catatan kecil

May 15, 2010

Papiloma Laring

Filed under: med papers,THT — ningrum @ 6:24 am
Tags:

PENDAHULUAN

Tumor jinak laring mencakup sejumlah besar lesi. Mereka sering hadir dengan suara serak, perubahan kualitas suara, stridor, globus (sensasi benjolan di tenggorokan)2 dan disfagia. Selain itu, mengingat bahwa suara serak adalah gejala yang sering, fisiologi berbicara akan dibahas.1

Tumor jinak laring termasuk hemangioma papiloma juvenil, fibroma, chondroma, myxoma, dan neurofibroma. Mereka mungkin muncul di bagian manapun dari laring. Gejala termasuk suara serak, suara berat, dispnoe, aspirasi, disfagia, nyeri, otalgia (sakit pada telinga), dan hemoptisis. Diagnosis berdasarkan visualisasi langsung atau tidak langsung dari laring, dilengkapi oleh CT. Pengangkatan tumor mengembalikan suara, integritas fungsional dari sfingter laring, dan jalan napas. Lesi kecil dapat dipotong dengan cara endoskopi dengan menggunakan laser CO2 dan anestesi umum. Lesi lebih besar meluas melampaui kerangka laring sering membutuhkan pharyngotomy atau laryngofissure.3

Papiloma adalah tumor epitel jinak yang disebabkan oleh infeksi human papilloma virus (HPV). Mereka adalah neoplasma jinak yang paling sering mengenai pangkal tenggorokan dan saluran pernapasan bagian atas. Degenerasi ganas untuk karsinoma sel skuamosa dapat terjadi, tapi sangat jarang. Prevalensi keseluruhan berkisar dari 2 per 100.000 orang dewasa hingga 4,5 per 100.000 anak. Jadi, lebih dari 10.000 orang Amerika menderita papillomas pernapasan.4

Papiloma laring mirip dengan veruka pada kulit (kutil biasa) dan kondiloma acuminata, atau kutil genital. Infeksi virus ini terjadi dimana-mana. Menggunakan metode deteksi yang sangat sensitif seperti reaksi rantai polimerase (PCR), estimasi infeksi HPV dengan kisaran 60-80% pada wanita usia subur. Mengapa beberapa orang yang terinfeksi menimbulkan ekspresi klinis papiloma (pernapasan, genital, atau kulit) dan beberapa orang tidak pernah menjadi penyakit klinis masih belum pasti. Kenyataannya adalah bahwa beberapa individu tampak rentan terhadap virus dan beberapa lainnya tidak. Meskipun beberapa orang bisa mendapatkan virus ini melalui kontak intim, virus dapat menular dari ibu ke janin dan papilomatosis laring (pernafasan) TIDAK dianggap sebagai penyakit menular seksual. 4

Karena kecenderungan mereka untuk muncul kembali setelah pembedahan, gangguan ini sering disebut sebagai papilomatosis pernapasan berulang (RRP). Gangguan ini lebih lanjut diklasifikasikan menjadi RRP onset dewasa (AORRP) dan RRP onset juvenil (JORRP). Klasifikasi ini berasal dari pola-pola klinis yang berbeda yang mempengaruhi anak-anak dan orang dewasa.4

DEFINISI

Pertumbuhan berkutil di pangkal tenggorokan, biasanya pada pita suara. Suara serak terus-menerus adalah gejala umum. Papilomatosis laringeus melibatkan banyak pertumbuhan berkutil pada pita suara, paling sering pada anak-anak. Rekurensi yang, sayangnya, sering terjadi. Remisi dapat terjadi setelah beberapa tahun. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bayi yang tertular virus papiloma manusia (HPV) selama kelahiran melalui saluran vagina dari seorang ibu dengan kutil kelamin (yang disebabkan HPV). Setiap tahun, sekitar 300 bayi lahir dengan virus pada pita suara mereka karena penularan dari ibu.5

SINONIM

Papilomatosis respiratorius rekuren, papilomatosis laring, papilomatosis (laring) juvenil, papilomatosis dewasa. 6

EMBRIOLOGI, ANATOMI DAN FISIOLOGI LARING

Embriologi Laring

Faring, laring, trakea dan paru-paru merupakan derivat foregut embrional yang terbentuk sekitar 18 hari setelah konsepsi. Tak lama sesudahnya, terbentuk alur faring median yang berisi petunjuk-petunjuk pertama sistem pernapasan dan benih laring. Sulkus atau alur laringotrakea menjadi nyata pada sekitar hari ke 21 kehidupan embrio. Perluasan alur ke arah kaudal merupakan primordial paru. Alur menjadi lebih dalam dan berbentuk kantung dan kemudian menjadi dua lobus pada hari ke 27 atau ke 28. bagian yang paling proksimal dari tuba yang membesar ini akan menjadi laring. Pembesaran aritenoid dan lamina epitelial dapat dikenali menjelang 33 hari, sedangkan kartilago, otot dan sebagian besar pita suara (korda vokalis) terbentuk dalam 3 atau 4 minggu berikutnya.7

Hanya kartilago epiglotis yang tidak terbentuk hingga masa midfetal. Karena perkembangan laring berkaitan erat dengan perkembangan arkus brankialis embrio, maka banyak struktur laring merupakan derivat dari aparatus brankialis. 7

Gangguan perkembangan dapat berakibat berbagai kelainan yang dapat didiagnosis melalui pemeriksaan laring secara langsung. Laring sendiri mungkin kecil atau mungkin terdapat berbagai tingkatan selaput di antara korda vokalis sejati. Jarang, lengan posterior dari sulkus laringotrakea yang berbentuk T dapat menetap, meninggalkan celah laring terbuka antara esofagus dan trakea. Laringomalasia suatu tingkat abnormal flasiditas pada kerangka laring, sehingga laring menjadi kolaps pada waktu respirasi, merupakan kelainan kongenital laring yang paling sering tampak sebagai penyebab untuk stridor pada neonatus. Hal ini hampir selalu merupakan kondisi jinak yang sembuh spontan dengan pertumbuhan dan perkembangan. 7

Anatomi Laring

Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran napas bagian atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah.8

Batas atas laring adalah aditus laring, sedangkan batas bawahnya ialah batas kaudal kartilago krikoid. Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hyoid, dan beberapa buah tulang rawan. Tulang hyoid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula dan tengkorak oleh tendo dan otot-otot. Sewaktu menelan, kontraksi otot otot-otot ini akan menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot ini bekerja untuk membuka mulut dan membantu menggerakkan lidah. 8

Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglottis, kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis dan kartilago tritisea. 8

Kartilago krikoid dihubungkan dengan kartilago tiroid oleh ligamentum krikotiroid. Bentuk kartilago krikoid berupa lingkaran. 8

Terdapat 2 buah (sepasang) kartilago aritenoid yang terletak dekat permukaan belakang laring, dan membentuk sendi dengan kartilago krikoid, disebut artikulasi krikoaritenoid. 8

Sepasang kartilago kornikulata (kiri dan kanan) melekat pada kartilago aritenoid di daerah apeks, sedangkan sepasang kartilago kuneiformis terdapat didalam lipatan ariepiglotik, dan kartilago tritisea terletak didalam ligamentum hiotiroid lateral. 8

Pada laring terdapat 2 buah sendi, yaitu artikulasi krikotiroid dan artikulasi krikoaritenoid. 8

Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum seratokrikoid (anterior, lateral dan posterior), ligamentum krikotiroid medial , ligamentum krikotiroid posterior, ligamentum kornikulofaringal, ligamentum hiotiroid lateral, ligamentum hiotiroid medial, ligamentum hioepiglotika, ligamentum ventrikularis, ligamentum vokale yang menghubungkan kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid, dan ligamentum tiroepiglotika. 8

Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan otot-otot intrinsic. Otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan, sedangkan otot-otot intrinsik menyebabkan gerak bagian-bagian laring tertentu yang berhubungan dengan gerakan pita suara. 8

Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak diatas tulang hyoid (suprahioid), dan ada yang terletak dibawah tulang hyoid (infrahioid). Otot-otot ekstrinsik yang suprahioid adalah m. digastrikus, m. geniohioid, m. stilohioid, dan m. milohioid. Otot yang infrahioid adalah m. sternohioid, m. omohioid dan m. tirohioid. 8

Otot-otot ekstrinsik laring yang suprahioid berfungsi menarik laring ke bawah, sedangkan yang infrahioid menarik laring ke atas. 8

Otot-otot intrinsik laring ialah m. krikoaritenoid lateral, m. tiroepiglotika, m. vokalis, m. tiroaritenoid, m. ariepiglotika dan m. krikotiroid. Otot-otot ini terletak di bagian lateral laring. 8

Otot-otot intrinsik laring yang terletak di bagian posterior, ialah m. aritenoid transversum, m. aritenoid oblik dan m. krikoaritenoid posterior.

Sebagian besar otot-otot intrinsik adalah otot aduktor (kontraksinya akan mendekatkan kedua pita suara ke tengah) kecuali m. kriko-aritenoid posterior yang merupakan otot abductor (kontraksinya akan menjauhkan kedua pita suara ke lateral) 8

Rongga Laring

Batas atas rongga laring (cavum laryngis) ialah aditus laring, batas bawahnya ialah bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya ialah permukaan belakang epiglottis, tuberkulum epiglotik, ligamentum tiroepiglotik, sudut antara kedua belah lamina kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya ialah membran kuadrangularis, kartilago aritenoid, konus elastikus dan arkus kartilago krikoid, sedangkan batas belakangnya adalah m. aritenoid transversus dan lamina kartilago krikoid. 8

Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare, maka terbentuklah plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara palsu). 8

Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan, disebut rima glotis, sedangkan antara kedua plika ventrikularis, disebut rima vestibuli. 8

Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi rongga laring dalam 3 bagian, yaitu vestibulum laring, glotik dan subglotik. 8

Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat di atas plika ventrikularis. Daerah ini disebut supraglotik. 8

Antara plika vokalis dan plika ventrikularis, pada tiap sisinya disebut ventrikulus laring Morgagni. 8

Rima glotis terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian interkartilago. Bagian intermembran ialah ruang antara kedua plika vokalis, dan terletak di bagian anterior, sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago aritenoid, dan terletak di bagian posterior. 8

Daerah subglotik adalah rongga laring yang terletak dibawah plika vokalis. 8

Persarafan Laring

Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n. laringis superior dan n. laringis inferior. Kedua saraf ini merupakan campuran saraf motorik dan sensorik. 8

Nervus laringis superior mempersarafi m. krikotiroid, sehingga memberikan sensasi pada mukosa laring dibawah pita suara. Saraf ini mula-mula terletak di atas m. konstriktor faring medial, disebelah medial a. karotis interna dan eksterna, kemudian menuju kornu mayor tulang hioid, dan setelah menerima hubungan dengan ganglion servikal superior, membagi diri dalam 2 cabang, yaitu ramus eksternus dan ramus internus.

Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar m. konstriktor faring inferior dan menuju ke m. krikotiroid, sedangkan ramus internus tertutup oleh m. tirohioid terletak di sebelah medial a. tiroid superior, menembus membran hiotiroid, dan bersama-sama dengan a. laringis superior menuju ke mukosa laring. 8

Nervus laringis inferior merupakan lanjutan dari n. rekuren setelah saraf itu memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren merupakan cabang dari n. vagus. 8

Nervus rekuren kanan akan menyilang a. subklavia kanan dibawahnya, sedangkan n. rekuren kiri akan menyilang arkus aorta. Nervus laringis inferior berjalan diantara cabang-cabang a. tiroid inferior, dan melalui permukaan mediodorsal kelenjar tiroid akan sampai pada permukaan medial m. krikofaring. Disebelah posterior dari sendi krikoaritenoid, saraf ini bercabang 2 menjadi ramus anterior dan ramus posterior. Ramus anterior akan mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian lateral, sedangkan ramus posterior mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian superior dan mengadakan anastomosis dengan n. laringis superior ramus internus. 8

Pendarahan

Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang yaitu a. laringis superior dan a. laringis inferior. 8

Arteri laringis superior merupakan cabang dari a. tiroid superior. Arteri laringis superior berjalan agak mendatar melewati bagian belakang membran tirohioid bersama-sama dengan cabang internus dari n. laringis superior kemudian menembus membran ini untuk berjalan ke bawah di submukosa dari dinding lateral dan lantai dari sinus piriformis, untuk memperdarahi mukosa dan otot-otot laring. 8

Arteri laringis inferior merupakan cabang dari a. tiroid inferior dan bersama-sama dengan n. laringis inferior berjalan ke belakang sendi krikotiroid, masuk laring melalui daerah pinggir bawah dari m. konstriktor faring inferior. Didalam laring arteri itu bercabang-cabang, memperdarahi mukosa dan otot serta beranastomosis dengan a. laringis superior. 8

Pada daerah setinggi membran krikotiroid a. tiroid superior juga memberikan cabang yang berjalan mendatari sepanjang membran itu sampai mendekati tiroid. Kadang-kadang arteri ini mengirimkan cabang yang kecil melalui membran krikotiroid untuk mengadakan anastomosis dengan a. laringis superior. 8

Vena laringis superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar dengan a. laringis superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior. 8

Pembuluh limfa

Pembuluh limfa untuk laring banyak, kecuali di daerah lipatan vokal. Disini mukosanya tipis dan melekat erat dengan ligamentum vokale. Di daerah lipatan vokal pembuluh limfa dibagi dalam golongan superior dan inferior. 8

Pembuluh eferen darii golongan superior berjalan lewat lantai sinus piriformis dan a. laringis superior, kemudian ke atas, dan bergabung dengan kelenjar dari bagian superior rantai servikal dalam. Pembuluh eferen dari golongan inferior berjalan ke bawah dengan a. laringis inferior dan bergabung dengan kelenjar servikal dalam, dan beberapa diantaranya menjalar sampai sejauh kelenjar supraklavikular. 8

Fisiologi Laring

Walaupun laring biasanya dianggap sebagai organ penghasil suara, namun ternyata mempunyai tiga fungsi utama – proteksi jalan nafas, respirasi dan fonasi. Kenyataannya, secara filogenetik, laring mula-mula berkembang sebagai suatu sfingter yang melindungi saluran pernapasan, sementara perkembangan suara merupakan peristiwa yang terjadi belakangan. 7

Perlindungan jalan napas selama aksi menelan terjadi melalui berbagai mekanisme berbeda. Aditus laringis sendiri tertutup oleh kerja sfingter dari otot tiroaritenoid dalam plika ariepiglotika dan korda vokalis palsu, disamping aduksi korda vokalis sejati dan aritenoid yang ditimbulkan oleh otot intrinsik laring lainnya. Elevasi laring dibawah pangkal lidah melindungi laring lebih lanjut dengan mendorong epiglotis dan plika ariepiglotika ke bawah menutup aditus. Struktur ini mengalihkan makanan ke lateral, menjauhi aditus laringis dan masuk ke sinus piriformis, selanjutnya ke introitus esofagi. Relaksasi otot krikofaringeus yang terjadi bersamaan mempermudah jalan makanan ke dalam esofagus sehingga tidak masuk ke laring. Disamping itu, respirasi juga dihambat selama proses menelan melalui suatu refleks yang diperantarai reseptor pada mukosa daerah supraglotis. Hal ini mencegah inhalasi makanan atau saliva. 7

ETIOLOGI

Papiloma laring merupakan penyakit yang jarang namun merupakan neoplasma pediatri paling umum yang ditemukan di laring. Penyebab penyakit ini adalah human papilloma virus (HPV). Jenis virus paling umum yang telah diidentifikasi adalah HPV tipe 6 dan 11. Tipe lain yang muncul tidak begitu sering adalah tipe 16 dan 18; tipe-tipe ini telah dihubungkan lebih dekat kepada perubahan malignansi. HPV merupakan virus kecil, mengandung DNA, kapsid virus tanpa-pembungkus dengan DNA untai ganda yang panjangnya 7900 pasang basa. Menurut teori saat ini, HPV memasuki sel lapisan basal epitel yang mengalami trauma. Amplifikasi DNA HPV kemudian terjadi, kebanyakan pada lapisan sel epitel bagian atas. 9,14,15,16,17

Beberapa studi telah menetapkan hubungan antara infeksi HPV serviks pada ibu dengan insiden papiloma laring pada anak. Terdapat peningkatan resiko berkembangnya papiloma laring pada kelahiran pertama kali, anak yang dilahirkan melalui vagina dari ibu berusia remaja. Pada kasus papiloma laring neonatal, perkembangan penyakit dapat terjadi didalam uterus. Pada papiloma laring onset dewasa, HPV dapat ditularkan secara seksual. Pasien dengan papiloma laring memiliki partner seks lebih signifikan sepanjang hidupnya dan frekuensi seks oral lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol usia dewasa yang tidak terinfeksi. Juga mungkin saja pada papiloma laring onset dewasa, infeksi muncul pada masa kanak-kanak dan mengalami aktivasi ketika ketahanan imun terganggu. Vambutas dkk membuat postulasi bahwa mungkin terdapat defek dalam respon pejamu yang dimediasi sel T normal yang memudahkan progresi menjadi penyakit aktif. Snowdon dkk mendeteksi tingkat IL-2 dan reseptornya yang rendah secara signifikan pada pasien dengan papilomatosis respiratoar rekuren dibandingkan dengan anak-anak normal. Data ini mendukung kemunculan penyimpangan respon imun dimediasi sel pada anak-anak dengan papiloma laring. 9

EPIDEMIOLOGI

Papiloma laring diakui sebagai penyakit anak-anak dan orang dewasa. Kejadiannya diantara anak-anak di Amerika Serikat diperkirakan 4,3 per 100.000 anak-anak – yang berarti sekitar 2.400 kasus baru setiap tahun. Untuk pasien di Denmark, insiden adalah 3,84 per 100.000 per tahun. Tingkat kalangan anak-anak adalah 3,62 per 100.000, sedangkan onset kasus dewasa terjadi pada tingkat 3,94 per 100.000. 9,14

Papiloma laring oleh Lindeberg dkk diklasifikasikan ke dalam bentuk juvenil dan dewasa. Bentuk juvenil yang paling sering didiagnosis antara 3,3 dan 4 tahun. Distribusi diantara anak laki-laki dan perempuan kira-kira sama. Puncak bentuk dewasa dalam dekade ketiga kehidupan
dan memiliki kecenderungan pada laki-laki. Dalam dekade terakhir, sebuah klasifikasi menggantikan persyaratan “juvenil dan “dewasa” dengan “agresif” dan “non-agresif” diusulkan oleh Doyle dkk dan mungkin lebih tepat untuk penggunaan klinis. Papiloma laring didefinisikan sebagai “agresif” pada pasien yang membutuhkan total 10 atau lebih prosedur, dan 3 atau lebih prosedur selama periode 1 tahun, atau menyebar ke daerah sub-glotis. Hal ini diyakini bahwa bentuk agresif penyakit dikaitkan dengan infeksi HPV 11. 9

GAMBARAN KLINIS

Pada awalnya gejala-gejala yang ditemukan berupa gangguan fonasi berupa suara yang serak pada anak, gejala bisa lebih berat sehingga suara tangisan anak dapat terdengar abnormal hingga anak tidak dapat bersuara sama sekali. Bila papiloma sangat besar dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan yaitu batuk, sesak, ngorok saat menghirup nafas. 10,14,15,16,17

Sumbatan pada saluran nafas dapat dibagi menjadi 4 bagian menurut kriteria Jakson: 10

  • Jakson I ditandai dengan sesak, stridor (ngorok) inspirasi ringan, penarikan pada sela iga.
  • Jakson II sesuai dengan gejala Jakson I tetapi diperberat dengan retraksi supra dan infra klavikula, sianosis ringan dan pasien tampak gelisah.
  • Jakson III sesuai dengan gejala jakson II ditambah dengan retraksi interkostal, epigastrium dan sianosis lebih berat.
  • Jakson IV, sesuai dengan gejala jakson III ditambah dengan wajah yang tegang dan terkadang gagal napas.

DIAGNOSIS

Secara umum, diagnosis papiloma laring adalah sesuatu yang bersifat klinis yang berdasarkan pada penampilan kasar dari lesi saluran napas, dan dikonfirmasi oleh histopatologi. Lesi dari bagian anterior hidung, rongga mulut, dan oropharynx dapat dilihat dengan mudah pada pemeriksaan. Laringoskopi cermin tidak langsung dapat digunakan untuk mengidentifikasi lesi supraglotik dan glotik, tapi dokter sangat bergantung pada nasopharyngolaryngoscopy fleksibel untuk identifikasi dan deskripsi kebanyakan lesi. Sebagian besar pasien yang memiliki lesi saluran napas bagian atas memerlukan microlaryngoscopy suspensi dengan anestesi umum untuk mengevaluasi tingkat lesi sepenuhnya dan mendapatkan biopsi, namun pasien dewasa dapat mentolerir pilihan biopsi di pusat pengaturan dengan anestesi lokal. 11

Papiloma laring memiliki predileksi letak anatomi yaitu pada sambungan antara epitel skuamosa dan siliata, dan dengan demikian, mengikuti pola atau distribusi yang dapat diprediksi. Pola pertumbuhan papiloma, tingkat kekambuhan, dan tingkat remisi, bagaimanapun, tidak bisa ditebak. Secara umum, papiloma terjadi paling sering pada vestibuli limen, permukaan nasofaring dari palatum molle, di zona tengah dari permukaan laring epiglotis, batas atas dan bawah ventrikel, permukaan bawah dari pita suara, carina, dan di taji bronkus. Secara kasar, papiloma berwarna merah muda atau putih, lesi sessile atau eksofitik, dasar bertangkai atau luas, dengan proyeksi seperti daun pakis kecil (Gbr. 6).

Beberapa kelompok dari papiloma dapat dilihat pada satu atau lebih tempat di jalan napas; papiloma laring juga dapat bermanifestasi sebagai hamparan epitel papilomatosa melalui distribusi yang luas (Gbr. 7). Dibawah pembesaran, seperti dalam suspensi microlaryngoscopy, vaskular punktata jelas menutupi permukaan papiloma. Secara histologis, papiloma laring terdiri dari proyeksi beberapa epitel skuamosa berlapis non-keratinisasi seperti-jari yang melapisi inti vaskularisasi jaringan ikat stroma (Gbr. 8). Epitel basal bisa jadi normal hingga hiperplastik, dan diferensiasi selular bisa normal atau abnormal dengan ekspresi variabel dan produksi keratin. Secara umum, angka mitosis terbatas untuk lapisan basal. Lesi jarang mengalami degenerasi ganas, namun virus papiloma adalah onkogenik dan berbagai tingkat atypia adalah biasa. 11

PAPILOMA LARING JUVENIL

Modus yang tepat bagi transmisi human papilloma virus (HPV) tidaklah jelas. Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa papiloma laring juvenil terjadi saat terpaparnya saluran atas aerodigestive anak pada leher rahim dan vagina ibu dengan infeksi genital human papilloma virus (HPV) selama kelahiran per vaginam normal. Mengapa papiloma laring juvenil berkembang hanya pada beberapa persen anak-anak yang lahir secara abdominal dari ibu dengan kondiloma genital aktif, tidak dipahami dengan baik. 12

Statistik 12

  • Pada tahun 1998, Shah dkk melaporkan risiko anak tertular papiloma laring rekuren secara abdominal ditularkan dari seorang ibu yang memiliki lesi kondilomatosa aktif sekitar 1 dalam 400.
  • 50% dari ibu yang anak-anaknya terkena dampak pernah memiliki kondiloma sebelumnya atau kondiloma aktif.
  • Human papilloma virus (HPV) telah ditemukan di usapan nasofaring dari 1/3 bayi yang lahir dari ibu dengan HPV uterus aktif.
  • Di Amerika Serikat, 1 juta kasus papiloma genital per tahun terwujud sebagai kondiloma acuminata melibatkan serviks, vulva, penis, atau lokasi anogenital lainnya.
  • Secara klinis infeksi human papilloma virus (HPV) jelas telah dicatat pada 1,5-5% wanita hamil di Amerika Serikat. Human papilloma virus (HPV) telah ditemukan hingga 20% dari mukosa bebas-penyakit di daerah anogenital perempuan hamil.

Kemungkinan faktor yang memberi kontribusi pada perkembangan HPV 12

  • Status sistem kekebalan tubuh anak
  • Lamanya waktu di jalan lahir
  • Banyaknya virus di jalan lahir
  • Kelahiran abdominal: Satu kasus laporan anak yang lahir dengan kelahiran sesar (tanpa ketuban pecah dini) yang mendapat papiloma respiratorius rekuren, lemparan keraguan tentang teori jalan lahir.
  • Adanya trauma lokal

PAPILOMA LARING DEWASA

Untuk papiloma laring dewasa, kontak oroanal atau orogenital dianggap sebagai kemungkinan modus penularan virus terhadap virus laten menjadi aktif. Sepuluh persen dari laki-laki dan perempuan yang aktif secara seksual tanpa bukti klinis penyakit memiliki human papilloma virus (HPV) yang diidentifikasi pada penis atau leher rahim dengan analisis hibridisasi Southern blot, menunjukkan adanya infeksi laten. 12

Mekanisme virus 12

  • Setelah ditransmisikan ke saluran napas, human papilloma virus (HPV) menanamkan diri sendiri di lapisan basal dari mukosa, di mana DNA virus masuk sel dan menghasilkan asam ribonukleat (RNA) untuk memproduksi protein virus, mirip dengan mekanisme replikasi virus lainnya. Tindakan ini mendorong transformasi mukosa untuk pembentukan papiloma.
  • Pada tahun 1993, Kashima dkk melaporkan peningkatan risiko papiloma pada saluran napas di lokasi dari epitel skuamosa atau metaplasia skuamosa.

PENATALAKSANAAN

Berbagai macam bentuk pengobatan telah digunakan untuk menghilangkan papilomas laring seperti bedah, kemoterapi, atau terapi antibiotik. Saat ini, operasi pengangkatan tumor tradisional dan teknik lain, bedah laser karbon dioksida, keduanya digunakan. Bedah laser karbon dioksida menggunakan sinar laser intens sebagai alat bedah. 13,16,17

Begitu mereka telah diangkat, tumor ini memiliki kecenderungan untuk kembali secara tak terduga. Bukanlah hal biasa bagi pasien untuk membutuhkan operasi berulang. Pada beberapa pasien, pembedahan mungkin diperlukan setiap beberapa minggu untuk menjaga pernapasan tetap terbuka, sedangkan yang lain mungkin membutuhkan pembedahan hanya sekali setahun. Dalam kasus-kasus paling ekstrim di mana pertumbuhan tumor agresif, tracheotomy mungkin dilakukan. Tracheotomy adalah suatu prosedur pembedahan dimana irisan dilakukan di bagian depan leher pasien dan tabung pernapasan (tabung trach) dimasukkan melalui lubang, yang disebut stoma, ke dalam trakea (tenggorokan). Daripada bernapas melalui hidung dan mulut, pasien sekarang akan bernapas melalui tabung trach. Meskipun tabung trach menjaga jalan pernapasan tetap terbuka, dokter mencoba untuk mengangkatnya secepat mungkin. Namun, mungkin ada beberapa pasien perlu mempertahankan tabung trach menerus untuk menjaga jalan napas tetap terbuka. Selain itu, karena tabung trach seluruhnya terkirim kembali atau sebagian mengembuskan udara dari pita suara, pasien mungkin merasa sulit untuk berbicara. Dengan bantuan seorang spesialis suara atau ahli patologi bahasa-berbicara pasien belajar bagaimana menggunakan kembali suara itu. 13

Terapi Medis (Non-Bedah)

Beberapa terapi medis telah dicoba sebagai terapi ajuvan pada papiloma respiratorius rekuren. Efektivitas aktual dari setiap laporan terapi medis untuk papiloma respiratorius rekuren adalah sulit untuk ditentukan karena agresivitas yang mendasari penyakit ini kurang dipahami. Penyakit pasien mungkin berlalu dan memudar tanpa alasan yang diketahui dengan jelas. Sampai aspek penyakit ini lebih terdefinisi, setiap keberhasilan atau kegagalan terapi medis harus diperiksa dengan hati-hati. Selain masalah ini, terapi medis untuk papiloma memiliki peluang terbaik untuk memimpin terobosan dalam pengobatan papiloma respiratorius rekuren. 12

  • Interferon
  • Terapi fotodinamik
  • Indole-3-carbinol
  • Ribavirin
  • Asiklovir
  • Metotreksat
  • Isotretinoin
  • Vaksin mumps
  • Cidofovir
  • Vaksin dan obat stimulan imun

Terapi Bedah

Eksisi oleh laser karbon dioksida adalah metode pengangkatan yang paling umum digunakan. 12

v     Laser CO2 12

  • Laser karbon dioksida diserap dengan baik oleh sebagian besar jaringan tubuh karena kadar air yang tinggi dari jaringan.
  • Karena laser ini tidak terlihat oleh mata manusia, sebuah berkas bertujuan helium-neon penting untuk aplikasi yang tepat.
  • Peneliti telah melaporkan komplikasi lebih sedikit dan kurangnya cedera jaringan lokal dengan suspensi microlaryngoscopy dengan laser karbon dioksida, dibandingkan dengan bedah kasar dalam jumlah besar tanpa mikroskop.
  • Laser karbon dioksida harus digunakan secara tepat (yang berperforma terbaik dengan micromanipulator microspot) untuk mencegah parut mukosa, fibrosis, dan kelainan jaringan laring.
  • Pada anak-anak, laser karbon dioksida efektif untuk menghilangkan papiloma pada supraglotis,  laring glotik, dan laring subglotik. Lesi trakea di bawah bidang pertengahan trakea lebih sulit untuk laser. Laryngoskopi harus diubah untuk memberantas penyakit pada laring dan trakea.
  • Lesi laring yang besar sekali paling baik ditangani dengan teknik microlaryngeal dan kemudian menggunakan laser karbon dioksida atau microdebrider bedah.

v     Bedah microdebrider 12

  • Bedah microdebrider baru-baru ini telah digunakan untuk papiloma laring dan trakea.
  • Pertama digunakan dalam bedah ortopedi, bedah microdebrider (bahasa sehari-hari disebut sebagai “hummer”) digunakan secara luas oleh ahli otolaryngology untuk memindahkan jaringan pada sinus, terutama untuk polip. Microdebrider menggunakan mekanisme sedotan dan potongan untuk pengangkatan jaringan, memungkinkan ahli bedah untuk mengangkat jaringan dengan cepat, sambil memberikan visualisasi yang baik di area tersebut karena penyedotan sekresi selama pemotongan.
  • Sebuah pisau laring panjang sekarang tersedia untuk digunakan pada laring dan trakea.
  • Ketika papiloma secara bersamaan muncul pada laring dan trakea, penggunaan bedah microdebrider adalah metode terbaik untuk mengangkat keduanya tanpa harus mereposisi pasien. Namun, pada orang dewasa, microdebrider sulit untuk digunakan pada pertengahan trakea-ke-distal karena pisau itu terlalu pendek untuk mencapai melewati bagian atas trakea.
  • Lesi trakea distal dan bronkus lebih sulit dibersihkan dengan teknik apapun. Teknik yang digunakan termasuk penggunaan pengangkatan forsep optik melalui bronkoskopi kaku atau penggunaan berbagai jenis laser (misalnya, karbon dioksida, kalium-titanyl-fosfat [KTP]) dengan microfiber menuruni sisi kiri bronkoskop.
  • Hindari tracheotomy di semua kondisi karena dapat menyebabkan penyebaran penyakit. Jika perlu, ini berarti melakukan operasi setiap 2-4 minggu.

KOMPLIKASI

Perkembangan penyakit dapat terjadi pada lokasi dari laring ke trakea sampai paru-paru. Weiss dan Kashima melaporkan penyebaran penyakit trakea sampai hingga 26% pasien dan penyebaran bronkopulmonalis pada kurang dari 5%. Penyakit paru dimanifestasikan sebagai massa padat atau kistik pada radiografi polos atau CT-scan dada.12

Perkembangan papiloma menjadi karsinoma sel skuamosa (SCC) dapat terjadi namun jarang. Karsinoma sel skuamosa (SCC) paling sering terjadi dengan penyebaran paru distal. Apakah ini merupakan transformasi dari tumor atau akibat dari metaplasia atau displasia skuamosa diciptakan oleh eksisi bedah berulang penting dari penyakit yang tidak diketahui. Dalam satu kasus, perubahan pada human papilloma virus (HPV) dari jenis yang diamati pada lesi jinak (yaitu, tipe 6) menjadi jenis saat ini pada lesi ganas (yaitu, tipe 16) terjadi ketika papiloma yang diubah menjadi karsinoma sel skuamosa (SCC). 12

Komplikasi penyakit dan prosedur bedah termasuk stenosis posterior glotik, jaringan anterior glotik atau stenosis (paling umum, pada 20-30% kasus), stenosis subglotik, atau stenosis trakea. Komplikasi intraoperatif termasuk pneumotoraks dan terbakarnya jalan napas, yang dapat mengakibatkan cedera trakea atau cedera paru. Tundalah bedah perbaikan komplikasi sampai penyakit diam selama beberapa tahun. 12

Karena penyakit atau pengobatan, suara seorang anak tidak pernah bisa sama lagi. 12

PROGNOSIS DAN HASIL AKHIR

Pasien dengan papilomatosis pernapasan berulang memiliki sajian beragam. Bentuk agresif remaja tampaknya berulang lebih cepat dan lebih memerlukan intervensi bedah. Bentuk dewasa biasanya disembuhkan dengan beberapa prosedur bedah. Sebuah bentuk agresif dari papilomatosis pernafasan berulang yang diamati pada orang dewasa berperilaku sama seperti bentuk juvenil pada anak-anak. 12

Bagaimanapun juga, anak-anak membutuhkan eksisi bedah sesering setiap 2-4 minggu. Kadang-kadang, anak-anak mengalami sebanyak 150 total operasi, hingga penyakit itu menjadi diam pada masa remaja. Banyak dari anak-anak dengan penyakit parah akhirnya mendapatkan komplikasi yang tercantum di atas. 12

Setelah diagnosis dibuat pada anak-anak, prognosis bervariasi. Penyakit ini harus dimonitor untuk menentukan agresivitasnya; berbagai teknik telah digunakan untuk menyempurnakannya. Beberapa ahli bedah menindaklanjuti pasien di klinik, menilai kebutuhan prosedur pembedahan berikutnya berdasarkan gejala obstruksi jalan napas pasien dan pada apa yang diamati dengan laringoskopi serat optik fleksibel. Bagi anak-anak yang kemungkinan besar akan memiliki penyakit agresif, bronkoskopi rutin awal di ruang operasi pada interval 4 – 6 minggu dapat digunakan untuk menilai perkembangan penyakit. Praktik ini mengurangi kebutuhan pemeriksaan serat fiber di klinik saat terjaga yang dapat menambah stres orang tua dan pasien berhubungan dengan penyakit yang memang sudah membuat stres. 12

Karena anak-anak dan orang dewasa memiliki agresivitas yang berbeda dari penyakit, efek terapi medis pada orang dewasa tidak dapat diramalkan kemungkinannya pada anak-anak. 12

KESIMPULAN

Papiloma laring adalah pertumbuhan berkutil di pangkal tenggorokan, biasanya pada pita suara. Papiloma laring merupakan penyakit yang jarang namun merupakan neoplasma pediatri paling umum yang ditemukan di laring. Penyebab penyakit ini adalah human papilloma virus (HPV). Jenis virus paling umum yang telah diidentifikasi adalah HPV tipe 6 dan 11.

Papiloma laring diakui sebagai penyakit anak-anak dan orang dewasa. Kejadiannya diantara anak-anak di Amerika Serikat diperkirakan 4,3 per 100.000 anak-anak – yang berarti sekitar 2.400 kasus baru setiap tahun. Papiloma laring oleh Lindeberg dkk diklasifikasikan ke dalam bentuk juvenil dan dewasa. Bentuk juvenil yang paling sering didiagnosis antara 3,3 dan 4 tahun. Distribusi diantara anak laki-laki dan perempuan kira-kira sama. Puncak bentuk dewasa dalam dekade ketiga kehidupan dan memiliki kecenderungan pada laki-laki.

Pada awalnya gejala-gejala yang ditemukan berupa gangguan fonasi berupa suara yang serak pada anak, gejala bisa lebih berat sehingga suara tangisan anak dapat terdengar abnormal hingga anak tidak dapat bersuara sama sekali. Sumbatan pada saluran nafas dapat dibagi menjadi 4 bagian menurut kriteria Jakson.

Berbagai macam bentuk pengobatan telah digunakan untuk menghilangkan papilomas laring seperti bedah, kemoterapi, atau terapi antibiotik. Saat ini, operasi pengangkatan tumor tradisional dan teknik lain, bedah laser karbon dioksida, keduanya digunakan. Bedah laser karbon dioksida menggunakan sinar laser intens sebagai alat bedah.

Pasien dengan papilomatosis pernapasan berulang memiliki sajian beragam. Bentuk agresif remaja tampaknya berulang lebih cepat dan lebih memerlukan intervensi bedah. Bentuk dewasa biasanya disembuhkan dengan beberapa prosedur bedah.

26 Comments »

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Namanya, Papiloma Laring, terdengar indah tetapi ternyata nama penyakit.
    hehehehehe

    Comment by alamendah — May 15, 2010 @ 7:41 am | Reply

    • hehehe… jangan sampai menamai apapun dengan papiloma laring ya mas😀

      Comment by ningrum — May 19, 2010 @ 6:11 am | Reply

  2. bu dokterrrrrrr, meski jarang, tapi serem juga penyakitnya ya, bayangangin kalau sempet ndak bisa bersuara

    ufhhhhhh mirip papilus bangsa kupu-kupu🙂

    Comment by jumialely — May 15, 2010 @ 10:08 am | Reply

    • iya mbak lely.. serem😀

      papilus itu apa ya?
      *bingung mode ON

      Comment by ningrum — May 19, 2010 @ 6:11 am | Reply

  3. mbak ning emang hebat😀

    Comment by kang ian — May 15, 2010 @ 11:08 am | Reply

    • hebat apanya dek? yang hebat tu, yang nemu penyakit ini😀

      Comment by ningrum — May 19, 2010 @ 6:12 am | Reply

  4. fast reding,sama ama radang dok?

    btw ikutan kontes fiksi mini yuks?

    biar lebih fresh😀

    kami tunggu di http://akubunda.wordpress.com/2010/05/16/wi3nda/

    trimkasi🙂

    Comment by wi3nDa — May 18, 2010 @ 9:40 am | Reply

    • hehehe ..
      udah kesana wi3nd.. ning baru tau apa itu fiksi mini😀😀

      cari inspirasi dulu ah..😉

      Comment by ningrum — May 19, 2010 @ 6:15 am | Reply

  5. wah bagus banget papernya kak. ada daftar referensinya ngga? ntar kalo masuk THT liza mau pilih ini

    Comment by liza — May 27, 2010 @ 8:41 pm | Reply

    • ada za…. nanti kk kirim via email aja ya😉

      Comment by ningrum — May 30, 2010 @ 7:43 pm | Reply

  6. masyaAlloh..
    trims atas papernya bu dok🙂
    bertambah lagi pengetahuan sy tentang kesehatan, blog yg bagus.

    Comment by muslimahbelajar — June 3, 2010 @ 11:13 pm | Reply

    • alhamdulillah🙂
      terima kasih kembali

      Comment by ningrum — June 5, 2010 @ 11:08 pm | Reply

  7. mbak…aku boleh minta referensinya jg ga…lg bikin tugas mbak…makasih ya mbak sebelumnya (hanifa_fekri@yahoo.com)

    Comment by hani — June 8, 2010 @ 8:18 pm | Reply

    • cek di email ya hani🙂

      Comment by ningrum — June 9, 2010 @ 9:08 am | Reply

  8. wah..ternyata kakak seorang dokter yaaa
    Kak, saya dan beberapa teman di Panti juga ingin menjadi dokter karena pekerjaan dokter itu sungguh sangat mulia.
    Doakan ya kak
    salam manis dari Batam

    Comment by Annaura — June 14, 2010 @ 7:38 am | Reply

    • alhamdulillah, iya betul annaura🙂
      ayo semangat belajar.. jangan lupa rajin berdoa juga, insya Allah dengan niat yang baik akan bisa terlaksana🙂

      Comment by ningrum — June 14, 2010 @ 6:19 pm | Reply

  9. hmmm..kak kebetulan ne judul makalahny sama, boleh minta referensiny ng kak?klo bole krm ke email y kak…makasi hehe…

    Comment by w12k — August 21, 2010 @ 4:54 pm | Reply

    • insya Allah.. ditunggu saja ya🙂

      Comment by ningrum — August 22, 2010 @ 7:56 pm | Reply

  10. Artikel yang sangat menarik, boleh minta referensinya ??? klo ada referensi terkait Otolaringologi yang lebih umum…..
    makasih.

    Comment by em zoel — November 18, 2010 @ 1:31 pm | Reply

    • boleh aja.. tunggu via email ya…

      Comment by ningrum — November 22, 2010 @ 6:54 pm | Reply

  11. makasih y buat kepustakaanny..
    mantap..
    btw boleh minta refernsiny?

    Comment by irsan — December 12, 2010 @ 8:25 pm | Reply

    • 🙂

      Comment by ningrum — December 28, 2010 @ 6:37 am | Reply

  12. Kakz,, bagus maakalahnya,,
    kira” bole minta referensinya kakz?
    makasih..🙂

    Comment by fen — February 19, 2011 @ 6:34 am | Reply

  13. oke bgt boleh minta pdf and refenrensinya ga?? thanks before

    Comment by sherly — October 4, 2011 @ 1:45 pm | Reply

  14. Kak…
    q dah kena papiloma laring sejak umur 2 1/2 taun sampai sekarang umur 20 taun..
    apa papiloma laring itu gak ada obatnya ya??
    jalan satu-satunya cuma operasi ya??
    sampai sekarang q udah operasi 47kali..
    besok mau operasi ke 48kali..
    katanya yang bisa menyembuhkan diri kita sendiri ya??
    dengan antibodi yang kuat maka virus papilomanya akan hilang..
    bener gak???

    Comment by Gerry — November 1, 2011 @ 8:29 am | Reply

  15. Kak…
    q dah kena papiloma laring sejak umur 2 1/2 taun sampai sekarang umur 20 taun..
    apa papiloma laring itu gak ada obatnya ya??
    jalan satu-satunya cuma operasi ya??
    sampai sekarang q udah operasi 47kali..
    besok mau operasi ke 48kali..
    katanya yang bisa menyembuhkan diri kita sendiri ya??
    dengan antibodi yang kuat maka virus papilomanya akan hilang..
    bener gak???

    Comment by Gerry — November 1, 2011 @ 8:30 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: