catatan kecil

February 8, 2010

Perawatan Gigi & Mulut pada Pasien Infark Miokardium

Filed under: Gigi & Mulut,med papers — ningrum @ 6:21 pm

PENDAHULUAN

          Penyakit jantung mempunyai hubungan penting dengan praktek kedokteran gigi karena banyak alasan, termasuk resiko bahwa pengobatan oral bisa mengakibatkan endokarditis bakterialis, penjalaran nyeri insufisiensi koroner ke wajah bagian bawah dan mandibulum, dan bahaya anestesi umum dan anestesi lokal dengan adrenalin pada pasien demikian. (1)

          Penyakit kardiovaskular umum terjadi dan merupakan penyebab tunggal kematian paling sering di Inggris. Banyak pasien dengan penyakit jantung membutuhkan perawatan gigi. Penyakit jantung menjadi lebih sering dan lebih berat pada usia lanjut, namun pasien yang lebih muda juga dapat terkena. Endokarditis infektif adalah satu dari sedikit cara yang mana perawatan gigi dapat menyebabkan kematian pasien, tapi untungnya sangat jarang. Infark miokardium adalah penyebab kedaruratan utama pada pembedahan gigi dan pengenalan awal oleh ahli bedah mulut mungkin bisa menyelamatkan jiwa seseorang. (2)

Dalam istilah manajemen gigi, pasien dibagi kedalam 3 kelompok (Tabel 27.1) namun beberapa dapat terbagi lebih dari satu, dan pengobatan dengan obat tertentu dapat menciptakan permasalahan tambahan (Tabel 27.2). Itu harus dihargai karena itu saran manajemen berikutnya adalah generalisasi dan masing-masing kasus harus dipertimbangkan manfaatnya sendiri. (2)

Tabel 27.1 Manajemen gigi pada golongan utama penyakit jantung
  • Defek katup atau yang berhubungan dengannya (kongenital atau akibat demam rematik sebelumnya) atau pasien dengan penggantian prostetika, rentan terhadap endokarditis infektif.

Antibiotik profilaksis untuk melindungi, khususnya sebelum ekstraksi, merupakan keharusan

  • Penyakit jantung iskemik dengan atau tanpa hipertensi berat.

Pemeriksaan gigi rutin menimbulkan bahaya kecil namun resiko aritmia berbahaya harus diminimalisir.

Anestesi lokal pada dosis normal hanya memiliki bahaya teoritis, namun nyeri dan kecemasan harus diminimalisir.

Resiko utama berasal dari anestesi umum

  • Gagal jantung

Resiko utama berasal dari anestesi umum

 

Tabel 27.2 Beberapa implikasi obat pada gigi yang digunakan pada penyakit jantung
Obat Implikasi pada manajemen gigi
Metildopa, captopril Stomatitis
Nifedipine (dan analog), diltiazem Hiperplasia ginggiva
Antikoagulan Resiko perdarahan paska operasi yang berkepanjangan
Antihipertensi Potensiasi anestesi umum
Digoksin Meningkatkan resiko disritmia dengan halothane

 

TINJAUAN PUSTAKA

GEJALA-GEJALA PENYAKIT JANTUNG

          Walaupun terdapat banyak jenis patologi berbeda dari penyakit jantung, mereka menampakkan diri dengan gejala-gejala sama. Sesak napas dan nyeri dada merupakan gejala kelainan jantung yang paling lazim; palpitasi, pembengkakan pergelangan kaki, pingsan dan keletihan yang tidak seharusnya adalah keluhan yang kurang lazim dan kurang spesifik. (1)

          Sesak nafas adalah gejala penyakit jantung dan saluran nafas. Sesak nafas penyakit jantung disebabkan oleh payah jantung kiri, dan riwayat provokasi dan perjalanannya biasanya akan membedakan penyebab. Dispnea karena payah jantung pada permulaannya hanya ketika bergiat (effort), tetapi progresif, sehingga usaha gerak yang dibutuhkan untuk menyebabkan gejala menjadi kurang. Perkembangan dapat terjadi setelah beberapa minggu, bulan atau bahkan bertahun-tahun sampai pasien merasa bahwa ia tidak dapat berbaring terlentang (datar) karena sesak nafas, yang memaksanya menggunakan lebih banyak bantal. Stadium ini dinamakan “ortopnea”. Bahkan dengan bantal tambahan pasien mendapatkan bahwa ia tiba-tiba terbangun tengah malam dengan sesak nafas hebat sehingga ia harus bangun dari tempat tidur agar merasa lega. Gejala ini, paroxysmal nocturnal dyspnoe, kadang-kadang dapat merupakan manifestasi pertama penyakit jantung, tanpa sesak nafas bergiat (dyspnoe d’effort) yang mendahuluinya: ini juga dapat ditimbulkan oleh dokter gigi jika pasien dengan penyakit jantung dioperasi dengan berbaring datar. (1)

          Angina adalah gejala iskemia miokard dan biasanya dihubungkan dengan ateroma arteri koroner tetapi dapat juga terdapat pada penyakit katup aorta, anemia berat, takikardia dan penyakit apapun yang menyebabkan payah jantung kiri. Nyeri biasanya diprovokasi oleh bergiat tetapi bisa berkaitan dengan makanan, merokok atau emosi: kadang-kadang nyeri datang ketika pasien berbaring datar, angina dekubitus, atau ini dapat membangunkannya pada malam hari. Nyeri terasa di tengah dada dan diceritakan bervariasi sebagai “menggilas”, “seperti mengikat” atau “seperti beban berat”, tetapi tidak “tajam” atau “seperti pisau”. Nyeri menjalar ke atas ke tenggorokan dan sering dengan rasa tercekik; bisa juga penjalaran ke lengan, lebih sering ke lengan kiri, ke punggung pada beberapa kejadian dan ke mandibulum dan wajah sebelah bawah. Varian angina terdapat dimana nyeri hanya terdapat pada muka dan mandibulum. Dalam hal ini pasien menyangka bahwa nyeri berasal dari gigi, dan melupakan provokasi (hal yang merangsang nyeri). Angina mempunyai masa singkat, biasanya beberapa detik atau menit, dan jarang lebih lama daripada 20 menit. Nyeri yang berlangsung beberapa jam adalah gejala infark miokard. (1)

          Pembengkakan pergelangan kaki biasanya disebabkan retensi cairan karena banyak penyebab yang mungkin. Edema penyakit jantung seluruhnya di pertengahan bawah tubuh, tidak pernah terjadi pada muka, dan menetap bahkan setelah istirahat di tempat tidur. Ini berbeda dari retensi cairan pada penyakit ginjal yang memang terdapat pada muka karena pasien dapat berbaring datar, dan dari edema yang disebabkan posisi tubuh atau obstruksi vena pada tungkai, yang menghilang dengan berbaring. (1)

          Palpitasi bisa mempunyai banyak arti bagi pasien. Pengutaraan yang biasa adalah jantung “berhenti” atau “terbalik” dan merupakan sensasi yang dirasakan bila ada detak jantung tambahan (extra cardiac beat); biasanya berasal dari ventrikel yang normal dan bukan merupakan gejala penyakit jantung. Beberapa pasien menggunakan istilah ini untuk mengutarakan denyut jantung, dengan kegiatan atau emosi, yang normal dan bukan merupakan gejala penyakit jantung. Kemunculan tiba-tiba detak jantung cepat, disertai dengan sesak napas dan kadang-kadang dengan angina, adalah keluhan takikardia paroksismal, yang terdapat pada banyak bentuk penyakit jantung. (1)

TANDA-TANDA PENYAKIT JANTUNG

          Perabaan nadi pada pergelangan tangan dapat memberikan suatu kunci akan adanya penyakit jantung. Kecepatan, regularitas, kekuatan atau isi bisa abnormal pada banyak bentuk penyakit jantung. (1)

          Denyut jantung normal dalam keadaan istirahat adalah antara 72-80 per menit, walaupun kecepatan dapat bervariasi selama jangka waktu pendek pada respon terhadap emosi atau nyeri. Perlambatan denyut jantung (bradikardia) adalah gambaran umur tua, nadi 60 per menit adalah normal pada seseorang berumur 65 tahun, tetapi juga terdapat pada atlet muda dan pada remaja, tanpa bukti penyakit jantung apapun. Bradikardia dapat terjadi dengan penyakit nodus sinoatrial, ataupun sistem konduksi, khususnya dalam Bundel His. Bradikardia karena penyakit jantung biasanya kurang dari 50 per menit dan sering lebih lambat dari 40, tetapi dapat melambat sampai tingkat demikian dengan hipoksemia akut atau selama pengobatan dengan obat penghambat reseptor beta-adrenergik. (1)

          Jantung bertambah cepat pada keadaan-keadaan fisiologis seperti emosi dan kegiatan fisik. Takikardia juga terjadi tanpa penyakit jantung pada peningkatan dalam metabolisme, seperti hipertiroidisme atau dengan demam. (1)

          Takikardia sinus dapat secepat 120 per menit walaupun kecepatan bervariasi selama beberapa menit, bahkan sewaktu istirahat. Bila penyebabnya intrinsik atau merupakan penyakit jantung sekunder, seperti hipotiroidisme, kecepatan tetap tinggi selama jangka waktu lama, bahkan ketika istirahat. Kecepatan lebih dari 120 per menit, khususnya jika terus menerus dan konstan, selalu merupakan petunjuk adanya pacu jantung abnormal ataupun penyakit yang mendasarinya. Obat dapat mempercepat denyut jantung: adrenalin dan atropin karena efek autonomik dan analgetika dan sedativa dalam dosis terapeutik, mungkin karena penurunan tekanan darah. (1)

          Ketidakteraturan nadi bisa terjadi tanpa penyakit jantung. Variasi dengan pernafasan pada orang muda, yang menjadi cepat dengan inspirasi dan melambat selama ekspirasi (sinus arrythmia) adalah normal. Ekstrasistole (ekstra beats) baik dari atrium maupun ventrikel, biasa diamati pada pasien-pasien dengan jantung normal dan dapat terasa oleh si pasien dan pengamat, seolah-olah jantung berhenti sebentar dan mulai kembali. Walaupun biasanya tidak ada penyebab untuk ekstra-sistole, ini dapat terjadi pada perokok setelah penyakit virus, pada orang-orang yang sensitif terhadap kafein dalam kopi, dan pasien yang mendapat digoksin, ketika ini dapat merupakan tanda keracunan obat. (1)

          Ketidakteraturan nadi yang menetap tetapi tak menentu biasanya merupakan tanda fibrilasi atrium, yang hampir selalu disebabkan oleh penyakit jantung yang mendasari. Akselerasi jantung dengan kegiatan fisik ringan memperberat ketidakteraturan nadi pada fibrilasi atrium, tidak seperti ekstra-sistole yang biasanya menghilang. Kebanyakan pasien dengan fibrilasi atrium tidak merasakan abnormalitas, dan hanya mengalami palpitasi ketika gangguan irama muncul mendadak. Fibrilasi atrium terjadi dengan setiap bentuk penyakit jantung tetapi paling sering dengan penyakit katup mitral reumatik dan penyakit jantung iskemik. (1)

          Variasi dalam isi nadi kadang-kadang sukar dideteksi tetapi, biasanya, nadi yang bervolume kecil menunjukkan tekanan darah rendah atau curah jantung berkurang, setelah infark miokard dan dengan penyempitan (stenosis) katup aorta dan mitral. Nadi bervolume besar dapat ditemukan dengan tekanan darah meninggi, dengan peningkatan curah jantung (cardiac output), seperti pada hipertiroidisme, dengan inkompetensi katup aorta atau pengerasan aorta (ateroma) pada orang tua. (1)

          Pembengkakan pergelangan kaki dan tungkai bawah, yang melesek (pitting) pada penekanan, disebabkan oleh retensi cairan dalam ruang ekstraseluler yang disebut edema. Edema juga terdapat dengan penyakit hati, penyakit ginjal dan malnutrisi dengan defisiensi protein parah. Edema terjadi dengan obstruksi vena dan ketika kembalinya darah dari tungkai berkurang, seperti istirahat (inactivity) lama dan dengan problema ortopedik seperti astritis usus. Obat-obatan terutama steroid, dapat menyebabkan edema karena retensi cairan seluruh tubuh (generalisata), yang terdapat pada muka sebaik tungkai, seperti pada penyakit ginjal. (1)

          Sianosis jaringan lunak rongga mulut dapat terlihat pada beberapa pasien dengan penyakit jantung. Sianosis sentral, pada bibir, menunjukkan adanya penyakit jantung kongenital dengan pintasan kanan ke kiri atau kelainan paru parah dengan oksigenasi terganggu. Sianosis perifer, yang hanya pada tangan atau kaki, dapat terjadi tanpa penyakit jantung atau paru, disebabkan oleh stagnasi darah vena ataupun oleh pemasokan arteri yang buruk. (1)

          Peninggian tekanan vena dalam leher juga merupakan tanda penyakit jantung, yang mencerminkan peningkatan tekanan pada sisi kanan jantung karena payah jantung. Bila orang normal berbaring datar, vena jugularis dapat terlihat karena pembuluh ini berada setinggi atrium kanan dan mengembang dengan darah. Pada 45° ke bidang datar vena tidak terlihat kecuali dengan payah jantung atau sumbatan ke pengembalian darah vena dalam mediastinum superior. Pelebaran vena jugularis yang berdenyut (pulsatile) menunjukkan bahwa penyebabnya adalah jantung. Peninggian tekanan tanpa berdenyut terjadi dengan obstruksi. (1)

INFARK MIOKARD

          Infark miokard bukanlah merupakan permasalahan yang tak lazim. Dalam sebuah studi prospektif, 1,3% pasien berusia > 30 tahun dan 10% pasien berusia > 40 tahun yang menjalani pembedahan non-kardiak memiliki riwayat infark miokard sebelumnya. Proporsi penting populasi gigi berakibat memiliki infark. Penting untuk bisa mengenali gejala cedera miokard yang sedang berlangsung dan untuk menentukan riwayat masa lalu tentang cedera miokard. Disini terutama membahas tentang resiko terapi gigi pada pasien dengan infark miokard sebelumnya. (3)

DEFINISI

          Infark miokard adalah akibat dari cedera iskemik berkepanjangan pada jantung. Alasan yang paling sering bagi seseorang yang terkena infark miokard adalah penyakit arteri koroner progresif sekunder akibat aterosklerosis. (4)

GEJALA

          Pasien biasanya mendapat nyeri dada berat pada area substernal atau prekordial kiri. Nyeri bisa menjalar ke lengan kiri atau ke rahang dan bisa berhubungan dengan nafas pendek, palpitasi, mual atau muntah. Nyeri biasanya mirip dengan angina namun lebih panjang dan lama. (4)

KOMPLIKASI

          Komplikasinya termasuk artimia dan gagal jantung kongestif. Komplikasi bergantung pada sejauh mana infark miokard. Pasien dengan infark kecil biasanya sembuh dengan morbiditas minimal. Pasien dengan area cedera luas lebih mungkin menderita gagal jantung dan aritmia yang membahayakan-jiwa. (4)

PERHATIAN BAGI DOKTER GIGI DALAM MENANGANI PASIEN DENGAN INFARK MIOKARD

          Perhatian utama adalah gangguan iskemik jantung atau timbulnya aritmia selama prosedur gigi. Resiko ini lebih mungkin terjadi semakin dekat dalam waktu prosedur gigi ke infark miokard. Resiko ini juga meningkat dengan peningkatan kompleksitas prosedur gigi dan dengan penggunaan vasokonstriktor pada anestesi lokal. (4)

RIWAYAT INFARK MIOKARD DALAM PADA POPULASI GIGI

          Pada satu studi prospektif, 1,3% pasien diatas usia 30 tahun dan 10% pasien diatas usia 40 tahun mengalami bedah non-kardiak memberi riwayat infark miokard sebelumnya. (4)

RESIKO PADA PASIEN DENGAN RIWAYAT INFARK MIOKARD

  • Resiko tertinggi selama 6 bulan pertama setelah infark miokard
  • Resiko menengah selama periode 6-12 bulan setelah infark miokard
  • Resiko terendah setelah 12 bulan

Melakukan intervensi bedah pada pasien dengan infark miokard terbaru adalah adanya resiko rekurensi tertinggi jika dilakukan pada 6 bulan pertama setelah infark miokard. Bedah mayor selama periode ini membawa 50% resiko rekurensi infark miokard, dengan angka kematian yang sangat tinggi. (4)

EVALUASI MEDIS

          Pasien dengan infark miokard sebelumnya bisa mendapat beberapa komplikasi penyakit kardiovaskuler aterosklerotik seperti angina, gagal jantung kongestif, aritmia, atau konduksi abnormal. (3)

          Infark miokard terakhir mungkin merupakan faktor resiko terpenting untuk dipertimbangkan pada pasien dengan penyakit jantung sebelum terapi pembedahan apapun. Terdapat kemungkinan peningkatan aritmia selama anestesia dan stres, juga kemungkinan supresi miokard akibat anestesi. Laporan yang ada mengindikasikan bahwa 6 bulan pertama setelah infark miokard adalah masa-masa resiko tertinggi untuk terjadinya rekurensi. Pembedahan selama periode ini membawa resiko 50-80% rekurensi infark miokard, dengan mortalitas tinggi yang ekstrim. Studi terbaru menempatkan insiden pada 18-22%, tanpa keraguan hasil teknik bedah dan anestesi yang semakin baik dan pemantauan pasien perioperatif yang lebih baik. Mortalitas pasien dengan infark miokard perioperatif tetap tinggi, bahkan pada studi terbaru. Mortalitas tinggi khususnya jika infark yang baru itu terjadi pada area yang sama seperti infark sebelumnya. Karena setengah dari infark miokard perioperatif secara klinis tenang, dengan tanpa gejala nyeri dada, pemantauan perioperatif hati-hati dan evaluasi jantung berkala penting untuk meminimalkan komplikasi yang tidak diharapkan. (3)

          Setelah periode 6 bulan, insiden infark miokard perioperatif menurun secara progresif. Setelah 12 bulan pertama, insiden menjadi stabil kira-kira 5%. (3)

          Data yang tersedia kebanyakan berasal dari pasien yang sedang mengalami prosedur pembedahan mayor, dan sulit untuk meramalkan kemungkinan data-data ini terhadap stres gigi. Mungkin paling baik untuk keliru pada sisi keselamatan kejadian ini untuk mencegah morbiditas dan mortalitas yang tidak penting. (3)

 

EVALUASI GIGI

          Evaluasi gigi harus termasuk daftar riwayat lengkap seluruh tanggal infark miokard yang dialami pasien. Infark terbaru sangat menarik, karena sebagian besar menentukan kelayakan terapi gigi elektif. Dokter gigi terutama harus waspada terhadap infark miokard selama satu tahun terakhir karena kondisi tersebut meningkatkan bahaya prosedur pembedahan. (3)

          Anamnesa juga harus mendata komplikasi setelah infark miokard. Riwayat nyeri dada substernal juga harus menjadikan dokter gigi waspada terhadap kemungkinan angina. Dispnoe, ortopnea, dispnoe nokturnal paroksismal, dan edema perifer bisa mengindikasikan gagal jantung kongestif. Palpitasi atau sinkop harusnya mengesankan kemungkinan aritmia atau kelainan kondiksi. (3)

          Evaluasi gigi juga harus termasuk diskusi singkat dengan dokter pribadi pasien, jika dibutuhkan, untuk mendefinisikan status medis pasien. Pemeriksaan fisik terbaru, EKG, dan roentgenogram dada semuanya sumber informasi yang penting dimiliki sebelum terapi gigi awal. Abnormalitas apapun harus dialamatkan dengan tepat. (3)

MANAJEMEN GIGI

          Manajemen gigi pada pasien dengan infark miokard sebelumnya bergantung pada keparahan dan arah infark. Pasien yang mengalami infark miokard akut tanpa komplikasi bisa mentolerir prosedur-prosedur (tipe I sampai IV) durasi singkat setiap saat mengikuti kejadian. Prosedur yang menimbulkan tekanan lebih baik ditunda sampai 6 bulan setelah infark. Konsultasi dengan dokter disarankan. Tampaknya tidak terdapat kontraindikasi pada penggunaan epinefrin dalam konsentrasi 1:100.000 pada anestesi lokal pada pasien-pasien ini. Namun, protokol untuk meminimalkan penggunaan vasokonstriktor harus dilaksanakan. Komunikasi yang baik antara pasien-dokter gigi, mengurangi stres, dan pemantauan adalah penting  untuk manajemen tepat pada pasien paska infark. (3)

          Pasien yang mengalami komplikasi infark miokard atau yang penyembuhannya tidak stabil membutuhkan pendekatan konservatif selama 6 bulan pertama setelah infark. Pasien-pasien ini bisa menjalani pemeriksaan gigi tanpa protokol khusus (prosedur-prosedur tipe I) dan mendesak, prosedur-prosedur operatif sederhana (tipe II) setelah konsultasi dengan dokter pasien. Semua pengobatan gigi lainnya harus ditunda sampai pasien stabil selama setidaknya 6 bulan. Pasien pada kelompok dengan kedaruratan gigi ini harus ditangani sekonservatif mungkin. Namun, jika ekstraksi atau pembedahan dibutuhkan, dokter pasien harus berkonsultasi. Protokol meminimalkan stres harus digunakan. Jika memungkinkan, prosedur-prosedur tersebut terbaik dilakukan di sebuah rumah sakit, dengan pengawasan terus menerus. (3)

PENDEKATAN MEDIS PADA PASIEN DENGAN INFARK MIOKARD

  • Dalam 6 bulan pertama

Karena tingginya resiko rekurensi infark miokard dan aritmia pada pasien ini, pekerjaan dokter gigi harus dibatasi pada perawatan paliatif saja. Pengobatan gigi emergensi harus dibebaskan terkontrol, lingkungan dipantau. Penggunaan vasokonstriktor pada anestesi lokal relatif dikontraindikasikan. (4)

  • Dalam periode 6-12 bulan

Prosedur bedah sederhana dan non-bedah harus dilaksanankan dengan penggunaan bijaksana anestesi lokal. Lidocaine 2% dengan lidokain 1:100.000, dan mepivacaine 2% dengan levonordefrin 1:20.000, harus dibatasi sampai 2 Carpule untuk masing-masing pekerjaan. Prosedur elektif kompleks, restoratif  dan bedah, masih relatif dikontraindikasikan. (4)

  • Periode > 1 tahun yang lalu

Penting untuk diingat bahwa pasien-pasien ini masih memiliki penyakit arteri koroner yang penting meskipun mereka stabil sepanjang tahun sebelumnya. Mereka mampu, walaupun, lebih siap mentolerir prosedur pembedahan non-gigi dibandingkan pasien-pasien dengan infark miokard yang lebih baru terjadi. Jika pasien memiliki komplikasi infark miokard dengan gejala sisa seperti aritmia dan gagal jantung kongestif, perencanaan gigi harus diubah pada kenyataannya. Sebagai contoh pembuatan gigi palsu parsial yang mudah dilepas akan lebih disukai dibandingkan protese tanam periodontal kompleks. Lagi, pembatasan vasokonstriktor hingga 2 Carpule anestesi lokal konvensional dengan epinefrin 1:100.000 atau levonordefrin 1:20.000 atau yang sebanding masih direkomendasikan. (4)

Pasien dengan infark miokard 6-12 bulan sebelum diusulkan perawatan gigi

          Pasien-pasien ini bisa menjalani pemeriksaan gigi (prosedur tipe I) tanpa protokol khusus. Prosedur non-bedah (tipe II-III) dan prosedur bedah sederhana (tipe IV) dapat dilakukan setelah konsultasi dengan dokter pasien. Dengan pasien seperti ini, perhatian harus dilakukan untuk meminimalkan stres. Prosedur yang lebih lama harus dibagi menjadi beberapa prosedur pendek dan teknik sedasi tambahan harus digunakan. Janji pagi mungkin diperlukan. (3)

          Meskipun tidak terdapat data spesifik tentang gigi yang tersedia, morbiditas dan mortalitas sehubungan dengan pembedahan non-gigi masih meningkat selama periode ini. Karenanya, mungkin bijaksana untuk menunda prosedur pembedahan gigi menengah sampai lanjut (tipe IV-V) sampai pasien stabil selama lebih kurang 12 bulan setelah infark miokard. (3)

Pasien dengan infark miokard terakhir lebih dari satu tahun yang lalu

Penting untuk diingat bahwa pasien-pasien ini masih memiliki penyakit arteri koroner yang penting meskipun mereka stabil sepanjang tahun sebelumnya. Mereka mampu, walaupun, lebih siap mentolerir prosedur pembedahan non-gigi dibandingkan pasien-pasien dengan infark miokard yang lebih baru terjadi. Mereka dapat menjalani pemeriksaan gigi (prosedur tipe I) dan prosedur non-bedah dan bedah sederhana (tipe II-IV) dengan perhatian khusus terhadap teknik sedasi dan minimalisasi stres. Prosedur bedah menengah dan lanjut (tipe V-VI) hasur dilakukan hanya setelah konsultasi cermat dengan dokter mereka. (3)

Hospitalisasi elektif yang membolehkan pemantauan memadai harus dipertimbangkan untuk semua pembedahan gigi lanjut (prosedur tipe IV) dan menjadi wajib jika dibutuhkan anestesi umum. (3)

TINDAKAN PERAWATAN GIGI

Tindakan Non-Bedah (5)

  • Tipe I : Pemeriksaan radiografi, tindakan oral hygiene dan pengambilan cetakan model
  • Tipe II : Tindakan operatif dentistry sederhana, profilaksis supra-ginggival dan ortodontik
  • Tipe III : Tindakan operatif dentistry yang lebih dalam, pembersihan karang gigi yang lebih dalam dan tindakan endodontik 

Tindakan Bedah (5)

  • Tipe IV : Ekstraksi gigi, kuretase atau ginggivoplasti
  • Tipe V : Ekstraksi gigi yang multipel, ginggivektomi dan tindakan bedah dengan membuka flap
  • Tipe VI : Ekstraksi gigi untuk seluruh rahang, flap surgery, orthognatic atau implant dan bedah rahang

 

TINJAUAN KASUS

Pemeriksaan

          Seorang pasien laki-laki berusia 42 tahun yang pernah terkena “serangan jantung” datang untuk pengobatan gigi. Pasien tersebut memiliki riwayat hipertensi pada usia 26 tahun dan mendapat infark miokard pada usia 40 tahun. Pasien tersebut stabil setelah serangan tersebut, dengan tanpa gejala angina, gagal jantung kongestif, atau aritmia. Pasien  tersebut bekerja penuh dan aktif pada program rehabilitasi jantung. Pasien terakhir kali mengunjungi dokternya 4 bulan yang lalu dan dilakukan EKG yang menunjukkan “tanpa perubahan”. Pasien sedang menjalani terapi dengan nifedipin 30 mg empat kali sehari untuk hipertensinya. Kebutuhan perawatan giginya termasuk prosedur penyembuhan lengkap (tipe I-III), ekstraksi sederhana, bedah periodontal, dan pengangkatan molar ketiga dengan impaksi tulang vertikal.

          Pada pemeriksaan, pasien memiliki tekanan darah 130/84 dan nadi reguler 80 x/menit. (3)

Penatalaksanaan

          Pasien ditetapkan berada pada kategori resiko-rendah. Telah lebih setahun sejak ia mendapat infark miokard. Pasien tidak memiliki komplikasi utama dari infark, dan hipertensinya dibawah kontrol yang baik. Perawatan gigi rutin (prosedur non-bedah tipe I-III) dapat dilakukan menggunakan protokol normal. Dikarenakan penyakit jantung iskemik yang mendasarinya, maka stres harus diminimalisir. Sesi pengobatan yang panjang harus dibagi menjadi sesi-sesi yang lebih pendek. Jika sesuai, teknik sedasi harus digunakan. Prosedur bedah lanjut sederhana dan menengah (tipe IV dan V) dapat dilakukan pada pasien rawat jalan setelah konsultasi medis yang tepat. Hospitalisasi harus dipertimbangkan pada prosedur pembedahan lanjut (tipe IV), seperti pengangkatan impaksi yang sulit. Bagi pasien yang cemas, hospitalisasi mungkin penting untuk prosedur periodontal ekstensif (pembedahan tipe V). (3)

About these ads

12 Comments »

  1. suitt, suitttt.. Ningrum! mantab pembahasannya.
    itu mahasiswa fkg keenakan, ighhhh :P
    pokoknya jempol deh, bundo simpan niyh ya.

    di Puskesmas, bundo harus lebih teliti lagi karena ada beberapa pasien yang menyembunyikan riwayat penyakitnya hanya gara-gara mereka tidak sabar pengen segera giginya dicabut. klo ud kecolongan ky gitu giliran bundonnya yang jantungan :D

    Comment by nakjaDimande — February 8, 2010 @ 7:31 pm | Reply

    • duh duh Bundo-ku jangan sampe jantungan dong :D
      marahin aja pasiennya Bundo, kalo ketauan menyembunyikan penyakit hehehe

      Comment by ningrum — February 8, 2010 @ 8:16 pm | Reply

    • duh bundo jangan sampai jantungan yaaa… mampir ke dapur mimi dulu buat ngobrol bertiga sama mba ningrum, biar tenang dulu :D

      Comment by funky fun-T mimi allegra — February 24, 2010 @ 2:01 pm | Reply

      • wah, diundang Mimi mampir ke dapurnya :D
        bisa request masakan ndak? xixixixixi….

        Comment by ningrum — February 24, 2010 @ 6:45 pm

  2. dok,dikantor serin9 ban9ed kejadian,menin99al tiba tiba sehabis olahra9a,baru ajah kmaren sehabis main tenis,entah knapa lan9sun9 menin99al,lah pada ka9et smuanya! sebelumna abis maen futsall ju9a dead..

    apakah jantun9 ju9a bisa menjadi pemicunya :roll:

    aku ra muden9 pisan masalah iki :D

    Comment by wi3nd — February 9, 2010 @ 8:54 am | Reply

    • sudden death seringnya memang disebabkan masalah jantung wi3nd, salah satunya infark miokardium itu.
      ada penjelasan lebih lanjut disini :D

      Comment by ningrum — February 10, 2010 @ 8:09 am | Reply

  3. wah bengong…. saya ga ngerti istilah-istilahnya…. saya numpang nyundul artikel aja

    Comment by sauskecap — February 12, 2010 @ 4:09 pm | Reply

    • makasih mbak udah mampir :D

      Comment by ningrum — February 12, 2010 @ 9:33 pm | Reply

  4. mba dokter huibatt deh, penjelasannya detil sekali (hya iyalahhhh, dokter geto! kalo gag detil ghuawatss :D)

    mungkin itu mengapa mimi gajadi dokter kali yah, ga bisa detil hihihi… pasien malah pada kabur ga percaya dokternya gegegeggggg….

    Comment by funky fun-T mimi allegra — February 24, 2010 @ 2:03 pm | Reply

    • blushing ah jadinya….. :D Mimiiiii…
      kalo ga detil, nanti dokter gigi yang kasi tugas ini bisa marah hehehehe (ketauan ini bagian dari tugas coass)
      seorang teman coass meminta tolong pada saya untuk membuat tulisan ini (katanya judul ini susah, makanya dia minta tolong).
      saya posting dengan harapan bisa memberi manfaat untuk orang banyak :D

      Mimi bisa detil kok.. buktinya kalo nulis resep itu kan harus detil sekali, harus dijelaskan sampai berakhir dengan makanan lezat menggugah selera :D :D

      Comment by ningrum — February 24, 2010 @ 6:41 pm | Reply

      • wah baik sekali ya…. untuk bantu temannya, sekaligus tuk sharing dengan orang banyak! two thumbs up! Insya Allah pasti berguna mba.. ^_^

        owiyah, btw uda jadi bikin kue lumpur kah..??? ;)

        amiin.. semoga bermanfaat

        hihihi… kue lumpur-nya belum sempat juga :D padahal Mama tiap hari ngomong gini, “duh, pengen coba buat kue lumpur”, tapi ndak jadi2 juga hehehe.. perlu konsentrasi penuh mungkin untuk mencoba-coba :D

        Comment by funky fun-T mimi allegra — February 24, 2010 @ 9:31 pm

  5. sumber nya dari mana ya ini dok :D

    Comment by fkg unsoed — March 9, 2013 @ 10:33 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: