catatan kecil

January 15, 2010

Emergensi Ortopedi

Filed under: Bedah,med papers — ningrum @ 5:45 am

PENDAHULUAN

Emergensi ortopedi merupakan keluhan yang sering disampaikan sekitar 20% dari jumlah kunjungan pasien. Pengetahuan dasar mengenai cedera ortopedi, pola fraktur, dislokasi, teknik reduksi, dan teknik bidai, dibutuhkan untuk mengelola cedera. Pemahaman radiologi – membuat dan menginterpretasi sebuah film radiologi – juga dibutuhkan.(1)

          Memperoleh riwayat yang seksama tentang mekanisme cedera bisa membantu mengidentifikasi cedera ortopedi. Misalnya, riwayat medis yang telah lalu, medikasi, dan cedera sebelumnya.(1)

          Pemeriksaan fisik cedera ortopedi pada departemen emergensi berdasarkan pada proses 4 langkah sederhana :(1)

  1. Palpasi cedera untuk deformitas dan kerapuhan
  2. Menilai ROM/range of motion (aktif dan pasif) tulang yang terkena, juga mempertimbangkan sendi diatas dan dibawah tulang yang cedera
  3. Inspeksi (deformitas, pembengkakan, diskolorasi)
  4. Pemeriksaan neurovaskular

Cedera < 24 jam harus diberikan kompres es atau kompres dingin yang diaplikasikan sebelum pemasangan belat. Terapi dingin mengeraskan kolagen dan mengurangi kecenderungan ligamen dan tendon untuk berdeformitas. Dan juga mengurangi spasme otot, aliran darah (membatasi perdarahan dan edema), meningkatkan ambang nyeri dan mengurangi inflamasi. Kompres es harus diaplikasikan dalam 30 menit sekaligus (mencegah cedera frostbite), dan terbatas pada 24-48 jam pertama; setelahnya, dingin dapat bertentangan dengan penyembuhan jangka-panjang.(1)

 MENJELASKAN GAMBARAN RADIOLOGI

          Tipe fraktur, apakah transversum, oblique, spiral, segmental, dan kominutif. Pada pediatri, tipe fraktur ada: Salter-Harris, torus/buckle, greenstick. Jelaskan lokasi fraktur dan juga dislokasi berupa penyusutan, angulasi dan rotasi.(1)

          Fraktur tulang panjang dibagi atas 3: proksimal, medial dan distal.

 FRAKTUR PEDIATRI

          Fraktur Salter-Harris melibatkan epifisis, atau lempeng pertumbuhan epifisis kartilagenus, dekat ujung tulang panjang pada anak-anak. Dinamakan Salter-Harris, setelah dua dokter yang menyusun sistem klasifikasi untuk memberi nama fraktur-fraktur tersebut. Materi tulang baru dibutuhkan untuk elongasi tulang selama masa pertumbuhan yang disediakan oleh sel khusus dalam epifisis. Ketika pertumbuhan lengkap, transformasi fisis menjadi tulang pun terjadi, akhirnya menyatukan tulang di sekitarnya. Fraktur Salter-Harris tidak bisa terjadi pada orang dewasa.(1)

          Kerusakan lempeng epifisis selama pertumbuhan tulang dapat merusak semua atau sebagian kemampuan lempeng tersebut untuk membentuk tulang baru. Hal ini mengakibatkan pemberhentian atau deformasi pertumbuhan tulang tersebut. Semakin dini fraktur Salter- Harris muncul semakin mungkin kesempatan deformitas muncul. Kira-kira 15% fraktur lempeng pertumbuhan akan mengalami gangguan pertumbuhan tulang jangka panjang. Pola fraktur juga merupakan faktor penting dalam perkembangan sebuah deformitas.(1)

 PATOFISIOLOGI FRAKTUR

          Penyembuhan fraktur memiliki 3 fase berbeda: (1)

  • Inflamasi (1)
    • Setelah fraktur awal, pembuluh darah mikro yang melewati garis fraktur terputus; hal ini menyebabkan iskemia sampai kehancuran ujung tulang.
    • Ujung tulang yang mengalami kerusakan menjadi nekrosis, yang kemudian memicu respon inflamasi.
    • Fase inflamasi ini singkat, namun menciptakan respon inflamasi.
  • Reparatif (1)
    • Fase reparasi dimulai dengan jaringan ganulasi yang menginfiltrasi daerah fraktur.
    • Jaringan granulasi berisi sel-sel yang mensekresikan dan membentuk kolagen, kartilago dan tulang; jaringan ini membentuk callus, yang dengan cepat mengelilingi ujung fraktur tulang.
    • Callus bertanggungjawab untuk menstabilkan ujung tulang yang fraktur.
    • Seiring menyembuhnya fraktur, callus mengalami mineralisasi dan sangat padat.
    • Batas nekrotik fragmen fraktur diserang oleh osteoklas, yang menyerap tulang.
  • Remodelling (1) 
    • Remodelling merupakan fase akhir penyembuhan tulang.
    • Tulang perlahan-lahan memperoleh kembali bentuk, kontur dan kekuatan aslinya.
    • Remodelling memakan waktu bertahun-tahun.
    • Callus diserap, tulang baru muncul oleh osteoblas.
    • Trabekula, densitas linear mudah terlihat pada tulang normal, merupakan hasil akhir proses fisiologis yang membentuk kembali tulang dan memberi kekuatan maksimum sehubungan dengan jumlah tulang yang digunakan.
    • Keberhasilan remodelling tulang bergantung pada beberapa faktor:
      • Anak-anak memiliki kapasitas remodelling lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa.
      • Besar dan arah angulasi yang tidak direduksi, dan lokasi fraktur pada tulang.
      • Keremajaan.
      • Dekatnya fraktur pada ujung tulang.
      • Arah angulasi ketika dibandingkan dengan taraf gerakan sendi alami.
      • Keputusan mengenai reduksi fraktur membutuhkan pengetahuan fisiologi penyembuhan tulang dan hubungannya dengan usia pasien.

 PEMBELATAN (SPLINTING)

          Pengobatan awal adalah pembelatan. Fungsinya: mengontrol nyeri dan pembengkakan, mengurangi deformitas/dislokasi, dan imobilisasi fraktur, keseleo atau cedera. Tujuan pembelatan dan imobilisasi adalah: membebaskan nyeri, meningkatkan penyembuhan, stabilisasi fraktur, mencegah cedera lebih lanjut. (1)

          Pembebatan dan imobilisasi fraktur merupakan andalan pada emergensi ortopedi. Kebanyakan fraktur dapat diimobilisasi dengan belat sederhana. Tujuan imobilisasi fraktur adalah melindungi kerusakan tulang, dengan menjaganya pada posisi anatomi; hal ini akan memfasilitasi penyembuhan tanpa defek anatomi. (1)

          Imobilisasi memfasilitasi proses penyembuhan dengan mengurangi nyeri dan melindungi ekstremitas dari cedera berikutnya. Belat mempertahankan garis arah tulang. Belat juga mengurangi gerakan; dengan membatasi mobilitas dini, edema dapat dikurangi. (1)

          Keuntungan belat dibanding gips: mudah diaplikasikan, imobilisasi jangka pendek, memungkinkan pembengkakan berlanjut untuk mencegah komplikasi pada pemindahan pasien. (1)

          Indikasi pembelatan : fraktur, laserasi dalam/aberasi luas, laserasi tendon, penyakit inflamasi (gout, tenosinovitis), infeksi ruang dalam (tangan, kaki, sendi), trauma multipel. Kebanyakan cedera ekstremitas atas dapat ditangani dengan menggunakan belat posterior long arm. Cedera pada jari ditangani dengan belat jari busa atau belat plastik kaku. Cedera bahu dapat ditangani dengan sebuah selempang/balutan gendong, atau imobiliser bahu. Cedera ekstremitas bawah dapat ditangani dengan imobiliser lutut atau belat cetak posterior. (1)

 Prinsip pembelatan (1)

  • Pertama, nilai ABC dan situasi yang membahayakan jiwa
  • Identifikasi dan nilai struktur neurovaskular yang memiliki resiko
  • Konsultasi ortopedi awal untuk fraktur terbuka atau dislokasi fraktur
  • Pilih teknik imobilisasi yang tepat
  • Buktikan dan balut luka terbuka
  • Lepaskan semua pakaian dan perangkat sempit dari ekstremitas (berlian, cincin)
  • Luruskan fraktur angulasi berat
  • Lindungi bagian menonjol dari tulang
  • Nilai status neurovaskular dengan segera sebelum dan sesudah pembelatan
  • Jika dibutuhkan perawatan luka perodik, perhatikan belat yang mudah dilepaskan

 Komplikasi (1)

  • Iskemia
  • Luka bakar plaster
  • Luka tekanan
  • Infeksi
  • Dermatitis
  • Kaku sendi

 DISRUPSI CINCIN PELVIS

          Disrupsi cincin pelvis merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada pasien cedera multipel. Dimana kefatalannya disebabkan oleh perdarahan retroperitoneal dan cedera-cedera lain sehubungan dengannya. Fraktur bisa jadi sangat mematikan jika muncul dalam kombinasinya bersama dengan cedera penting pada sistem organ mayor. Karena daya yang tinggi penting untuk disrupsi cincin pelvis pada pasien dewasa muda, tidaklah mengejutkan kalau sampai 80% pasien ini juga mendapat cedera muskuloskeletal. Angka mortalitas pada pasien cedera cincin pelvis berkekuatan-tinggi rata-rata 15-20%. Kematian ini umumnya disebabkan oleh cedera yang umumnya sehubungan dengan pola cedera. Mortalitas meningkat hampir 13 kali jika pasien mengalami hipotensi. Ketika berkombinasi dengan cedera kepala atau cedera abdomen yang membutuhkan intervensi bedah, mortalitas meningkat sampai 50%. Jika kedua prosedur diperlukan, mortalitas meningkat sampai 90%. (2)

 Klasifikasi

          Ahli bedah ortopedi dan ahli traumatologi secara luas mengklasifikasikan disrupsi cincin pelvis kedalam dua kelompok mayor : stabil dan tidak stabil. Pelvis yang stabil didefenisikan sebagai sesuatu yang dapat tetap bertahan dari gaya fisiologis tanpa dislokasi. Stabilitas ini bergantung pada integritas struktur ligamen dan tulang (Gambar 1). Instabilitas umumnya dibagi atas komponen rotasional dan vertikal (Gambar 2). Dislokasi ini dapat dinilai pada screening radiografi AP awal. Cedera stabil termasuk fraktur non-dislokasi cincin pelvis dan dislokasi anterior < 2,5 cm. Instabilitas rotasional ditandai dengan melebarnya simfisis pubis atau dislokasi fraktur rami pubis > 2,5 cm. Dasar instabilitas vertikal adalah pemindahan superior hemipelvis melalui fraktur sacrum atau ilium dan disrupsi sendi sacroiliaca > 1 cm. Karena pelvis merupakan struktur cincin sebenarnya, dislokasi anterior penting harus dibarengi dengan disrupsi posterior yang bersesuaian. Disrupsi cincin pelvis biasanya merupakan sebuah kombinasi fraktur dan cedera ligamen. (2)

 Perdarahan pada Fraktur Pelvis

          Biasanya penyebab perdarahan pada fraktur pelvis adalah dari pleksus vena pelvis posterior dan perdarahan yang menghapus permukaan tulang. Sekitar < 10% kasus perdarahan, disebabkan dari perdarahan arteri yang cukup dikenal (Gambar 3). Pengobatan awal harus berfokus pada kontrol perdarahan vena. Reduksi dan stabilisasi pada dislokasi cincin pelvis membantu mencapai pengontrolan tersebut. Reduksi akan mengurangi volume pelvis dan lakukan tampon pembuluh darah yang mengalami perdarahan dengan cara kompresi viscera dan hematom pelvis. Stabilisasi mempertahankan reduksi dan mencegah pergerakan hemipelvis, mengurangi nyeri dan membatasi disrupsi gumpalan terorganisir. Reduksi dan stabilisasi saja biasanya mengontrol perdarahan vena, maka pasien yang tidak merespon manuver ini lebih mungkin mendapat perdarahan arteri. (2)

SINDROMA KOMPARTEMEN

          Pengenalan dan pengobatan dini sindroma kompartemen penting pada pasien trauma untuk mencegah kematian, amputasi dini, dan disfungsi tungkai. Volkmann adalah orang pertama yang menguraikan tentang akibat kontraktur paska-iskemik pada lebih dari 1 abad yang lalu. Dia menghubungkan kontraktur otot permanen dengan trauma, pembengkakan, dan perban yang ketat. Seddon dan rekan meninjau ulang komplikasi akhir sindroma kompartemen ekstremitas superior dan inferior dan menekankan pentingnya pengenalan awal dan fasciotomi. Kegagalan mendiagnosa dan menangani sindroma kompartemen pada pasien trauma mengakibatkan sejumlah kasus morbiditas yang sebenarnya dapat dicegah. (2)

          Berbagai sindroma kompartemen telah diuraikan untuk kedua ekstremitas atas dan bawah. Uraian tersebut termasuk sindroma kompartemen pada bahu, lengan atas, lengan bawah, tangan, bokong, paha, tungkai bawah, dan kaki. Penyebab sindroma kompartemen beragam dan termasuk, jika tidak dibatasi, fraktur terbuka dan fraktur tertutup, cedera arteri, luka tembak, gigitan ular, kompresi tungkai, dan luka bakar. (2)

 Patofisiologi

          Meningkatnya tekanan pada ruang fascia tertutup menyebabkan menurunnya tekanan perfusi dan pada akhirnya cedera sel dan kematian neuron dan jaringan otot. Mekanismenya sebagai berikut: hipoksia menyebabkan cedera sel, melepaskan mediator, dan meningkatkan permeabilitas endotel yang menyebabkan oedem, selanjutnya meningkatkan tekanan kompartemen, pH jaringan menurun, lalu terjadi nekrosis, dan terlepasnya mioglobin. Tekanan jaringan lebih besar dari tekanan kapiler; biasanya terlihat pada > 30 mmHg tekanan intra-kompartemen. Waktu iskemik: nervus < 4 jam, otot < 4 jam; beberapa mengatakan sampai 6 jam. (3)

 Gambaran Klinis (3)

  • Nyeri yang melebihi kapasitas cedera
  • Pemeriksaan fisik: bukti ketegangan kompartemen, menurunnya perfusi (pengisian kembali kapiler, nyeri) dan kehilangan fungsi jaringan (mati rasa dan lemah; nervus dan otot terlibat pada kompartemen yang terinfeksi)

 Diagnosa (1,3)

  • Sindroma kompartemen klasik:
    • Misal : sekunder akibat luka bakar, pembengkakan jaringan lunak, balutan ketat, iskemis reperfusi, kompresi berkepanjangan, infiltrasi intravena, perdarahan, cedera vaskuler, kejang, dan trauma.
    • Kenali 6 P: Pain (nyeri), Pallor (pucat), Pulselessness (tidak ada pulsasi), Parasthesia (tidak ada rasa), Paralysis (lumpuh) dan Poikilothermic (1)
    • Iskemia dan nekrosis dapat muncul bahkan jika masih terdapat pulsasi.
    • Nervus sensorik yang lebih dulu terkena, diikuti oleh motorik.
    • Waktu: gejala dapat muncul dalam beberapa jam sampai beberapa hari setelah cedera.
  • Diagnosa pasti dengan mengukur tekanan kompartemen.

 Penatalaksanaan (3)

  • Singkirkan penyebab kompresi
  • O2
  • Pertahankan ekstremitas setinggi jantung
  • Konsultasi ortopedi atau bedah darurat
  • Fasciotomi: (2,3)
    • Indikasi sindroma kompartemen akut: tekanan kompartemen > 30 mmHg (3)
    • Ahli bedah harus melakukan fasciotomi; bagaimanapun, pada tungkai yang tekanannya meningkat atau terdapat penundaan pembedahan, fasciotomi emergensi mungkin perlu dilakukan di departemen emergensi (3)
    • Pendekatan dua-insisi fasciotomi (Gambar 4) pada tungkai bawah merupakan prosedur langsung dan dapat dipercaya, mengingat bahwa anatominya mudah dipahami (Tabel 1) (2)

 Komplikasi

Kerusakan nervus permanen, mionekrosis, deformitas, infeksi, kehilangan tungkai, rabdomiolisis, kontraktur iskemik Volkmann, dan kematian. (3)

 FRAKTUR TERBUKA

          Fraktur terbuka merupakan emergensi bedah. Komplikasi jangka panjang adalah terancamnya tungkai, dan dalam kasus infeksi sistemik, mengancam jiwa. Tantangan penatalaksanaan yang sulit pada fraktur terbuka telah dikenal selama berabad-abad. Amputasi telah menjadi pengobatan menetap sampai pertengahan abad ke 18, dimana teknik antiseptik mulai digunakan. Antiseptik, bersama dengan debridement semua jaringan yang terkontaminasi dan devitalisasi, membuktikan reduksi pertama pada mortalitas. Kemajuan serentak pada profilaksis antibiotik, debridement agresif dan manajemen luka terbuka, flap otot rotasional, transfer jaringan bebas, dan teknik cangkok tulang memperlihatkan peningkatan yang dramatis pada kemampuan kita untuk menangani fraktur terbuka berat sebagai akibat dari kecelakaan kendaraan bermotor dan luka tembak. (2)

 Klasifikasi (2) 

Tipe Fraktur Deskripsi
I Kulit terbuka < 1 cm, bersih; paling mungkin lesi dalam daripada luar; kontusio otot minimal, fraktur transversum atau oblique yang sederhana
II Laserasi > 1 cm dengan kerusakan jaringan lunak luas, flap, atau avulsi; kehancuran minimal sampai sedang; fraktur transversum atau oblique pendek yang sederhana dengan kominutif minimal
III Kerusakan jaringan lunak luas, termasuk otot, kulit dan struktur neurovaskular; seringnya cedera kecepatan-tinggi dengan komponen kehancuran yang berat
III A Laserasi luas, mencakup tulang adekuat; fraktur segmental, cedera tembak
III B Kerusakan jaringan lunak luas dengan terkupasnya periosteal dan ekspos tulang, biasanya berhubungan dengan kontaminasi luas
III C Cedera vaskular membutuhkan perbaikan

 Manajemen

          Irigasi dini dan debridement adalah penatalaksanaan tetap. Sekali pasien berada di ruang operasi, balutan dapat diangkat bersama dengan semua debris yang lepas. Debridement merupakan pengangkatan dan reseksi yang sangat teliti terhadap seluruh material asing dan tidak dapat terus hidup dari sebuah luka. Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah bakteri dengan hanya menyisakan jaringan yang dapat terus hidup yang bersih pada luka. Luka dieksplorasi secara agresif karena zona cedera selalu lebih besar dibandingkan yang tampak pada awalnya. Kompartemen fascial tidak selalu dihilangkan sepenuhnya oleh fraktur terbuka. Karenanya, fasciotomi secara bebas dilakukan selama debridement. Kemudian dilakukan irigasi dengan larutan saline berlimpah. Debridement ulangan dilakukan dalam 48-72 jam berikutnya, sebagaimana jaringan mungkin terbatas dan nekrose. Insisi bedah yang digunakan untuk memperbesar luka ketika eksplorasi kemudian ditutup. Bekas luka sebenarnya yang diakibatkan cedera biasanya dibiarkan terbuka. Larutan saline – balutan yang tergenang diaplikasikan dan diganti sekurangnya setiap hari. Berlawanan dengan balutan sementara yang diaplikasikan pada pemindahan dari departemen emergensi, balutan manajemen luka yang pasti seharusnya tidak digenangi dalam povidone-iodine karena hal ini bisa menyebabkan destruksi jaringan. (2)

          Perencanaan penanganan luka dimulai pada awal debridement. Konsultasi bedah plastik awal akan membantu dan memainkan peran kuci dalam menetapkan waktu dan metode rekonstruksi jaringan lunak. Jika pencangkokan kulit atau coverage flap otot diperlukan, maka seharusnya dilakukan dalam minggu pertama sebelum kolonisasi sekunder dan fibrosis luka sempat terbentuk. Keinginan untuk mencegah infeksi nosokomial telah mendorong kebiasaan baru penanganan segera luka fraktur terbuka. (2)

 Penatalaksanaan

          Stabilisasi skeletal terlihat penting pada penyembuhan jaringan lunak. Jika dibandingkan dengan gips dan belat, fiksasi internal atau eksternal memberi akses lebih besar pada perawatan luka dan lebih efektif dalam mengontrol nyeri selama mobilisasi. Pada tingkat seluler, respon inflamasi diperpendek dan penyebaran bakteri dikurangi. Keputusan mengerjakan suatu model fiksasi bergantung pada pola fraktur, derajat kontaminasi, dan pilihan ahli bedah sendiri. (2)

          Metode fiksasi yang secara luas diterima adalah fiksasi eksternal. Kemajuan dalam disain telah membuat alat-alat ini, lebih stabil, dan lebih mudah untuk diaplikasikan. Fiksasi eksternal meminimalisir diseksi tambahan dan mencegah penyisipan implan metalik besar dengan memanfaatkan pin yang disisipkan perkutan yang saling terhubung dengan alat stabilisasi eksternal. Fiksasi ekternal mudah dilepaskan, diganti, dan disesuaikan, dan dapat dikombinasikan dengan fiksasi jenis lainnya. (2)

          Fiksator eksternal bukannya tidak bermasalah. Osteomielitis pin tract mulai jarang dengan perubahan pada disain dan teknik penyisipan pin. Namun, infeksi superfisial dengan drainase muncul kira-kira 30% dari keseluruhan pasien. Karena ukuran dan lokasinya, debridement dan penanganan berikutnya menjadi sulit. Pada tibia, misalnya, penyisipan pin melalui batas anteromedial subkutan mengurangi infeksi pin tract namun sering menyebabkan obstruksi terhadap akses bedah plastik dan rekonstruktif. Pada kasus lainnya, pola fraktur yang lebih luas mungkin membutuhkan kerangka lebih kompleks dengan gagasan akses terbatas berikutnya. Meskipun efektif dalam memberikan stabilisasi skeletal selama rekonstruksi jaringan lunak, fiksasi eksternal tidak ideal untuk mencapai union/penyatuan fraktur. Pembedahan tambahan, termasuk pencangkokan tulang atau konversi menjadi fiksasi internal, biasanya penting. (2)

 DISLOKASI        

          Dislokasi sendi didefinisikan sebagai dislokasi permukaan artikular tulang yang normalnya bertemu pada sendi. Subluksasi sendi, sebagai perbandingan, adalah ketika permukaan artikular tidak-saling berdekatan, pada derajat manapun. Dislokasi merupakan bentuk paling ekstrim dari subluksasi. (1)

          Dislokasi sendi besar (misal, bahu, siku, panggul, lutut, mata kaki) dianggap sebagai emergensi ortopedi. Dislokasi berkepanjangan membawa perkembangan pada kematian sel kartilago, artritis paska trauma, cedera neurovaskular, ankylosis, dan nekrosis avaskular. Cedera-cedera ini, yang lebih mungkin muncul pada pasien muda dan aktif, bisa memiliki akibat mematikan. (2)

          Kebanyakan dislokasi memiliki temuan fisik khusus. Setelah terjadi dislokasi, otot-otot di sekitar sendi secara khas menjadi spasme, terbatasnya range of motion. Hal ini sering menyebabkan tungkai mengambil posisi berbeda. Pada dislokasi panggul posterior, paha dipertahankan pada posisi fleksi dan berotasi secara internal. Tungkai yang terkena biasanya memendek dan tidak dapat diulurkan secara pasif. Dislokasi bahu anterior menyebabkan rotasi dan aduksi ektsternal posisi lengan. Dislokasi siku dan lutut (paling sering posterior) mengakibatkan ekstermitas terkunci pada ekstensi. Sebagaimana halnya semua cedera ekstermitas, pemeriksaan neurovaskular yang teliti harus dilakukan dan dicatat sebelum dan sesudah melakukan manipulasi. (2)

          Dislokasi paha membutuhkan diskusi khusus karena akibat ekstrim dari kegagalan mengenali dan mengalamatkan mereka tepat waktu. Cedera nervus panggul, kematian sel kartilago, dan nekrosis avaskular merupakan akibat dari tertundanya pengobatan terhadap jenis cedera ini. Dari semua ini, nekrosis avaskular merupakan yang paling berbahaya karena kecenderungannya menyebabkan kolapsnya caput femoris dan perkembangan penyakit sendi degenaratif berikutnya. Masalah ini menggiring pada penggantian panggul total atau fusi panggul pada usia muda. Setelah menjalani prosedur ini, operasi rekonstruktif mayor multipel menjadi umum selama masa hidup pasien. (2)

          Nekrosis avaskular biasanya berkembang dalam bentuk tergantung waktu. Pada posisi dislokasi, ketegangan pada pembuluh darah kapsular membatasi aliran darah ke caput femoris. Jika pinggul tetap berdislokasi selama 24 jam, nekrosis avaskular akan berakibat pada 100% kasus. Terdapat sebuah aksioma bahwa: “semakin lama sebuah sendi mengalami dislokasi, makin sulit melakukan reduksi nantinya”. (2)

          Reduksi dislokasi selalu membutuhkan sedasi intravena untuk mengurangi spasme otot pada sendi. Jika sebuah sendi tidak dapat direduksi oleh metode tertutup dengan sedasi yang cukup, maka anestesi umum dibutuhkan. Berbagai usaha dilakukan untuk mereduksi sendi dengan teknik tertutup di dalam ruang operasi dengan staf yang siap sedia melakukan reduksi terbuka jika prosedur teknik tertutup ini gagal.(2)

          Tujuan jangka panjang reduksi adalah untuk mengembalikan posisi anatomi dan fungsi normal. Reduksi juga meringankan nyeri akut, membebaskan pembuluh darah dan ketegangan nervus, dan bisa mengembalikan sirkulasi pada ekstremitas yang tidak terdapat pulsasi. (1)

35 Comments »

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Dislokasi itu keseleo itu, ya. Kemarin habis keseleo pergelangan tangan terus saya memanfaatkan jasa tukang pijat. Hasilnya lumayan sekarang sudah gak nyeri lagi

    Comment by alamendah — January 15, 2010 @ 6:22 am | Reply

    • silahkan
      yupz.. dislokasi sama dengan keseleo. terkadang untuk dislokasi ringan, memanfaatkan jasa tukang urut/tukan pijat bisa berhasil😀
      alhamdulillah kalau pergelangan tangan mas alamendah sudah tidak nyeri lagi

      Comment by ningrum — January 15, 2010 @ 7:57 am | Reply

  2. Dengan hormat disampaikan bahwa BlogCamp ( http://abdulcholik.com ) masih dalam tahap penyelesaian perbaikan karena landing gear mengalami gangguan.
    Beberapa tehnisi sedang kerja keras untuk mengembalikan kondisinya.
    Saya sementara berada di Posko Bhirawa ( http://mbahcholik.info ) dan saat ini sedang menggelar promosi kaos loreng.
    Silahkan para sahabat berkunjung sebelum waktu promosi habis.
    Salam hangat dari Bhirawa.

    Comment by Bhirawa — January 15, 2010 @ 4:33 pm | Reply

    • terima kasih pemberitahuannya Pakdhe🙂

      Comment by ningrum — January 16, 2010 @ 7:04 pm | Reply

  3. beberapa tahun lalu ketika liburan di solo, anak saya (waktu itu umur 10 th) lari2n..jatuh, tulang lengan tangan kanannya patah.
    untungnya (nah sll aja msh ada untung), jarak rumah ke rs ortopedi cuma 20 menit. cepat sekali proses pembebatan, tentu stlh difoto.
    bbrp minggu kmdn ditetapkan : sembuh.

    apakah bertambahnya umur si anak, tulang tsb semakin kuat atau ada kemungkinan “bekas” patahnya itu membuat tulang retak? mhn pencerahan bu dokter..

    Comment by kyaine — January 16, 2010 @ 9:23 am | Reply

    • model patahnya gimana Gus?
      menurut saya kalau memang dinyatakan sembuh, insya Allah tidak akan ada masalah. biasanya kalau nantinya akan ada masalah jangka panjang, dokter akan memberitahukan kepada pasien.
      yang biasanya menjadi masalah adalah patah di daerah ‘lempeng pertumbuhan tulang’ di ujung-ujung tulang panjang. jika patahan mengenai ‘lempeng pertumbuhan tulang’ maka perawatannya akan berbeda. patah yang mengenai ‘lempeng pertumbuhan tulang’ biasanya akan berakibat jangka panjang jika terapinya salah. masalah yang timbul biasanya gangguan pada pertumbuhan tulang.
      masalah bertambahnya umur si anak dan patah tulang : biasanya terapi patah tulang pada anak berbeda. misalnya ada patahan sederhana, bisa hanya diterapi dengan pembebatan. karena si anak yang masih dalam proses pertumbuhan. tulangnya nanti masih akan bertumbuh lagi, dan tentu tulangnya semakin kuat (jika tidak ada masalah dengan asupan kalsium selama masa pertumbuhan). jika diterapi dengan benar dan difollow-up sampai dinyatakan sembuh, insya Allah tidak ada masalah Gus.
      sekian yang saya tau Gus, semoga bermanfaat🙂

      Comment by ningrum — January 17, 2010 @ 6:05 am | Reply

  4. Infonya lengkap banget, sayang..banyak istilah yg aku tidak ngerti..hehe🙂

    Comment by Hary4n4 — January 16, 2010 @ 11:38 am | Reply

    • terima kasih sudah mampir🙂

      Comment by ningrum — January 16, 2010 @ 7:05 pm | Reply

  5. Uji komentar apakah di moderasi.
    salam hangat dari Surabaya

    Comment by BlogCamp — January 19, 2010 @ 2:41 pm | Reply

    • silahkan Pakdhe😀

      Comment by ningrum — January 19, 2010 @ 6:04 pm | Reply

  6. Good, komentar tidak dimoderasi. Jika ingin dimoderasi tinggal menyontreng dikolom yang tersedia di dashboard-setting-discussion.
    Salam hangat dari Surabaya

    Comment by Bhirawa — January 19, 2010 @ 2:43 pm | Reply

    • tp td komentar yg ini kok dihitung spam ya Dhe?? ada setting lainnya kah??
      dicek lagi ah..😀

      Comment by ningrum — January 19, 2010 @ 6:06 pm | Reply

  7. dokter..

    emm ortopedi itu tulan9kan?
    maksudnya,masih bisa nda seeh nambah tin99i hehehe

    Comment by wi3nd — January 20, 2010 @ 11:38 am | Reply

    • iya wi3nd..🙂
      ortopedi itu tentang tulang. hehehe usia wi3nd berapa? kalo udah lewat masa pertumbuhan, ya ndak bisa nambah tinggi dong😀

      (kalo masalah alat penambah tinggi badan itu, maaf wi3nd saya juga ndak gitu ngerti cara kerjanya hehehe😀 )

      Comment by ningrum — January 20, 2010 @ 5:36 pm | Reply

      • pernah dengar bisa. dengan cara meluruskan tulang2 yang bengkok, atau menjarangkan tulang-tulang yang terlalu rapat

        Comment by liza — January 21, 2010 @ 1:05 pm

      • terima kasih liza untuk informasinya🙂

        *mbak wi3nd, kata liza bisa tuh😀

        Comment by ningrum — January 22, 2010 @ 6:03 am

      • trimakasiiii untuk Liza dan dokter nin9rum ^^

        heeh klu da lewat dari masa pertumbuhan nda bisa, cma klu liat iklan kok nda maslah pake alat itu hehhe *korbaniklan.com*

        Comment by harumhutan — January 27, 2010 @ 11:01 am

      • iya.. banyak banget iklan buat nambah tinggi badan
        kalau saya sih terima aja yang dikasi Allah, berusaha bersyukur aja wi3nd hehehe😀
        (mudah2an ditambah dengan nikmat yang lain walau bukan berupa nikmat bertambahnya tinggi badan😀😀 )

        Comment by ningrum — January 27, 2010 @ 12:45 pm

  8. Selamat pagi sahabatku. Semoga anda sehat-walafiat dan menikmati hari istimewa ini.
    Saya datang untuk silaturahmi sambil membawa pesan.
    Apakah sahabat dapat menemukan nama yang bagus, gagah dan keren untuk blog saya.
    Jika dapat silahkan diajukan melalui kolom komentar di :
    http://abdulcholik.com/2010/01/24/blogcamp-ganti-nama/
    Ada sedikit tali asih menarik jika nama yang sahabat sarankan terpilih.
    Terima kasih, selamat beraktivitas.
    Salam hangat dari Surabaya.

    Comment by Pakde Cholik — January 24, 2010 @ 7:59 am | Reply

    • pagi Pakdhe😀
      insya Allah saya akan meluncur ke TKP secepatnya

      Comment by ningrum — January 24, 2010 @ 10:16 am | Reply

  9. dr kalo ortopedi itu mencakup nyeri tulang dan sendi, dan penyusutan tulang? kalau badan memendek dengan terapi bisa tambah tinggi ga ? walau usia sudah 30 th keatas, mohon penjelasannya.

    Comment by maya — February 27, 2010 @ 5:09 pm | Reply

    • dr kalo kita diperiksa seperti apa pemeriksaan tulangnya, cederanya sudah 10 tahun tapi efeknya baru terasa sekarang ? apakah bisa disembuhkan? osteopenia ataupun osteoporosis termasuk pemeriksaan ortopedi atau tidak

      Comment by maya — February 27, 2010 @ 5:20 pm | Reply

      • maksud mbak maya cederanya dimana? jika memang mengganggu, segeralah berkonsultasi ke dokter bedah ortopedi. setelah melewati beberapa tahapan pemeriksaan, mungkin akan bisa ditentukan apakah gangguan tersebut masih bisa diatasi oleh ahli bedah ortopedi atau tidak.
        osteopenia dan osteoporosis masih termasuk ruang lingkup ortopedi kok🙂

        Comment by ningrum — February 27, 2010 @ 7:35 pm

    • mbak maya.. ortopedi cakupannya luas, termasuk nyeri tulang dan sendi.
      maksud penyusutan tulang disini apa ya?
      ada beberapa alat yang bisa digunakan untuk menambah tinggi badan, namun saya sendiri tidak bisa menyarankan alat tersebut karena saya juga belum pernah mencobanya. secara teoritis, alat yang digunakan tersebut membantu meluruskan tulang punggung (vertebra).
      ada juga teori tentang menutupnya lempeng epifisis (lempeng pertumbuhan) di tahap usia tertentu sehingga pertumbuhan tulang terhenti. ini yang umum diketahui bahwa setelah usia dewasa, kita tidak dapat bertambah tinggi lagi.
      demikian penjelasan dari saya🙂

      Comment by ningrum — February 27, 2010 @ 7:32 pm | Reply

  10. saya mengalami nyeri di bahu bagian kiri, klo bertahan pada satu posisi, misal mengetik, maka bahu kiri saya terasa nyeri, hingga samapi ke lengan, hal ini terjadi sktr 4 tahun yg lalu, trs sy pijat, lumayan agak hilang, tp sekarang hal ini terulang lagi, bahkan tulang bagian belakang yg dekat dg lenganpun ikut nyeri, mohon petunjuk dokter harus bagaimana dan kemn hrs berobat, soalnya bingung, ini berkaitan dg otot apa tulang yg? terima kasih

    Comment by enny — November 23, 2010 @ 4:32 pm | Reply

    • rasa nyeri erat kaitannya dengan sistem saraf. jadi mungkin yang pertama kali bisa bu enny lakukan adalah pergi ke dokter spesialis neurologi/saraf. jika nyeri memang spesifik ke tulang atau sendi, nanti akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti x-ray photo atau CT-scan atau MRI. baru setelah itu, mungkin dokter spesialis neurologi akan merujuk ibu ke spesialis lain yang kompeten menangani masalah ibu.
      sekian

      Comment by ningrum — November 29, 2010 @ 7:40 am | Reply

  11. saya pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan fraktur pada pelvis, cruris dan clavicula. Oleh dokter orthopaedi, dilakukan internal fixation. Tapi karena mengalami infeksi, pada cruris dilakukan operasi ulang, dan dilakukan external fixation. Tahun 2009, semua pen telah dilepas dan saya sdh bisa berjalan kembali. Tapi hingga saat ini, saya masih merasa nyeri pada pelvis, cruris dan persendian lainnya.
    Dokter orthopaedi pernah menyarankan untuk dilakukan tindakan koreksi melalui internal fixation kembali pada cruris, tapi saya takut karena paling tidak 1 bulan sesudah operasi, saya harus menggunakan kruk terlebih dahulu.
    Yang ingin saya tanyakan, apakah tidak ada solusi lain untuk menangai kasus saya ini.

    Terima kasih atas infomasinya.

    Comment by desi — March 14, 2011 @ 3:15 pm | Reply

    • mbak desi bisa meminta second opinion pada dokter ortopedi lainnya.
      saya rasa mungkin ada alternatif lain, tapi ini memang bukan bidang saya..

      Comment by ningrum — March 19, 2011 @ 9:17 am | Reply

  12. assalamualaikum wr.wb.
    dulu 3 tahun yang lalu saya mengalami cedera pada bagian lutut pas di bagian paha ada benjolan yg sering membesar bila saya mengkonsumsi obat obatan…
    sampai sekarang pun masih begitu…
    setiap saya ingin menambah tinggi badan saya…selalu benjolan itu membengkak…stiap minum supplement peninggi….
    apakah penyakit saya ini yaaa..??
    mkasi…tolong kasih jawabannya yaaa.. ??
    trims

    Comment by adjimi3 — July 23, 2011 @ 1:23 pm | Reply

    • waduh mas adjimi3, saya tidak bisa menebak-nebak penyakit anda. coba mas adjimi3 pergi ke spesialis bedah ortopedi untuk kejelasan lebih lanjut yaaa..🙂

      Comment by ningrum — August 13, 2011 @ 3:43 pm | Reply

  13. Selamat siang,
    saya wanita berusia 40 tahun dan mengalami schiolosis 22 derajat terdiaknosa sejak 1 tahun yang lalu.tindakan yang saya jalani fisio terapi dengan getar & pemanasan. tapi sampai saat ini saya masih merasakan nyeri di tulang belakang saya juga kaki bagian kiri. untuk mengatasi nyeri itu saya olesi foltaren, minyak gosok dari cina sampai yg berasa hangat & mentol. tapi tidak juga menghilangkan rasa nyeri yang saya rasakan setiap hari.
    Pertanyaan saya ;
    1. Apakah nyeri di kaki kiri saya (satu titik) itu karena schiolosis ?
    2. Tindakan apa yang saya ambil agar bebas nyeri?

    Demikian pertanyaan saya, terima kasih

    Comment by Arifah Mekawati — September 15, 2011 @ 12:49 pm | Reply

  14. selamat soree….
    saya maU Nanya,anak umur 1 tahun ortopedi,di pergelangan kaki,apakah masih bisa di atasi

    Comment by Edo Ansyah — September 30, 2011 @ 2:51 pm | Reply

  15. kl di bdg konsult kmana ya??

    Comment by irawati — January 11, 2012 @ 3:30 pm | Reply

  16. I’m not sure why but this blog is loading extremely slow for me.
    Is anyone else having this issue or is it a issue on my end?

    I’ll check back later and see if the problem still exists.

    Comment by extreme dieting — August 30, 2014 @ 7:33 pm | Reply

  17. Waktu senin siang saya keseleo sampai ada pembengkakan d daerah mata kaki y dan rasa y linu sekali…buat pertongan pertama awal y di kompres sama air dingin (sambil nyari tukang urut) trs sma tukang urut y di benerin posisi engsel y..alhamdulilah stlah it ga skit linu lg..tp yg mau saya tnyakan apakah dislokasi y disertai fraktur dan berapa lama penyembuhan y?terima kaaih

    Comment by ve — September 11, 2014 @ 7:40 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: