Domine dan Carses pada tahun 1965.

Sifat ketamin

Efek analgetiknya kuat

Efek hipnotiknya ringan

Efek disosiasinya berat, sehingga menimbulkan disorientasi dan halusinasi

Mengakibatkan disorientasi (pasien gaduh, berteriak)

Tekanan darah intrakranial meningkat

Terhadap sistemkardiovaskuler, tekanan darah sistemikmeningkat sekitar20-25%

Menyebabkan depresi pernapasan yang ringan (vasodilatasi bronkus)

Premedikasi pada anestesia umum ketamin

Pada anestesia umum yang menggunakan ketamin, perlu dilakukan premedikasi dengan obat-obat sebagai berikut:

Sulfas atropin, untuk mengurangi timbulnya rasa mual / muntah

Valium, untuk mengurangi disorientasi dan halusinasi

Dosis ketamin

Dosis ketamin yang dianjurkan adalah 1-2 mg/kg BB, dengan lama kerja sekitar 10-15 menit.

Dosis ketamin yang dipakai untuk tindakan D & K (dilatasi dan kuretase) atau untuk reparasi luka episiotomi cukup 0,5 – 1 mg/Kg BB

Indikasi Anestesi Ketamin

Pada opersasi obstetri dan ginekologi yang ringan dan singkat

Induksi anastesia umum

Bila ahli anastesia tidak ada, sedangkan dokter memerlukan tindakan anastesia yang ringan dan singkat

Kontra indikasi anastesia ketamin (ketalar)

Hipertensi yang melebihi 150 / 100 mmHg

Dekompensasi kordis

Kelainan jiwa

Komplikasi anastesia ketamin

Terjadi disorientasi

Mual / muntah, diikuti aspirasi yang dapat membahayakan pasien dan dapat menimbulkan pneumonia.

Untuk menghindari terjadinya komplikasi karena tindakan anastesia sebaiknya dilakukan dalam keadaan perut / lambung kosong.

Setelah pasien dipindahkan ke ruangan inap, pasien diobservasi dan posisi tidurnya dibuat miring (ke kiri / kanan), sedangkan letak kepalanya dibuat sedikit lebih rendah.

 

Anastesia analgesia dengan valium1

Valium tergolong obat penenang (tranquilizer), yang bila diberikan dalam dosis rendah bersifat hipnotis. Obat ini jarang digunakan secara sendiri (tunggal), dan selalu diberikan secara IV bersama dengan ketamin, dengan tujuan mengurangi efek halusinasi ketamin.

Dosis Valium

10 mg IV atau IM. Bila digunakan untuk induksi anastesi, dosis nyasebesar 0,2 – 0,6 mg/kg BB.

 

Diprivan1

Komposisi diprivan adalah sebagai berikut :

10 % minyak kacang kedelai

1,2 % fosfatida telur

2,25 % gliserol

Keseluruhannya merupakan larutan 1% dalam air, dalam bentuk emulsi.

Diprivan sangat baik karena tidak memerlukan obat premedikasi. Disamping itu kesadaran pasien pulih dengan cepat, tanpa terjadi perubahan apapun. Diprivan juga tidak menimbulkan depresi pusat pernafasan ataupun gangguan jantung. Oleh karenanya ketika diprivan digunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1977, obat ini langsung menduduki tempat tertinggi untuk kepentingan operasi-operasi yang ringan dan singkat.

ANESTESI REGIONAL

Pelaksanaan blok epidural (blok spinal) bersifat spesialistik, sehingga sebaiknya diserahkan kepada dokter ahli anastesia. Sebagai gambaran, berikut ini dikemukakan beberapa hal tentang anastesia epidural atau spinal.1

Obat anastesia yang banyak dipakai adalah :

Lidonest

Bupivacain (Marcain)

Lidokain

Dalam melakukan tindakan kecil pada obstetri dan ginekologi, seperti : penjahitan kembali luka episiotomi, dilatasi dan kuretase, atau biopsi dianjurkan untuk melakukan anastesia secara intravena (lebih mudah dan aman).1

Dinegara yang sudah maju, kebanyakan kasus persalinannya memerlukan tindakan anastesia lumbal, sakral, atau kaudal.1

 

Analgesi/blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam.3

Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per abdominam/sectio cesarea.3

 

Keuntungan :3

Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat dicegah/dikurangi.

Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan.

Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum)

Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea, jalur obat anestesia regional sudah siap.

Kerugian :3

  1. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis)
  2. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama
  3. Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi.
  4. Untuk persalinan per vaginam, stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun, sehingga kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat.


Kontraindikasi :3

  1. Pasien menolak
  2. Insufisiensi utero-plasenta
  3. Syok hipovolemik
  4. Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi
  5. Sepsis
  6. Gangguan pembekuan
  7. Kelainan SSP tertentu


Teknik :3

Pasang line infus dengan diameter besar, berikan 500-1000 cc cairan kristaloid (Ringer Laktat).

15-30 menit sebelum anestesi, berikan antasida

Observasi tanda vital

Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk, dilakukan punksi antara vertebra L2-L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum/trokard. Ruang epidural dicapai dengan perasaan “hilangnya tahanan” pada saat jarum menembus ligamentum flavum.

 Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus atau duduk, dilakukan punksi antara L3-L4 (di daerah cauda equina medulla spinalis), dengan jarum / trokard. Setelah menembus ligamentum flavum (hilang tahanan), tusukan diteruskan sampai menembus selaput duramater, mencapai ruangan subaraknoid. Identifikasi adalah dengan keluarnya cairan cerebrospinal, jika stylet ditarik perlahan-lahan.

Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid.

Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi, menggunakan jarum halus atau kapas.

Jika dipakai kateter untuk anestesi, dilakukan fiksasi. Daerah punksi ditutup dengan kasa dan plester.

Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya.


Obat anestetik yang digunakan : lidocain 1-5%, chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0.25-0.75%. Dosis yang dipakai untuk anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal.3

Komplikasi yang mungkin terjadi :3

Jika terjadi injeksi subarakhnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural, dapat terjadi total spinal anesthesia, karena dosis yang dipakai lebih tinggi. Gejala berupa nausea, hipotensi dan kehilangan kesadaran, dapat sampai disertai henti napas dan henti jantung. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine, dengan uterus digeser ke kiri, dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang cricoid, kemudian dilakukan intubasi. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan intravena dan ephedrine.

Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan, tinitus, dan kehilangan kesadaran. Kadang terjadi juga serangan kejang. Harus dilakukan intubasi pada pasien, menggunakan 1.0 – 1.5 mg/kgBB suksinilkolin, dan dilakukan hiperventilasi untuk mengatasi asidosis metabolik.

Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. Terapi dengan istirahat baring total, hidrasi (>3 L/hari), analgesik, dan pengikat / korset perut (abdominal binder).

17 Comments »

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Panjang sekali, ya?
    Belum sempat baca semua. Tak save aja, ya?

    Comment by alamendah — October 24, 2009 @ 7:46 pm | Reply

    • boleh sekali🙂 silahkan

      Comment by ningrum — October 24, 2009 @ 8:23 pm | Reply

  2. mba,, aq pusing bacanya… :p

    cuma mo nanya niy terkait anestesi,,
    sering qu denger anestesi bisa berakibat fatal pada pasien,, sampai2 menimbulkan koma..
    qira2 penyebabnya karena apa ya mba,, apakah karena yang melakukan anestesi bukanlah ahlinya langsung,, melainkan hanya dokter kandungan saja? atau ada pemicu lainnya..

    Comment by wanti annurria — October 28, 2009 @ 5:16 pm | Reply

    • saat ini, untuk melakukan anestesi (apalagi anestesi umum) biasanya langsung spesialis anestesi atau penata anestesi. kalau spesialis kandungan, biasanya melakukan anestesi lokal saja.
      respon tubuh masing2 orang terhadap anestesi itu berbeda-beda.
      koma bisa disebabkan kesalahan pada saat melakukan anestesi, atau bisa juga ada ‘masalah’ pada pasien yang tidak terdeteksi sebelum melakukan anestesi.
      biasanya sih, sebelum operasi dilakukan pemeriksaan rutin, seperti darah rutin, EKG, foto thoraks, memastikan kondisi pasien cukup baik untuk menerima obat-obatan anestesi.
      penyulit anestesi biasanya hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, ginjal, hati dan lain-lain, yang bisa berakibat fatal jika dilakukan anestesi pada pasien. biasanya, kalau hipertensi, tekanan darah diturunkan dulu biar aman ketika dilakukan anestesi.
      (*duh kepanjangan nih rayya, tapi ini cuma yg mbak tau aja. lebih jelasnya lagi spesialis anestesi yg bisa menerangkan hehehe…)

      Comment by ningrum — October 29, 2009 @ 4:40 am | Reply

      • sangat informatif,,, makasih ya mba… ^^

        sama-sama rayya..🙂

        Comment by wanti annurria — December 18, 2009 @ 12:02 am

  3. Saya di bius hanya waktu sunat saja, kalau cabut gigi uga dibius ya bu dokter ?
    Link sudah saya pasang,walau agak terlambat.
    Hayooo, ikutan Ladies Program sebagai uji nyali dan uji ketrampilan wanita.
    Salam hangat dari Surabaya

    Comment by Pakde Cholik — November 2, 2009 @ 6:42 am | Reply

    • cabut gigi juga dibius pakde, lebih jelasnya nanya ke Bundo aja😀
      *terima kasih lho pakde, udah diundang ikutan Ladies Program🙂

      Comment by ningrum — November 2, 2009 @ 10:25 am | Reply

  4. saya mau nanya, saat ini saya mau melahirkan anak kedua,anak pertama saya operasi sc dengan anestesi general,sekarang saya bingung karena saya mau melahirkan dengan sc tapi anestesinya spinal.tolong beri penjelasan sama saya yang mana yang baiknya.karena banyak yang udah sc dengan anestesi spinal mereka pada fisiotherapi.terima kasih sebelumnya

    Comment by rina — March 27, 2011 @ 4:13 pm | Reply

    • kalau general, mungkin efek samping yang dikhawatirkan adalah depresi nafas saat sedang dibawah kondisi anestesi.
      sementara kalau spinal, yang dikhawatirkan adalah adanya cedera nervus yang bisa menyebabkan pasien lumpuh dan harus menjalani fisioterapi.
      alangkah baiknya anda bertanya pada dokter yang akan mengoperasi anda🙂 tentunya beliau punya pilihan yang baik

      Comment by ningrum — August 13, 2011 @ 5:01 pm | Reply

  5. mba…mo tanya ttg anestesi ILA dunk…
    tata caranya ma teknik”y ????thx

    Comment by ana — November 9, 2011 @ 8:42 pm | Reply

    • hihihi… nanti nanti ya… ndak sempat😀

      Comment by ningrum — November 28, 2011 @ 12:25 pm | Reply

  6. makasihhh..
    ctatanya sangat membantu..

    Comment by cheloonk — September 29, 2012 @ 9:18 pm | Reply

  7. boleh info pustakanya?trims🙂

    Comment by aanmbeling — October 16, 2012 @ 12:55 am | Reply

  8. Mba.., mw tx..,,
    Obat2 anastesi apa az sih yg dpat membuat asfiksia neonatorum pasca SC
    Trim”s…,, ^_^

    Comment by Rika — December 21, 2012 @ 9:14 am | Reply

  9. daftar pustakanya disertakan dong mba ? kan ada 3

    Comment by rudi — March 18, 2013 @ 8:08 am | Reply

  10. supaya kita tau referensinya dari mana aja. thanks….

    Comment by rudi — March 18, 2013 @ 11:04 am | Reply

  11. kandungan pa sih yang ada dalam obat anastesi, yang bisa menghilangkan ksadaran ???

    Comment by devy anggraini — March 25, 2013 @ 9:37 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: